YoonHae

All posts tagged YoonHae

SARANGHAMNIDA

Published Mei 13, 2013 by pyrossoneff

 

Prolog : “Bukan coklat jika dari awal proses itu hanya mengenal satu rasa yaitu manis. Begitupula dengan perasaan, manusia itu adalah makhluk komplek yang mengalami berjuta pengalaman. Sama halnya dengan cinta. Bukan cinta jika kita hanya menginginkan sebuah kata sanjungan untuk mempermanis hubungan”

Tak terasa satu tahun terlewati. Kisah cinta yang semanis coklat itu masih terjalani. Walau badai menghadang, dua sejoli itu tak ada niatan untuk melepaskan tali ikatan yang telah lama mereka rajut.

Akan tetapi, suatu hubungan itu terjalin akan penyatuan dua pikir yang berbeda arah. Perbedaan yang lebih indah dari mulainya kebersamaan. Sampai kapan kah mereka akan bertahan dengan perahu yang mulai bergetar akan riuhnya ombak lautan.

Calista, gadis itu nampak mulai bosan dengan hubungan yang ia jalani. Bukan karena gadis itu mulai tak mencintai sang pria. Aiden adalah lelaki yang bijaksana, humoris, sigap dan tegas. Atau ada penganggu dalam hubungan mereka seperti datangnya orang ketiga. Tidak, karena Calista ataupun Aiden adalah tipekal makhluk setia.

Mungkin gadis berkacamata itu mulai ragu akan waktu yang membawa kesempatan. Ia tak ingin suatu hubungan yang dekat tapi terasa seperti menjalani hubungan jarak jauh. Yang beratus-ratus mil jauhnya.

Ia ingin merasakan apa yang para sahabatnya rasakan. Misalnya kisah pacar pertama ala Salma mungkin, yang nampak menikmati setiap detik waktu yang bergulir. Sayang, itu hanya sebuah mimpi yang sulit tergapai olehnya.

Aiden, nama pacar Calista itu memilih untuk tidak sekolah di SMA yang sama dengan Calista. Pria bertubuh sedikit subur dan memiliki kulit sawo matang itu memilih melanjutkan di sekolah SMK. Sekolah mereka tak jauh hanya 100 meter jika diukur dengan sebuah perkiraan. Tetapi kurikulum pendidikan yang berbeda memaksa mereka harus menghabiskan hampir separuh waktunya untuk dunia sekolah masing-masing.

Menurut Seohyun, sahabat dari Calista, cinta itu sebuah pengorbanan yang harus mau merasakan getar-getir perasaan setiap harinya juga ketulusan akan suatu perasaan yang mengikat kita kepada suatu objek. Dan pacaran itu adalah suatu hubungan pendekataan antara dua sudut pandang dan pikir yang berbeda dan harus berani mengambil resiko.

Calista paham benar akan hal itu, dia bisa menerima Aiden disisinya juga bukan semata-mata ia menyukai lelaki yang sejenis dengannya. Dalam artian ia dan Mario sama-sama memiliki tingkah hyperaktif dan humoris. Ia berani memilih Aiden karena dia yakin dengan perasaannya yang mengatakan jika Aiden adalah lelaki terpantas untuk disampingnya saat ini setalah ayahanda tercinta. Ia ingin mengenal lebih dekat tentang pria itu.

Tetapi kini berbeda, frekuensi antara romantisme dan pertengkaran jumlahnya berbeda. Mereka lebih sering bertengkar. Karena kurangnya pemahaman akan kondisi masing-masing.

“Ta, besok jalan yuk”. Begitulah sepintas isi pesan singkat dari Aiden. Sekali lagi, hanya desahan kasar yang Carista hembuskan. Ia menggletakan kepalanya yang terasa berat lalu menaruh sembarangan phonsel hitam kesukaannya di atas meja.

“Ada apa lagi Ta”, tanya Jessica. Ia begitu cemas melihat teman sebangkunya terlihat uring-uringan.

Calista masih enggan menjawab. Ia hanya mempoutkan bibir yang membuat pipinya sedikit menggembung.

Tak begitu lama, Seohyun datang kemudian duduk didepan meja Jessica dan Calista. Ia mengambil phonsel samsung yang tergeletak tanpa terurus dari sang empunya.

“Aiden sms nih, gak niat bales Klee?”.

Yang ditanya segera mengangkat kepala kemudian menggeleng lemah. Ia melepas kacamata minus yang setia bertengger di atas hidungnya. Kemudian mengusap wajahnya frustasi.

“Aku bingung- “.

“Bingung kenapa Ta? Ini kesempatan bagus buat kalian ngobrol berdua secara empat mata. Ini saatnya kamu ungkapin apa yang gak kamu sukai dari sikap dan tindakan Aiden yang memperkeruh hubungan kalian akhir-akhir ini”, ujar Seohyun dengan bijak.

“Aku ada latihan variasi barisan PKS besok”.

“oh, kan kamu tinggal bilang acaranya diundur weekend aja”.

“Gak semudah itu Jess, Sabtu sore si gendut yang latihan”.

Jessica diam, gadis itu bingung ingin menjawab apa lagi, ia takut jika akan membuat Calista lebih galau.

“Kamu yang dateng ke tempat dia aja gimana? Gak mungkin kan mereka latihan 1 jam full tanpa istirahat. Walau itu 10 menit, kan cukup buat melepas kangen”, ujar Jessica lagi.

“kalau kaya gitu, kenapa gak dia aja yang kesini. Kenapa harus aku yang mempermalukan diri buat dia yang udah mulai gak perhatian?”.

“Ca, cinta itu adalah dukungan. Bukan Cuma ajang mesra-mesraan. Jessica nyaranin gitu kan karena dia paham kamu sama Aiden itu lagi dalam posisi yang sama-sama ingin diperhatikan. Kamu itu udah kenal hampir semua temen-temen dia yang ikut TUB kan? Sementara dia kalau datang kesini, malunya pasti akan lebih gede karena disini dia gak deket sama semua temen kamu”, imbuh Seohyun. “Sekarang keputusan ada dikamu. Pingin memperkeruh keadaan karena mentingin ego, atau menjernihkan dengan melawan ego ? yang kutahu, lelaki itu gak suka sesuatu yang ditutup-tutupin”.

Setelah memberi ceramah panjang Seohyun pun menggandeng Jessica keluar kelas. Kedua sahabat itu membiarkan Carista berperang dengan pikiran dan hati kecilnya.

Mentari telah meninggi dan berubah warna menajadi jingga. Empat gadis remaja tengah duduk santai didepan rumah sebuah kost. Salah satu dari mereka tengah asyik bermain gitar dan satu dari lainnya memilih menyenandungkan lagu terimakasih cinta dari Afgan. Mereka begitu menikmati dinginnya angin senja sambil menatap ribuan bintang di langit.

Suara canda gurau itu begitu menggelegar sebelum suara bising motor Vario orannye memecah senyum yang mulai merekah.

“Carista !”, ucap Sooyoung dengan ekspresi kaget.

“Gays, aku bikin cookies. Menurut kalian gimana nih?”.

Tanpa fikir panjang Yuri, Seohyun dan Jessica mencomot cookies yang terlihat menggoda dalam sebuah kotak manis berwarna coklat muda.

“Ini tidak buruk, lumayanlah kalau mau dititipkan di kantin kejujuran”, ucap Jessica dengan innoncent.

‘Pletaak’

Suara jitakan sempurna membuat Jessica mengerang dan mengusap dahinya yang baru dijitak Calista.

“Kalau enak besok mau kukasih buat Aiden. Bukan kantinnya orang males antre”.

“Ciyee yang udah akur, sukses ya buat besok. Cookiesnya enak kok. Semangat!”.

Awkward. Suasana yang mebosankan untuk Calista. Dia sangat merutuki moment seperti ini. Untuk beberapa menit, dia hanya diam. Bibirnya tak kuasa untuk terbuka. Persendiannya seakan tak berfungsi, jalan fikirnya seakan lumpuh seketika.

“Eumb- “,ucap keduanya.

“kau-“, ucap merka bersama.

“Maafkan aku karena selama ini telah jadi gadis yang posesif. Maaf karena aku gak bisa menghargai keputusan kamu dan sekali lagi maaf sudah diemin kamu”, ujar Calista sambil menunduk. Pipinya memanas. Pelupuk matanya mencoba menahan air mata yang siap meluncur hebat.

“Maaf juga aku gak bisa adil antaara beberapa prioritas yang harus kujalani dan itu mbuat kamu jadi korban atas keegoisanku. Dan makasih kamu udah bertahan untuk disampingku selama ini”.

“I… Iya sama-sama”.

“Ca, jadi kita baikan dong?”.

“Ye, siapa yang marahan kenapa harus baikan segala?”.

“Kamu tuh yang diemin aku mulu”.

“Nggak !”

“Iya !”.

“Ya udah, makan nih cookies buatanku”.

“Ok beb”.

Senyum cerah serta tautan kesepuluh jari manis itu mengakhiri cerita yang hampir membalikan sebuah perasaan dan janji untuk selalu setia.

END

Iklan

Drable (FF YH – Don’t Lie)

Published Januari 16, 2013 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

*Maaf, belum sempet bikin FF
panjang karena sibuk sekolah, ini
aku bawa drable yang mungkin
bener- bener pendek. ok happy
reading*
======
‘Tap tap tap’ langkah kaki seseorang
itu menggema di seluruh koridor
sekolah. Pukul 15.43, sekolah mulai
terlihat sepi. mungkin memang ada
beberapa siswa yang masih disitu
salah satunya Yoona. Siswi kelas X.3
itu duduk di kursi pojok koridor
yang lengang. Hanya ada semilir
bisik angin yang terdengar.

Gadis berambut sebahu itu duduk
dengan tenang membaca sebuah
buku novel karya ‘Kim Ji Oh’.
Dengan kaca mata minus yang
bertengger di matanya.

“Agashi, apa kau melihat sebuah
kunci motor?”.

Suara berat seseorang memecah
keheningan, dan mengusik
konsentrasi Yoona. Gadis itu pun
menoleh ke sumber suara.

Dengan senyuman ringan ia
menggeleng kearah pemilik suara
yang ternyata seorang namja.
Namja tersebut hanya menggaruk
tengkuknya yang tak gatal lalu
menunduk sebelum pergi
meninggalkan Yoona.

Selang beberapa menit, Yoona mulai
jengah. Ketika ia berjalan tak
sengaja sepatu cats abu-abunya
menginjak sesuatu. Sesuatu yang
disebut kunci.

“Maaf mungkin ini yang anda
maksud”, ucap Yoona menghentikan
langkah seseorang. Tanpa basa-basi Yoona menyerahkan kunci tersebut dan berjalan pergi.
======
Angin bermigrasi cukup ramai,
mampu menerbangkan helaian
rambut panjang nan indah. Seakan takut tersaingi, sang mentari bersinar begitu terik.
Keadaan tersebut tak menyurutkan
gairah beberapa namja ditengah
lapangan itu yang sedang
memperebutkan si bulat yang
mengelinding kesana-kemari.
Beberapa buku ia peluk dengan erat, dari balik tirai pembatas lapangan Futsall sekolah, ia mengamati seseorang.

“Namanya Donghae, Lee Donghae. Ia kelas XI.IPS3. Dia kapten futsall sekolah”.

“Sooyoung-“. Hanya itu yang Yoona ucapkan ketika mendapati
sahabatnya berdiri tepat disamping kanannya.

“Wae?? Bukankah wajar jika kau
menyukainya. Dia termasuk namja tampan di sini”.

“Tidak, bahkan kami baru bertemu sekali. mana mungkin jika aku menyukainya?”.

“Mungkin saja”, jawab Sooyoung
seraya berkedip genit.

Satu bulan berlalu. Ada hobi baru
yang Yoona miliki yaitu
memperhatikan Donghae diam-
diam. Dengan jarak tak lebih dari 10 meter.

Kini wajah cantiknya terlihat muram ketika 2 hari tak bisa menemukan sosok Donghae. Yang mungkin ia cintai.

Dia duduk dikursi penonton futsall. matanya memandang lurus. tiba- tiba secangkir exspresso terulur untuknya. dan matanya membulat ketika mendapati sosok yang ia
harapkan mengulurkan itu untuknya.

“Kenapa harus jadi penguntit jika
ingin melihatku. Bicara langsung
saja”.

“Bukan aku tidak menguntit aku
hanya-“. Jari manis itu membungkam mulut
mungil Yoona.

“Karena aku lebih bahagia kau jujur padaku. I LOVE YOU”, ucap Donghae seraya merengkuh Yoona kepelukannya.

END

Next Fanfict.

Published Januari 8, 2013 by pyrossoneff

Hai.. maaf aku belum sempet publish FF karena udah mulai masuk sekolah. Tapi tenang selain seri winter, aku bakalan publish beberapa FF lagi.

Dan aku juga mau publish “Study Of Love” tapi bingung karena ada 2 versi. Kalian milih mau yang mana dulu yang di publish, YoonHae atau MinStal?? Hayo ada yang suka MinStal ga?? Tolong comentnya…

Summer Sunset

Published Desember 24, 2012 by pyrossoneff

Cast : Im Yoona >< Lee Donghae
Ratting : PG 14
Genre : Romance
Note : “Annyeong readers, author kembali dengan kisah melanjutkan Spring Surprise, maaf author belum bisa ngasih cerita yang panjang. Dan maaf cerita ini terlalu banyak percakapannya dan mengumbar terlalu banyak Typo. Ok, trima kasih untuk readers yang udah mau komen di FF ku sebelumnya. Thank’z all. Dan Selamat Membaca”
ss

Setelah bekerja keras menyelesaikan pendidikan di negeri orang, kini Yoona bisa kembali ke Korea. Tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan di Keluarga Im. Keluarga yang terkenal dengan keharmonisan dan kekayaannya.
Gadis itu menutupi kantung mata menggunakan kacamata. Dia berjalan keluar dari bandara. Dandanannya terlihat aneh. Di musim panas seperti ini, ia masih menggunakan hoodie dan celana jeans hitam panjang tak lupa dengan scarf nya yang terbuat dari wol, hasil dari bulu domba import dari Australia.
Sebenarnya ia juga merasa kegerahan, namun bagaimana lagi, ia lupa jika ini sudah memasuki musim panas di Korea. Ia terus berjalan menggeret koper berwarna coklat itu hingga sebuah mobil A5 berhenti. Dari dalam, kaca mobil itu terbuka menunjukkan tampang mempesona dari sang pengemudi.
“Maaf aku terlambat, cepat masuklah”.
Dengan kesal Yoona mengikuti perintah dari sang pengemudi mobil, tentunya setelah ia meletakkan koper ke bagasi.
“Aish~ kau tetap tak berupah oppa! Setidaknya kau bantu aku meletakkan koper-koper itu kedalam bagasi, walaupun kau tak membukakan pintu untukku!”.
“Sudahlah Yoong, jangan seperti anak kecil”.
Lagi-lagi Yoona kalah dalam perdebatannya dengan Donghae. Wajahnya memerah menahan amarah, alis kanan dan kirinya juga hampir tak mendapat jarak, bibirnya sudah menutup rapat hingga mobil melaju sampai kedepan gerbang rumah mewah keluarga Im.
“Sudah sampai nona Im, kau tak ingin turun?”
Sekilas Yoona memandang Donghae, lalu ia turun dan membanting pintu sedikit kasar.
Didepan pintu, terlihat Krystal sang adik dan eomma nya berdiri menyambut kedatangannya dengan sumringah.
“Aigoo, putri eomma terlihat kurus sekali, apa kau tak makan dengan benar? Apa kau tak minum vitamin seperti yang eomma sarankan? Huh dasar gadis nakal”.
Ny. Im terus melontarkan kata bernada cemas kepada putrid yang tak ia temui selama 2 tahun itu. Dan ia tak henti-hentinya mengacak rambut Yoona yang sedang ia peluk.
“Haish~ eomma memalukan. Kasihan eonni baru pulang dia pasti lelah. Eonni apa kau membawakan aku oleh-oleh?”, sela Krystal.
Gadis berambut ikal itu segera menggapit lengan eonni-nya lalu mengajaknya masuk. Sementara itu, Donghae yang melihat betapa antusiasnya keluarga Yoona menyambut kedatangan sang kekasih hanya mampu melemparkan senyum kecil sambil membawa koper Yoona masuk.
“Eomma dimana Abeoji?”.
“Abeoji tentu sedang dikantor Yoong”, sela Donghae.
Jawaban Donghae membuat Yoona mengerutkan dahi, ia merasa aneh dengan ucapan Donghae yang menyebut ayahnya dengan sebutan abeoji.
“Tidak usah sebingung itu. Donghae oppa sudah bilang kepada kami sebelum ia pergi ke Paris untuk melamarmu. Jadi appa menyuruhnya memanggil abeoji”.
“Dasar adik nakal, jadi kau juga sudah tahu rencana lelaki ini?”.
Krystal yang ditanya hanya mampu menyunggingkan senyum lalu pergi ke kamar.

Segumpulan awan itu tak mampu menutupi indahnya warna jingga dari sang surya yang ingin kembali ke peraduannya. Pemandangan senja yang indah dipandang oleh mata. Gadis berambut panjang itu berdiri dengan tangan berpegangan pada besi pembatas balkon. Tak selang begitu lama terasa sepasang tangan kekar melingkari tubuhnya. Sebuah back hug yang sangat ia rindukan dari sosok sang kekasih. Ia terlalu merindukan moment seperti ini hingga menutup matanya membiarkan hembusan nafas sang kekasih mengenai tengkuknya dan memberikan suatu sensasi yang memabukkan.
“ Kau masih marah kepadaku? ”.
“ Oppa kenapa kau belum pulang? ”.
“ Lagi-lagi kau menghindari pertanyaanku ”.
“ Jawab pertanyaanku terlebih dahulu ”.
“ Aku tak mungkin pulang jika kekasihku yang paling manja ini masih marah padaku. Aku pasti akan sangat gelisah di rumah nanti”.
“ Jadi, jika aku katakana sudah tak marah denganmu apa kau akan pulang? “.
“ Sepertinya kekasihku ini lebih suka aku pulang. Baiklah aku akan segera pulang “.
Donghae melepas pelukannya. Ia berbalik dan bergegas untuk melangkah pergi. Meninggalkan Yoona yang masih diam. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan tingkah Yoona yang berganti memberikan back hug untuknya. Membuat hatinya berdebar lebih kencang.
“Jangan, jangan pergi. Tinggallah disini untuk beberapa saat lagi. I miss you”.
Lelaki itu tersenyum lebar. Ia begitu kaget mendengar tiga kata dari Yoona. ‘I Miss You’ tiga kata yang sudah lama tak mereka ucapkan setelah kepergian Yoona ke Paris. Tak sadar jika sekarang ia sedang mengusap tangan Yoona yang memeluknya erat.
“Hei ada apa denganmu? Aku akan datang lagi besok. Sekarang biarkan aku pulang. Kau juga pasti lelah kan?”.
Anggukan dari Yoona membuat pipi Yoona bergesekan dengan punggung Donghae yang dibatasi oleh kemeja.
Aktifitas rutin keluarga Im. Salah satunya dengan sarapan bersama menikmati masakan Ny. Im. Walau mereka memiliki 3 pembantu, tapi Ny. Im membiasakan memasak sendiri makanan untuk keluarganya. Terlihat Yoona dan Krystal yang sedang mengadu sumpit memperebutkan sepotong telur gulung.
“Eonni ini milikku”.
“Haish~ apa-apaan kau? Tidak ini milikku. Singkirkanlah sumpitmu gadis nakal!”.
“Tidak akan!”.
Tiba-tiba, piring berisi telur gulung itu terangkat, membuat Yoona dan Krystal mengalihkan pandangan kearah tangan yang menarik piring tersebut. Mereka melihat bahwa tangan tersebut adalah milik Tn. Im. Ayah Yoona itu segera mengambil pisau makan lalu membagi telur itu menjadi dua, dan diletakkan sebagian kepiring Yoona dan sisanya ke piring Krystal.
“Memalukan sekali, putri ayah harus bertengkar merebutkan telur gulung. Krystal habiskan makananmu lalu segera pergi ke kampus. Jangan pulang terlambat appa akan menjemputmu”.
Yoona dan Krystal menunduk menyembunyikan wajah cantik mereka. Mereka begitu malu atas kelakuan keakanak-kanakan mereka barusan.
“Yoona kau juga segera habiskan makananmu lalu pergi kesalon bersama eomma”.
“Salon eomma? Untuk apa? Shiroo itu akan membuang-buang waktu”.
“Hei, kau tidak ingin tampil cantik didepan orang tua Donghae?”.
“Apa maksud eomma?”.
“ Yeobo, jadi kau benar-benar melarang Donghae mengatakan bahwa sore ini kita aka nada makan malam bersama orang tuanya?”.
“Oh iya, sebenarnya itu bercanda tapi aku tidak tahu jika anak itu serius”.
“Jinja? Eomma appa aku belum siap”.
“Tidak apa-apa, orang tua Donghae pasti setuju dengan hubungan kalian karena kau ini anak appa. Jangan gugup”.
Akhirnya setelah sibuk seharian disalon dengan eommanya, Yoona bisa berangkat ke restaurant tempat kedua keluarga bertemu. Ia terlihat anggun dengan gaun biru muda dan rambut coklat panjang terurai.
Untuk pertemuannya yang pertama dengan orang tua Donghae, ia datang terlambat bersama eommanya karena macat. Ia sangat menyesali keputusannya menolak ajakan Donghae untuk berangkat ke restaurant bersama.
Dengan perasaan gugup ia membuka ruang VIP restaurant yang dipesan ayah Doghae. Sungguh ia tak menyangka dengan sambutan orang tua Donghae kepadanya. Tn. dan Ny. Lee menyambut dengan senyum lebar. Bahkan Ny. Lee tak berhenti memberinya pujian.
“Aigoo, beruntungnya putraku bisa mendapat istri secantik dirimu. Bahkan kudengar kau adalah mahasiswa terbaik lulusan Univversitas disaign di Paris benarkah?”.
“Tidak begitu juga bibi”.
“Kenapa kau memanggilku bibi? Kau juga harus memanggil aku eomma seperti Donghae memanggil orang tuamu”.
Donghae terkikik melihat ekspresi Yoona yang sudah seperti kepiting rebus.
“Sudahlah, ayo segera makan”, perintah Tn. Lee.

Donghae dan Yoona memutuskan untuk lebih cepat berpisah dengan para orang tua. Mereka bergandengan dengan penuh senyum diwajah keduanya.
“Yoong, sepertinya aku meninggalkan ponselku disana”.
“Aish~ cepat ambillah oppa”.
“baiklah tunggu aku di mobil, ini kuncinya”, ucap Donghae sambil memberikan kunci mobil.
Tak lupa sebelum kembali untuk mengambil ponsel, ia mengecup singkat kening Yoona. Adegan yang sukses menyita perhatian beberapa masang mata pengunjung restaurant dan membuat pipi Yoona memanas menahan rasa bahagia juga malu.
Yoona melangkahkan kaki mungilnya menuju basemant.
“Yoona, tunggu!”.
Suara berat itu berhasil membuat langkah Yoona berhenti. Dengan badan sedikit gemetar ia membalikkan badan kearah sumber suara.
Seorang pria berbadan atletis dan wajah baby facenya melangkah mendekati Yoona. Membuat mata Yoona membulat sempurna.
“Kau Im Yoona bukan? Apa kabar?”.
Pria dengan jas hitam itu megulurkan tangan bermaksud untuk menjabat tangan Yoona. Sementara gadis yang dimaksud itu terlihat syok. Yoona menggigit bibir dan kedua tangannya meremas gaun bawahnya.
Pria itupun tersenyum miris menarik uluran tangannya.
“Kau. . .”.
“Ne, ini aku Kim Kibum”.
“Mianhe Kibum-ssi aku terburu-buru”, ucap Yoona sambil melangkah pergi meninggalkan Kibum.
Pria bernama Kibum itu terlihat memandang kepergian Yoona dengan senyum miris.
“Kibum-ssi, hahahaha sepertinya kau baik-baik saja Yoong”,guman Kibum.
Yoona terlihat menitihkan air mata di mobil. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini, ia begitu butuh ketenangan saat ini.
“Maaf aku terlalu lama”, Donghae membuka pintu mobil. Membuat Yoona terburu-buru menghapus air matanya dengan kasar.
“Hei kau menangis? Ada apa Yoong?”.
“Aku baik-baik saja oppa. Oppa bolehkah aku memelukmu sekarang?”.
Donghae mengernyitkan dahi, kemudia membuka tangannya lebar-lebar member ruang untuk Yoona memeluknya. Ia bingung dengan sikap yeojachingunya sekarang. Tapi Donghae memutuskan untuk tidak bertanya sekarang.

Kegiatannya menyiram bunga dikebun berhenti seketika. dahanyi mengernyit dan matanya menyipit ketika membuka pesan dari ponselnya yang sukses menghentikan aktifitasnya.
“Yoona-ah, bisakah kau temui aku dikafe coffe dekat namsan tower pukul 4 sore. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu”. Begitulah sepenggal pesan masuk dari nomer yang tak ia kenal.
Ia menatap layar ponselnya hingga 10 menit lamanya. Lalu menutup ponsel itu dan memasukkan kedalam saku hotpents nya. Ia menganggap cuek pesan tersebut. “itu hanya orang iseng”, gumam Yoona.
Ia pun segera melanjutkan aktifitas menyiram bunga. Sambil bersenandung dengan lagu gembira. Kemudian selesai menyiram bunga, ia memutuskan untuk mandi.
Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 4.12 sore. Yoona duduk di depan meja rias berkutat dengan sisir yang terus bersembunyi disela rambut indahnya. Tiba-tiba ia teringat dengan pesan diponselnya tadi.
Sekali, duakali hingga tiga kali ia membaca pesan tersebut.
“Bagaimana jika pengirim pesan ini adalah temanmu Yoona, mungkin saja itu Yuri karena sudah 2 hari gadis itu tak mengirim pesan seperti biasanya”, gumam Yoona dalam hati.
“Tidak pasti itu kerjaan orang iseng. Jangan dipikirkan!”, serunya.
Tik… tik… tik… detik demi detik terus bergulir hingga pukul 16.36.
Yoona yang sedang duduk menatap matahari sore itupun tiba-tiba bangkit. Dan bergumam sendiri mengingat pesan pada ponselnya.
“Kau harus datang untuk melihat Im Yoona. Bukankah kau diajarkan eomma untuk tidak membuat seseorang menunggu? Ya kau hanya perlu pergi memastikan siapa orangnya tidak harus bertatap muka dengannya!”.
Gadis itu berlari menuju kamar menyambar blazer di tempat tidur tak lupa dengan kunci mobil, ponsel juga tasnya. Ia mengemudikan sebuah mini coper berwarna merah muda dengan kecepatan 100 km/jam membelah jalanan Seoul.
Dengan hati-hati ia melangkahkan kaki memasuki kafe coffe yang dimaksud oleh si pengirim pesan.
“Tidak biasanya kau membuat orang menunggu 1 jam lamanya Nona Im Yoona. Tapi tak apalah yang penting kau sudah mau datang”.
Yoona mempercepat langkahnya menuju meja no.1 yang terdapat seseorang yang mengajaknya berbicara.
“Kau, jadi kaulah si pengirim pesan itu?”.
“duduk dululah”.
Dengan menahan amarah, Yoona duduk menuruti perintah orang berkacamata dihadapannya.
“Sudahlah Kibum ssi aku tak punya banyak waktu untuk meladeni lelaki sepertimu!”.
“maafkan aku Yoong, aku terlalu bodoh telah melepas gadis secantik dan sebaik kau..”.
“Lalu sekarang kau ingin merayuku lagi?. Kau masih tidak tahu malu Kim Kibum ssi! Aku membencimu!”.
“Jangan bohong padaku, katakanlah padaku bahwa kau masih mencintaiku sama seperti aku mencintaimu Yoong”.
“Tidak, aku tidak mencintaimu. Aku bukanlah Yoona yang bodoh yang telah kau sakiti hatinya. Kau fikir aku mau kembali untuk cintamu? Aku tak sudi untuk kembali kau duakan dengan wanita penjaga toko kado itu!”.
“Maaf, aku sadar aku salah telah menyakitimu. Aku sadar Kim Taeyeon tidak sebaik kau, dia hanya gadis murahan yang gila harta”.
“Bukankah Tuhan adil? Kau ingat, dulu kau juga memeras barang juga uang dariku untuk kau berikan padanya!”.
“Hei bukankah aku sudah katakan MAAF!”.
Kibum berdiri dan menggebrak meja, matanya memancarkan kemarahan. Namun hal itu tak membuat Yoona takut. Ia justru melemparkan pandangan yang lebih menakutkan untuk Kibum.
“Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai. Aku harus pergi”.
Ia berdiri meraih tasnya kemudian melangkah keluar kafe.
Begitu juga Kibum yang pergi meninggalkan kafe dan mengejar Yoona. Ia memegang erat gadis itu. Kemudian ia membalikkan paksa tubuh Yoona. Dengan kasar Kibum meraih tengkuk Yoona untuk mempermudah mencium gadis itu. Namun Yoona terus memberontak. Ia menendang tulang kering kaki kanan Kibum, hingga Kibum melepaskan tangan dari tengkuk Yoona.
“Dasar laki-laki brengsek! Kau gila Kim Kibum”.
“Iya aku gila karena kau berani menolak seorang Kim Kibum!”.
Sekali lagi, Yoona memukul pundak sebelah kiri Kibum dengan Tasnya. Lalu melangkah pergi.
Ia membuka pintu mobil. Dia duduk dikursi pengemudi, namun tak kunjung menjalankan mobil itu. Ya, gadis yang diketahui “strong girl” itu menangis untuk kesekian kalinya karena ulah lelaki bernama Kibum. Tiba-tiba memori-memorinya dahulu, waktu Senior High School bersama Kibum kembali berputar di otaknya. Bagaimanapun diantara mereka dulu pernah ada hubungan yang disebut kekasih. Kisah 2 tahun yang indah sebelum kehadiran wanita bernama Kim Taeyeon yang merusak semuanya.
Tak ingin berlama-lama menangis dalam kisah kelamnya, ia melajukan mobil itu membelah keramaian jalan kota.
“Yoong”, suara itu berhasil menghentikan langkah Yoona menuju Kamar.

EnD.
Tunggu next story nya ya….

Autumn Moment

Published Desember 14, 2012 by pyrossoneff

Cast : Lee Donghae

Im Yoona

Other cast..

Genre : romance

Ratting : PG14

Sore itu mentari membulat dengan sempurna, walau begitu tak menutup kemungkinan untuk hujan turun. Sungguh hal yang tak biasa diawal musim gugur seperti ini turun hujan lebat disebagian pusat kota.

Disebuah kedai teh, nampak empat gadis kota metropolitan sedang duduk menghabiskan waktu bersama setelah lama mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing.

Diantara keempatnya nampak Yoona yang hanya diam mendengarkan celotehan teman-temannya. Sesekali ia tersenyum malas menanggapi obrolan teman-temannya yang terdengar membosankan.

“Kalian tahu? Baru semalam Hyukjae oppa melamarku”, ucap gadis bermata  indah bernama Tiffany.

Ia berbicara sambil melebarkan senyum kehadapan teman-temannya dan sedikit memamerkan permata cantik yang terlihat sangat pas di jari manisnya.

“Benarkah, ah seangnya kau akan segera menyandang nama Ny. Lee”, timpal Yuri.

“Bukan hanya itu, aku jamin kau juga bisa hidup bahagia eonni, karena suamimu kan meneger bagian marketing di Hyundai”, sela Seohyun.

Berbeda dengan ketiga temannya yang sedang tertawa lebar, Yoona justru terlihat menghela napas panjang. “Haah”, helaan itu keluar begitu saja dari pernafasannya. Seakan ia merasakan kejenuhan yang amat mendalam mendengerkan celotehan mereka. Jika ia tak ingat mereka adalah teman dari Junior High School, ia pasti memilih menjauh dari obrolan yang teramat tak penting itu.

Seakan situasi sangat memahami perasaannya, tak berselang lama, ponsel merah jambu yang sedari tadi ia genggam pun bergetar. Melihat dari nama yang muncul dari layar ponselnya, memang bukan orang yang ia harapkan untuk menelfon tapi untuk menjaga sopan santun ia pun mengangkatnya.

“Yeobseyo appa?”

“…”

“Aku ? aku sedang berada di kedai daerah Gwangju ayah”.

“…”

“ah, tapi disini masih hujan. Tapi baiklah akan segera kuantar. Tunggu sekitar 20 menit lagi aku datang”.

Setelah menutup telfon dari sang ayah Yoona mengambil tas dan berdiri dengan canggung. Ia membungkukan badan kearah temannya sebelum melenggang pergi. Teman-temannya hanya membalas dengan senyuman dan ucapan “Hati-hati Yoona-ah” dari Yuri. Kemudian mereka pun mengganti obrolan dengan gossip.

***

Tak perlu waktu lama untuk Yoona sampai di kantor ayahnya yang berada di distrik Gwangsan-gu yang masih berada didaerah Gwangju.

Hujan masih turun walau tak sederas di pusat kota. Yoona yang lupa membawa payung memaksa menerobos rintikan hujan dan membuat bajunya basah.

“Appa ! ini dokumen yang kau tinggalkan dimobilku”.

Yoona berteriak didepan pintu kerja ayahnya, ia tak menghiraukan sopan santun yang sedari kecil diajarkan oleh wanita berkelas nan berpendidikan yang 20 tahun ini ia panggil dengan sebutan eomma.

Dan ketika membuka pintu ruangan ayahnya, ia terkejut karena bukan ayahnya yang ia dapatkan ataupun sekretaris Lee Jun Hyuk yang sangat ia kagumi melainkan seorang pemuda yang kira-kira usianya 2 atau 3 tahun dibawah sekretaris Lee.

“ Nona Im? Kenapa anda basah kuyup seperti ini?”.

Suara Sekretaris Lee membuat Yoona tersadar dari ketercengangannya. Ia pun mengerjap-ngerjapkan mata melihat sosok lelaki tadi tersenyum kearahnya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menyambar handuk yang terletak di sebuah tiyang baju pojok ruangan. Dengan lembut ia mengusap-usap kepala dan pundak Yoona agar tak kedinginan. Hal itu membuat sekretaris Lee yang sedikit mengagumi Yoona pun ikut terdiam kaku.

“Sekretaris Lee, bisakah kau meminta coklat hangat untuk putri tuan Im?”.

Lee Jun Hyuk hanya mengangguk dan pergi meninggalkan mereka, tak lupa iapun menutup pintu ruangan.

“dangsin-eun nugu ya?”, ucap Yoona dengan nada bergetar.

Lelaki itupun meletakkan handuk ditangan Yoona dan melangkah sedikit kebelakang menjauh dari Yoona.

“Mianhamnida, naneun Lee Donghae Imnida”.

“abeoji eodieseo?”.

“aah ya, Tuan Lee sedang ada urusan diluar sebentar. Aku diminta untuk menunggunya juga menunggu dokumen yang putrinya bawakan kemari”.

Yoona pun melangkah canggung memberikan dokumen yang sedari tadi ia pegang. Disaat bersamaan, Tuan Im sedang membuka pintu ruangan. Ia terkejut melihat keadaan putrinya yang setengah basah.

“Yoona-ah neo gwaenchanha?”.

Ia segera memegang pundak putrinya. Terlihat hidung Yoona mulai memerah karena ia tak tahan dingin.

“Sebaiknya kau segera pulang agar ibumu tak khawatir dan memarahiku. Biar aku pinta Jun Hyuk mengantarkanmu”.

Tuan Im melirik Jun Hyuk yang sedang meletakkan gelas coklat hangat diatas meja.

“Bagaimana jika Yoona aku yang mengantar ahjussi, lagipula dokumen ini sudah kupegang biar aku pelajari nanti malam dan kita bahas besok di rumah anda. Hitung-hitung aku menghapal jalan kerumah anda agar tidak salah jalan”.

Donghae menawarkan diri seraya tersenyum kearah Yoona.

“Apakah putriku tak akan merepotkanmu? Baiklah hati-hati. Yoona kau ikut mobil Donghae saja, biar mobilmu nanti aku suruh orang mengantarkannya”.

Yoona hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Donghae.

Hening, tak ada suara dalam mobil itu. Baik Donghae dan Yoona memilih diam, mereka bingung untuk memulai obrolan. Tapi selama perjalanan Yoona terlihat sesekali mencuri pandang kearah Donghae yang sedang focus menyetir.

Pria ini terlihat begitu tampan jika dilihat-lihat. Rahangnya yang tegas, model rambutnya yang update layaknya gaya boyband, style nya yang santai penuh kewibawaan, sikapnya yang tenang membuat ia seperti layaknya cassanova.

“Apakah aku sebegitu menariknya hingga kau terus-terusan menatapku nona cantik?”.

Ucapan dari mulut Donghae membuat semburat merah dipipi Yoona terlihat jelas. Ia hanya mampu menundukkan kepala karena malu, sang pemilik raga yang sedari tadi ia perhatikan menyadari akan pandangannya.

“eumb sudahlah kau tak perlu malu”.

“ma.. malu? Untuk apa aku malu?”.

Yoona pura-pura merajuk membuat beberapa kerutan didahi manisnya dan sedikit mengembung dibagian pipinya.

“Kau sungguh terlihat manis jika sedang seperti ini Nona Im”.

“Donghae-ssi berhentilah menggodaku !”.

“Aku? Aku berkata jujur karena sebenarnya aku tak bisa menggoda gadis secantik dirimu”, ucap Donghae sambil terkikik.

“aish~ kau ini”.

Yoona pun mulai menggelitiki lengan Donghae, dan membuat Donghae mengglinjang. Kemudian merekapun kembali terdiam. Tiba-tiba, “Kruk Kruyuk”. Terdengar jelas perut Yoona mulai berbunyi. 1, 2, 3 detik hingga terdengar tawa dari keduanya.

“Jadi dari tadi kau menahan lapar?”

“memangnya gadis sepertiku dilarang lapar?”

“baiklah, mungkin tidak akan berbahaya jika kita mampir untuk makan sebentar”.

***

Dari makan bersama waktu itu, acara makan bersama pun terus berlanjut. Seperti saat ini, Yoona sedang berkutat dihadapan cermin. Ia begitu bingung memilih beberapa gaun yang kemarin ia beli bersama Krystal adiknya. Memang dia dan Donghae sudah biasa makan malam diluar tapi malam ini terasa beda untuknya.

“Aduh lihatlah eonni, eomma dia terliahat begitu mengenaskan. Padahal 2 jam lagi Donghae oppa akan menjemputnya tapi ia tak kunjung selesai juga memilih gaun”, cibir Krystal sambil memeluk Ny. Im yang sedang menjadi juri untuk Yoona memilih gaun.

“sudahlah Krys, berhenti menggoda eonnimu dan cepat bantu dia”.

“Aniyo, bukankah dia gadis jurusan designer, harusnya dia lebih paham daripada aku yang mengambil jurusan marketing”.

“aish~ adik macam apa kau, berani bergembira dihadapan eonnimu yang sedang gugup?”.

“Ya baiklah, kenapa kau tak mencoba mengenakan gaun ini? itu terlihat cocok dengan kepribadianmu yang setengah tomboy dan cuek”.

Krystal menyerahkan gaun berwarna putih 5 cm dibawah lutut dan tanpa lengan itu. Ada hiasan bunga sakura dibagian bawah.

“oh neomu kyeopta”,ucap Ny. Im.

Yoona mengembangkan senyumnya dihadapan adik dan ibunya lalu bergegas untuk berdandan.

10 menit sebelum jam dimana Donghae dan Yoona berjanji, terdengar suara klakson di pelataran rumah kediaman Im. Itu adalah mobil Donghae.

Yoona pun turun ke lantai bawah dan melihat Donghae sedang mengobrol dengan ayahnya.

“Abeoji, berhentilah mengganggu Donghae oppa. Malam ini dia datang untukku bukan berbisnis denganmu”.

Yoona mulai menggapit lengan Donghae seraya menandakan lelaki itu untuk berdiri.

“Aigoo~ kau menyebutnya oppa? Apakah kalian sudah menjadi sepasang kekasih”.

Cletukkan Tn. Im membuat Yoona mempoutkan bibir indahnya lalu secara perlahan mengendorkan gapitan tangannya di lengan kekar Donghae.

***

Makan malam indah yang sudah sejak kemarin Yoona bayangkan terasa semu baginya. Sejak cletukan dari ayahnya keluar, Yoona tak mengajak Donghae bicara. Sementara lelaki dihadpannya yang terlihat sedang focus dengan menu dihadapannya itu juga tak kunjung mengajaknya berbicara.

Hingga tak terasa, makanan keduanya pun habis. Donghae terlihat membersihkan bibirnya dengan tissue makan lalu membenarkan cara duduknya.

“Ehem”. Donghae berdeham seakan meminta Yoona untuk memperhatikannya. Tapi Yoona malah asyik bermain dengan sedotan dalam gelas jus cherry-nya. Membuat Donghae geram dan menggenggam tangan mungil Yoona yang mulai gemetar.

“Yoong, bisakah kau memperhatikanku?”.

Gadis itu masih terdiam dan mengangkat alis kanannya. Ia mencoba melepas tangannya yang mulai gemetar tapi tenaganya masih kalah jauh dengan Donghae.

“Kata ahjussi –ayah Yoona- kau menolak kembali ke Perancis untuk melanjutkan semester baru?”.

“Itu tak ada sangkut pautnya denganmu. Jadi kau tak perlu membantu appa untuk membujukku”.

“tapi jika ketidak inginanmu pergi karena aku, aku merasa harus bertanggung jawab”.

“Sudahlah Donghae-ssi, jangan terlalu besar kepala. Kata siapa aku tak ingin pergi karena kau? Aku hanya belum siap meninggalkan ke tiga sahabatku”.

“Sahabat? Bukankah mereka sudah kembali ke Perancis 3 hari yang lalu? Dan kemana panggilan oppa mu untukku”.

“Oppa? Kau fikir siapa hingga aku harus memanggilmu oppa?!”.

“Jadi selama ini kau tak menganggapku sebagai namja chingu?”

Yoona terdiam dan membulatkan mata menatap Donghae.

“Ciuman itu, aku menganggapnya sebagai cara untuk mengutarakan perasaanku padamu. Aku bukanlah lelaki romantis yang bisa mengatakan aku mencintaimu dengan memberikanmu bunga ditengah kita mendayungi danau seperti kebanyakan moment di drama televisi”.

Flashbak~

Gadis itu berjalan mengitari danau buatan dan melihat betapa indahnya daun-daun maple berjatuhan. Setelah beberapa jam mengitari Taman Danau Ilsan ia memilih duduk di kursi panjang yang menghadap danau. Tiba-tiba ada tangan besar nan halus yang menutupi matanya. Tak salah, tangan itu adalah milik Donghae, lelaki itu sedang menjahili Yoona.

“Oppa berhentilah bermain-main”.

“ah rupanya kau tahu ini aku?”.

Donghae pun berpindah posisi dari berdiri dibelakang Yoona menjadi duduk disampingnya. Kemudian ia menyerahkan salah satu es krim yang ia bawa untuk Yoona.

“Es krim rasa papermint? Wah ini kesukaanku. Gomawo”.

Gadis itu terlalu bahagia hingga tak sadar mengecup singkat pipi Donghae. Ini serasa special. Tapi 3 tahun menempuh pendidikan di Perancis, kecupan pipi hanya mereka anggap sebagai rasa terima kasih semata. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening hingga suapan terakhir es krim mereka habis.

Disaat Donghae menoleh kearah Yoona ia terkikik melihat sisa es krim di bibir mungil gadis yang ia cintai. Ya memang sudah sejak pertemuan pertama itu, Donghae sudah jatuh cinta kepada putri rekan bisnisnya.

“Kenapa kau tertawa oppa?”.

“Kau makan seperti balita Yoongie”.

Yoona yang sadar jika mulutnya blepotan segera mengeluarkan tissue dalam tasnya, namun segera ditahan oleh Donghae.

“Biar aku saja yang membersihkan dengan caraku sendiri Nona Im”.

Perlahan-lahan wajah keduanya mulai mendekat hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas dari keduanya. Dan sesuatu yang kenyal dan hangat menempel tepat dibibir Yoona. Dari bibir yang semula hanya menempel itu semakin lama berubah menjadi lumatan-lumatan lembut yang tak disertai dengan nafsu melainkan timbul dari rasa sayang. Inilah first kiss untuk keduanya.

Flashback end~

Yoona semakin menundukkan wajahnya, yang kemudian diangkat oleh Donghae.

“Hanya tinggal 3 semester, kau disana itu tidak lama. Kumohon jangan kecewakan orang tuamu juga aku. Jika kau terus seperti ini, kau akan membuatku terus merasa bersalah dan perkerjaanku akan berantakan”.

“Aku takut kehilanganmu, sangat takut hingga tak mampu jauh darimu dan oppa tahu itu semua karena aku sanagat mencintaimu oppa”.

“Nado saranghaeyo Yoona”.

Waktu bergulir dengan sendirinya tanpa ada yang mampu menghentikan. Tak terasa musim gugur pun akan segera berakhir. Daun maple itu semakin runtuh satu per satu. Sebuah mobil mini coper berwarna ungu berdiri tak jauh dari lapangan bandara Internasional Incheon. Walau jarak lapangaan dan tempat itu dibatasi oleh ilalang dan pagar, itu tak menyurutkan matanya untuk memandang. Sang pemilik mobil duduk  didepan mobil sambil tangannya menggenggam secangkir kopi hangat. Ia tersenyum begitu melihat pesawat yang ditumpangi sang kekasih lepas landas hingga melayang diudara.

Ia pun kembali melajukan mobil sambil mendengarkan rekaman sang kekasih didalam mobil.

“Oppa karena bujukkanmu akhirnya aku memutuskan pergi ke Perancis menyusul Tiffany, Yuri dan Seohyun. Alangkah terkejutnya aku mengetahuimu ditugaskan di perusahaan baru hasil kerjasama kita. Pasti kau dan ayah sengaja menyembunyikan kenyataan bahwa kau pindah ke Jeju-do? Tapi tak apalah selama kau mau setia. Ingat jangan macam-macam dengan gadis pantai. Simpan hatimu baik-baik seperti aku menyimpan hati ini hanya untukmu. Ingat hanya Im Yoona. Saranghae and anyeong oppa ikanku”.

Donghae semakin geli mendengar suara yang akan membuatnya gila karena rindu hingga 1,4 tahun ke depan. Ia pun semakin melajukan mobilnya dan membuat daun maple ditanah berterbangan.

The END ~

Huwaaa gimana FF ini?? masih terasa abal-abal kah???

Mohon di baca dan pendapatnya.

Nantika seri berikutnya

Marry U

Published Desember 1, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

Casts : Lee Donghae

Im Yoona

Ratting : PG16+

Note : “ hay author comeback again, mianhe author ngilang lama, habis banyak tugas dari sekolahan. Pas kemarin mau ng post ff, tapi semua FF ku kedelete. Jadi bikin lagi deh. Huh. Ya udah met baca FF baruku ini..”

Marry U

Gambar

===#===

“Cinta bukan permainan hati melainkan perasaan. Dalam cinta, hatilah yang bermain. Dalam keharmonisan suatu pernikahan, tidak hanya membutuhkan cinta, tatapi kita juga butuh komunikasi lebih dari sekedar sahabat”

Bagiku, dia lebih dari sekedar kumpulan warna dalam hidupku, mengaguminya mengajarkanku berbagai hal yang sebelumnya tak pernah kumengerti. Pertemuan dewasa inilah awal kubuka lembaran cinta bersamanya. Tanpa ia ketahui sedikitpun tentang perasaan ini.

===#===

Begitu deras hujan mengguyur kota Seoul, banjir yang terjadi di selatan kota, menyebabkan adanya peralihan jalan yang membawa dampak besar yaitu kemacetan. Terkadang hal ini sungguh menguji emosi. Seperti mini coper berwarna kuning itu yang mencoba mendesak. Sang pengemudi tak menyadari jika dari arah berlawanan telah melaju sebuah truk. Hiingga … “Jedaar!!!”. Kecelakaan itupun terjadi. Hampir tak ada yang selamat dalam kecelakaan itu kecuali satu orang. Dia gadis yang beruntung, mungkin dia adalah gadis titisan bidadari yang Tuhan kirim ke bumi. Disaat kedua orang tuanya meninggal ditempat dengan keadaan terbakar, dia hanya luka ringan dilutut kanannya serta beberapa goresan dipunggung, tentu luka punggung itu pasti akan membekas. Tapi itu tak akan bermasalah karena ini adalah Korea. Luka kulit separah apapun jika sudah dioperasi plastic pasti akan hilang tanpa bekas.

Ayahku yang seorang dokter ahli bedah dengan sigap membantu gadis itu. Sebenarnya orang tuaku sangat shock atas peristiwa itu, karena orang tua gadis itu adalah putri sahabat ayahku sejak mereka berusia 7th.

>>9tahun kemudian<<

Rumah bergaya eropa di tahun 70’an itu masih berdiri kokoh. Beberapa bulan setelah operasi berhasil, ayahku meninggal karena gangguan jantung. Ibu memutuskan pindah ke Mokpo. Tentu saja dengan gadis yang dulu kupikir penyebab kematian ayah. Aku memilih tak ikut dengan mereka dan masih tinggal bersama dengan paman Choi dan putranya.

Setelah 9 tahun kini kuputuskan untuk kembali kerumah ini. beberapa langkah dari bibir gerbang rumah, aku menghentikan langkahku.

“Donghae-ah !”.

Aku menoleh dan aku sangat terkejut, gugup juga bahagia. Wanita paruh baya yang memakai handbook itu tersenyum sambil menggeret sebuah koper. Aku sangat merindukannya. Dialah ibuku.

“Eommeoni.. itukah kau?”, aku berlari menghambur kepelukannya.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar jika ada orang lain bersembunyi dibelakang eomma. Aku tak melihat wajahnya begitu jelas karena dia menunduk. Topi coklat besarnya sangat menghalangi pandanganku.

“Eommeoni nugu?” acungku pada wanita itu sehingga dia mengangkat wajahnya.

===#===

Mwoya? dangsin-i geunyeowa gyeolhon hago sip-eo?” (apa? kau ingin menikahkan ku dengan nya?).

Ucapku tak percaya. Sungguh eomma telah klewat batas. Ku akui dia cantik tapi buatku ini terlalu mendesak.

Eomeoni, dasi gyeoljeong-eul saeng-gag hasigi balabnida, ne?”.( ibu, aku mohon pikirkan lagi keputusan anda, ya?)

Gadis itu semakin cantik saat beragyo seperti ini, dia mengerutkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya.

“ keputusanku sudah bulat. Ayah Lee dan keluarga Im pasti akan sangat setuju. Donghae-ah kau anak yang berbakti pasti mau mengabulkan permintaanku ini kan?”. *Banyangkan, ibunya Hae-ppa itu ibunya Baek Seung Jo di Playfull kiss*

Skak-matt untukku. Mana mungkin aku bisa menolak permintaan eomma jika dia sudah merengek seperti ini.

“Ne eomeoni”, ucapku lesu.

Hari demi hari terus bergulir untuk berganti bulan. Aku dan gadis pilihan eomma –Im Yoona- kini sudah menikah. Hari ini akan ada rapat penting dikantor, hingga mengharuskan ku berangkat pagi. Mobil A5 hitam mulai keluar dari garasi dan melaju ke jalanan yang masih sepi. Kulirik kaca spion di belakang sana kulihat Yoona terjatuh dengan kotak makanan dipelukannya.

Pukul 19.30 kst.

“Ini sudah malam kau tak ingin pulang Donghae-ah”, ujar Eunhyuk sahabatku.

“hmb.. ini tanggung tinggal proses edit lalu selesai, kau pulanglah dulu”.

“Baiklah, Hae ini tugas sekretarismu si Jessica, jadi jangan hanya mengerjakan tugas sekretarismu yang centil itu kau lupa rumah”.

“Ne, arasseo Hyuk”.

Menyebalkan sekali si monyet itu. Apa hanya karena punya sekretaris, kita jadi menelantarkan tugas dengan mudah. Dasar monyet tak tau tahu tanggung jawab.

Akupun melanjutkan pekerjaanku dan pulang setelah 2 jam berlalu. Saat aku pulang, rumah begitu sepi dan lampu belum ada yang dimatikan. Kulihat Yoona tertidur di sofa ruang tv. Akupun mengangkat tubuh mungilnya ke kamar kami.

Sinar matahari pagi yag datang melalui celah-celah tirai jendela memaksaku mengerjapkan mata untuk membiasakan diri. Aku mencium bau sesuatu, hingga langkah ini membawaku ke lantai 1, kulihat Yoona dengan rambut digelung memakai celemek sedang berkutat dengan masakannya. Tak sadar seutas senyum simpul tersungging dibibirku. Senyum itu memudar ketika dia tersenyum kepadaku.

“Donghae-ssi kau sudah bangun? Kau ingin sarapan dulu atau mandi dulu? Aku buatkan omlete dan orange milk favoritmu”.

Aku berjalan ke meja makan dan menarik salah satu bangku.

“Kau yakin aku tak akan masuk rumah sakit karena masakanmu?”.

Dia tak menjawab pertanyaanku kulihat dia mempoutkan bibir indahnya dan membuatnya semakin cantik dimataku.

“Ku rasa tidak apa-apa, ayolah makan kumohon Tn. Lee”.

Aku melirik jam sesaat sebelum mengambil garpu ternyata 15 menit lagi akan ada tamu penting di kantor, jika aku sarapan pasti akan telat. Jadi aku memilih mandi dan langsung berangkat tanpa menyentuh masakan Yoona.

Thank you. I hope our cooperation work well Mr. Takuyasi”.

Belum sempat Tn. Takuyasi beranjak dari tempat duduk, pintu ruangan sudah terbuka. Ku lihat nampak ekspresi terkejut terlukis diwajah Yoona.

“Ah.. mianheyo mianheyo. Kupikir ini jam istirahat makan siang”, ucap Yoona sambil mengusap tengkuk dan menyembunyikan Sesutu dibalik punggungnya.

Mr. Lee, who she is?”.

Aku terperanga mendengar pertanyaan Mr. Takuyasi client ku dari Jepang. Aku menatap Yoona yang sedang menunduk. Tiba-tiba Eunhyuk menyikut lenganku dan membuatku kembali kedalam realita kehidupan. Akupun melangkah kearah Yoona yang masih terpaku. Segera kurangkul dia. Dan dengan lantang aku berkata,”She is my Wife”.

Aku tersenyum kearahnya. Kulihat semburat merah dipipinya. Sepertinya dia sangat terkejut dengan ucapanku.

“You’re married? Well sometime you must invite your wife to dinner with us. Bye Mr. Lee and Mrs. Lee”.

===#===

Aku menatap langit, mala mini benar-benar gelap tanpa satu pun bintang di langit sana. Aku merasakan ada sepasang mata yang sedang mengamatiku hingga aku tergerak untuk melihat orang itu. Yoona melangkah menjauhiku, tapi secepat mungkin aku menarik lengannya hingga ia terhenti.

“Aku hanya ingin minta maaf soal tadi. Aku begitu mengkhawatirkanmu karena semenjak kita menikah kau tak pernah menyempatkan diri untuk sarapan”.

Lagi-lagi seulas senyum tersungging dibibirku. Jantungku berdegup lebih kencang mendengar ia mengkhawatirkanku. Namun sekali lagi tak ada keberanian dalam diri ini untuk menunjukkannya. Hanya elusan di puncak kepalanya.

“tidurlah, jangan berjalan-jalan ditengah malam”, ucapku berjalan meninggalkannya.

Tak terasa sudah satu tahun kami menikah. Hari ini tidak ada kerjaan dikantor dan membuatku seharian duduk bersila di depan tv. Hari ini Yoona pun tak ada jadwal di kampus.

Triing..

Bel rumah kami berbunyi. Yoona yang masih menggunakan celemek berlari kearah pintu.

“Eomeoni !!”, teriak Yoona.

Aku terperanjat dan ikut menghampiri Yoona yang sedang membuka pintu.

“ Aigoo putri eomma, ada apa dengan penampilanmu sayang?”.

Eoma mengelus kepala Yoona lalu menjitak kepalaku.

“Yak babo kenapa kau hanya diam? Bawa tasku ini”, ucap eomma berlenggang pergi merangkul Yoona.

“Yak eomma sebenarnya siapa anakmu Yoona atau aku?”.

Aku mempoutkan bibir seraya menekuk tanganku bersilang didepan dada. Aku melirik mereka. Yoona sedikit terkik melihat tingkahku. Sementara eomma tak menganggapku  malah berjalan kearah dapur. Aku dan Yoona pun mengikuti wanita yang melahirkan dan membesarkanku itu.

“Kau membuat kimchi ini sendiri? Sementara Donghae hanya menonton televisi tanpa membantu? Yak Lee Donghae suami macam apa kau?”.

Sekali lagi eomma memukul lenganku.

“Ini bukan salah Donghae eomma, kumohon hentikan”.

Ucapan Yoona membuat eomma berhenti. Aku pun meringis kesakitan.

Keesokan harinya..

Aku sedang sibuk dengan pekerjaannku. Padahal ini hampir jam 8 malam. Tiba-tiba ponsel yang sedari tadi kutaruh begitu saj itupun berbunyi.

From : Eomma

Hae-ah aku menemui masalah dan ini sedikit rumit bisakah kau datang ke taman dekat kota. Dan jangan beri tahu Yoona, aku tak ingin dia cemas

Aku menggerutu, disaat aku sedang sibuk seperti ini justru eomma mengganguku. Tanpa piker panjang aku mengambil jasku dan segera berlari kemobil. Aku mengendarai dengan gusar.

Tak jauh dari tempatku aku melihat sosok wanita dengan rambut panjang terurai mengenakan gaun berwarna putih panjang dengan pita hitam mengitari pinggangnya.

“Im Yoona”, kata itu lah yang muncul dari mulutku dan membuat dia menoleh.

“Donghae-ssi, di dimana eomeoni?”.

Aku terdiam, rasanya aku tak bisa berpikir jernih memandang paras cantiknya. Lamunanku menghilang ketika sesosok pria mendekatiku ia menggenggam sebuket bungan matahari dan surat di tangan kanannya. Ia memberikan itu kepadaku.

Donghae nikmati candle light dinner dengan istrimu.

Buatlah malam 1th penrnikahan kalian dengan bahagia.

From : eomma ^.^

Aku tak menyadari sejak kapan jarak kami sedekat ini. selesai membaca surat dari eomma aku berdeham untuk menghilangkan rasa canggung.

“Mianhe. Seandainya aku tahu rencana eomma seperti ini dari awal aku pasti tak akan datang”.

Yoona menaikkan gaunnya dan berjalan melewatiku. Aku menahan tangannya dan menariknya agar posisi kami berhadapan. Aku memandangi setiap inchi dari diri istriku seperti keinginan yang satu tahun ku harapkan.

“Waeyo? Ada apa denganmu Donghae-ssi?”.

Aku sadar ia mulai tegang dari cara berbicaranya ia pun seperti menahan rasa takut.

“Bisakah kau memanggilku oppa atau yeobo Yong?”

“Mwo? U.. untuk apa? Bukankah”.

Kuletakan jari telunjukku tepat dibibirnya tanda agar dia diam.

“Mianhe aku tak bisa menjadi pria yang dapat membahagiakanmu. Bahkan aku terlalu pengecut untuk memelukmu dan mengucapkan aku mencintaimu Yoong”.

Matanya mulai berkaca-kaca, tanpa dikomando air bening itu menetes dari sudut matanya. Segera kurengkuh ia dalam dekapku.

“Aku akan menunggumu hingga mencintaiku. Mulai mala mini berjanjilah padaku kau mau memulai semua dari awal, kita jalani hidup ini dengan cinta tak seperti hari kemarin”, lanjutku.

“Aku selalu berfikir kau membenciku itu sebabnya kau selalu menolak masakanku dan selalu bersikap angkuh dihadapanku. Dan membuat perasaanku benar-benar diuji dengan radsa bimbang. Tapi mulai malam ini dan seterusnya aku yakin bahwa aku juga mencintaimu oppa. Donghae oppa saranghaeyo”.

Aku melepaskan pelukan erat kami dan tertawa bersamanya lalu, aku mendekat kearah wajahnya dan first kiss kami pun terjadi.

END ^.^

Akhirnya bagaimana readers?? FF kacau tapi biarlah, yang penting author gembira hahaha. See you

Loving You

Published Oktober 14, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

Cast : Im Yoona

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Im Seolung

Genre : romance, AU, Married Life

Ratting : PG 13

Note : hai,, aku bikin FF super Gaje  lagi nieh… buat ngilangin stress karna ulangan dan tugas di sekolah. Hehehe.. bingung mau ngomong apa lagi, mungkin ini akan jadi chapter atau twoshoot-threeshot, tergantung jadwal dan mood yah. SELAMAT READING, DON’T FORGET TO RCL,, !!!!

Baca selengkapnya →