yoona

All posts tagged yoona

Prolog “Buterfly” FF YH

Published Februari 1, 2013 by pyrossoneff

Kerlap-kerlip sinar malam yang nampak remang-remang itu menghiasi sebuah lantai dansa. Dentuman keras, yang dimainkan oleh seorang DJ di sudut ruangan menggema begitu dahsyat.

satu, dua bahkan puluhan anak manusia bergabung ditempat itu. Mereka membaur menjadi satu menikmati keindahan surga dunia. dihadapan meja bundar tak jauh dari bar, berkumpul beberapa gadis berpakaian yang bisa dibilang cukup sexy.
**

“Apa yang kau lakukan??”, teriak gadis itu sambil menarik selimut menutupi seebagian badannya. Sementara lelaki disampingnya masih saja larut dalam dunia ketidak sadaran dari mimpi. Ia mengacak rambut hitam berkriting itu dan membiarkan dada sixpax nya tak tertutupi oleh sehelaipun kain.
**
“Hanya pernikahan jalan satu-satunya. Bagaimana sayang?”

*****

Hayo gimana?? baguskah? cast’nya YoonHae. aku usaha’kan minggu depan publish coz jadwal sekolahku lumayan ga padet..

Iklan

Story in Christmas

Published Desember 25, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Krystal Jung a.k.a Krystal Im
Choi Minho
Genre : Romance, family, friendship
Rating : PG13
mc
= = = = =
Semburat jingga diujung jalannya gulungan ombak semakin kontras berpadu dengan liukkan pohon kelapa. Menatap senja dari balkon kamar sungguh bisa mengurangi sedikit rasa gundah dalam hati. Lamat-lamat tapi pasti. Dibalik sinar sang mentari yang mulai melangkah kembali keperaduannya, aku melihat rekaman demi rekaman dari kebersamaan kita.
*
Pesta topeng untuk anak usia 18 tahun yang membosankan. Orang-orang ini terlihat aneh, entah muda atau tua bahkan para pengisi acara dan bartender saja mengikuti kemauan adikku yang seperti bocah itu. Hanya akulah satu-satunya manusia yang berani hadir tanpa topeng disini. Sebenarnya aku datang juga alasan keterpaksaan belaka. Mengingat ini adalah pesta ulang tahun adikku. Aku merasa seperti orang asing disini.
Kuputuskan untuk duduk di sofa menghadap ke panggung yang sedang menampilkan para penyanyi yang bersuara fals. Aku pun mulai menikmati segelas buble tea, hingga kulihat Krystal berjalan menghampiriku dan dua orang pria mengekor dibelakangnya sambil melepas topeng mereka.
“Eonni, ini Minho dan yang memakai kemeja biru itu Donghae oppa. Ehm dia sepupu Minho”.
Aku menatap lelaki itu satu per satu. Kemudian pandanganku berhenti di depan Minho. Menatapnya intens dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Dian namja chingu-mu Krys”, ucapku menunjuk Minho.
“Aniyo eonni, kami hanya chingu”.
Aku melihat ada yang aneh dari adikku itu. Dia terlihat bergetar dan terus menerus menggigit bibir bawahnya. Sementara namja bernama Minho itu terlihat menggaruk tengkuk yang aku yakin sama sekali tak gatal.
“Tak perlu berbohong, aku tidak akan katakana hal ini pada ayah”.
Kini giliran aku menatap lelaki yang lebih tua dari Minho.
“Dan kau ! Sudah tua mau saja bergabung dalam sandiwara adikku. Kau dan Minho, kalian hanya chingu bukan?”.
“Eonni kau keterlaluan!”.
Sekilas kutatap Krystal yang terlihat mulai merajuk. Aku tak mempedulikan hal itu. Segera kuraih mantelku dan berjalan keluar menjauhi pesta remaja labil itu.
“Noona tunggu!”.
Seseorang berteriak tak jauh dari langkahku berhenti. Kulihat pria yang tadi bersama Minho tadi berjalan mendekat kearahku.
“Ada apa lagi? Bukankah ucapanku tadi benar? Aku sibuk tak ada waktu untuk meladeni orang sepertimu”.
“Ada apa dengan sikapmu? Kau tak sadar betapa sakit hatinya Krystal?”.
“tsk~ hei tuan siapa kau? Berhentilah jika kau tak tahu apa-apa. Ini bukan kali pertama Krystal menggunakan aku agar ayah memperbolehkan dia pacaran”.
Kulangkahkan kakiku kembali. Aku mendengar beberapa kali ia meneriaki namaku namun tak pernah kupedulikan.
*
Lagi-lagi langkah ini membawaku kemari. Cherry Blossom yang indah, kenapa kalian harus gugur?. Lalu kenapa disaat kalian gugur, salju juga ikut menggugurkan diri?. Andai kalian tak pernah gugur secara bersamaan, mungkin dia tidak akan pergi meninggalkan ku sendiri bersama ribuan kenangan ini.
*
Pukul 11.50. Aku masih sibuk dengan lembaran kertas dan sebuah computer di hadapanku ini. 10 menit lagi waktu istirahat makan siang. Tidak. Jika aku pergi makan, lalu bagaimana dengan pekerjaanku ini?.
“Im Yoona, istirahatlah. Jika kau ingin bergabung dengan kami, temui kami di Restaurant Cina persimpangan jalan”.
Itu ajakan ke 7 dari teman seruanganku. Aku membalas ajakan mereka hanya dengan senyum. Lalu kembali mengetik laporan-laporan ini.
“Delivery tiba..!”.
“Semua sudah pergi makan, dan aku bukanlah si pemesan makanan”, jawabku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari monitor computer.
“Coba berbalik dan dan ambillah ini nona”.
“haish~ ada apa denganmu, aku… kau?!”.
Aku terkejut, ketika berbalik menjumpai lelaki teman Minho dan Krystal semalam. Dia sedang tersenyum kepadaku. Dan ada dua kotak besar ditangan kanan dan kirinya. Yang aku yakini kotak itu berisi makanan.
“Kenapa kau bisa disini Donghae ssi? Dan darimana kau tahu aku bekerja disini?”.
“Sangat mudah mencari Im Yoona, si pekerja keras yang menjabat sebagai marketing meneger di Lee Corp”.
Dia kembali tersenyum, seakan gigi putih susu itu tak takut kering. Hal itu membuatku muak dan merasa migren.
“Sekarang berhenti bekerja dan makanlah. Aku yakin pemimpin Lee Corp ini tak akan marah jika kau menggunakan waktu 15 menit untuk menyantap sasimi juga bulgogi yang aku bawa”.
Dia menarik jari-jariku yang berada diatas keyboard untuk menyentuh sumpit dan sendok.
“Aku juga membawakanmu green tea untuk minumannya. Jadi kumohon habiskan ya”.
“ kau ini… baiklah akan aku makan”.
“Yasudah aku pergi dulu, agar kau tak merasa terganggu. Jangan lupa diahabiskan ya”.
Dia mengusap kepalaku kemudian melangkah pergi.
“Donghae ssi, kamsahamnida”, ucapku.
Kini dia behenti kemudian berbalik. Dia tak membalas ucapan terima kasih ku, dia hanya tersenyum. Membuatku mengumpat sendiri. Aku tersenyum mengingat tingkahnya yang baru mengusap kepalaku. Aku merasa debaran kecil di jantung ini.
*
Di tempat ini, dulu pertama kali dia datang dan mengajakku pergi diakhir pekan. Tidak banyak aktifitas yang kami lakukan di kencan pertama itu. Hanya pergi menyaksikan opera dari serial “Goong” lalu pergi ke taman untuk naik biang lala. Dan terakhir dia membelikanku sebungkus gula kapas yang manis itu.
Dia –Cho Kyuhyun- lah yang mengajarkan ku betapa pentingnya arti kesetian dan cinta yang tulus
*
Hari ini aku sangat sibuk hingga merasa lelah seperti ini. aku memasuki rumah sambil menepuk-nepuk pundakku. Berharap rasa lelah ini akan sedikit berkurang. Tak seperti biasanya aku melihat eomma dan appa ada dirumah. Eomma tersenyum lebar kepadaku.
“Yoona-ah kau tahu, ternyata sahabat eomma mempunyai putra seusiamu. Bagaimana? Kau bisa kan akhir pecan ini pergi bersama putra sahabat eomma?”.
Aku berhenti menaikki anak tangga menuju kamarku. Dan kutatap eomma dan appa secara bergantian.
“Berapa kali kukatakan pada kalian? Aku tidak tertarik dengan kencan buta!”.
Aku berlari menuju kamar dan menutup pintu dengan lumayan keras. Aku menangis dibalik pintu. Menyembunyikan kepalaku didalam kaki yang tertekuk.
*
“Maafkan aku young, karena aku tidak menyadari jika kemarin kau berulang tahun. Untuk hadiahnya bagaimana jika aku hanya memberikanmu scarf ini?”.
“Ya, terima kasih banyak oppa”.
Dia mengenakan scarf bermotif strawberry itu keleherku. Dan kami pun bangkit dari sebuah kursi ditaman. Jari-jari kami saling bertautan dengan mesra dan kaki kami melangkah seirama seperti alunan melodi. Dan salju turun seiring dengan setiap detik kebersamaan yang kami lewati.
*
“Membosankan sekali”, gumamku. Seperti rutinitas biasa. Bekerja demi membunuh waktu yang selalu kulakukan. Tapi hari ini terasa beda. Aku merasa sangat bosan untuk bekerja.
Tiba-tiba sebuah tangan yang menggenggam segelas cappochino terulur tepat didepan dua bola mataku. Mata ekorkupun menangkap sosok si pemilik tangan tadi.
“Ini untukmu”.
“Donghae ssi, kenapa kau bisa diruanganku?”.
“Apakah kita perlu mengulang perkenalan”.
Aku tak mengerti dengan arah pembicaraan pemuda dihadapanku ini. akupun mengerutkan dahi. Melihat aksi apa yang ia lakukan berikutnya.
“Perkenalkan, namaku Lee Donghae. Kau bisa panggil aku Donghae. Aku putra bungsu dari presdir Lee SungMin”.
“Mwo?”.
Apa yang dia katakana barusan?. Ya Tuhan aku sudah tidak tuli bukan?. Dia putra bungsu Presdir, itu berarti dia juga atasanku. Kenapa aku tak pernah melihat dia sebelumnya?,
“ Aku baru satu minggu disini. Sebelumnya aku mengurus cabang di Singapore”.
Aku hanya tersenyum lalu meminum cappochino yang ia berikan.
“Bukankah kau bilang tadi, kau lelah bekerja terus? Ayo pergi ke Lotte denganku, bukankah perempuan suka berbelanja? Tenang aku yang akan traktir. Asal barang yang kau beli tidak terlalu mahal”.
“Hei itu tidak perlu”.
Selalu, pria ini tak mau mendengarkan jawabanku. Dia gemar sekali bertindak tanpa berfikir. Dia juga hobi sekali menyeret tangan orang, seperti ia menyeretku sekarang. Apa dia tidak pernah berfikir jika aku ini orang sibuk, yang tidak suka shopping.
*
Tiga hari lagi natal. Kami sedang berada di restaurant Italia. Kami duduk dimeja dekat jendela, dia terus memperhatikan anak-anak kecil yang tengah asyik bermain dengan gumpalan salju. Itu membuatnya tersenyum. Entah kenapa senyuman itu terlihat miris, membuatku merasa sedih.
Dia terus mematri garis simpul itu diwajah tampannya. Dan aku baru tersadar jika akhir-akhir ini, kulit itu terlihat semakin pucat. Hingga makanan yang kami pesan tiba, dia masih menatap buliran salju yang jatuh.
*
Aargh, lelaki ini benar-benar bisa membuatku gila. Dia tak main-main rupanya. Tadi dia mengajakku bermain di taman hiburan lalu dia memaksaku membelikan beberapa pakaian, yang sebenarnya tidak aku butuhkan. Dia juga memaksa untuk mengantarku pulang.
Sesampainya kami didepan rumah, ia membukakan pintu mobil untukku. Kemudian dia tersenyum dan membungkuk kepada kedua orang tuaku yang berdiri diambang pintu.
“Rupanya dia pria yang membuatmu menolak kencan dengan anak sahabat eomma? Tidak masalah, dia pria yang tampan. Dan sepertinya dia juga baik. Bukankah begitu yeobo?”, ucap eommaku sambil menyikut appa.
“Eommamu benar Yoong, kapan kau akan membawa dia bertemu denganmu?
“Bukankah kalian baru saja bertemu. Lagipula dia hanyak putra bosku. Hubungan kami tidak seperti yang kalian bayangkan”.
Aku menerobos masuk. Orang tuaku ini sungguh berlebihan menurutku.
“Yoona, kau tak perlu malu. Jika saja dia kekasihmu, kami juga pasti akan merestui hubungan kalian”.
“Sudah kukatan, dia bukan siapa-siapa. Lebih baik kalian berikan restu saja kepada Krystal untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis”.
Aku melirik Krystal yang tengah asyik menonton acara di televisi. Dia memberiku tatapan death glare-nya yang membuat aku tersenyum dan bergidik. Aku kembali berjalan kearah kamar mengabaikan ocehan orang tuaku tentang Donghae.
*
Sudah ke dua kalinya dia tak menepati janji. Dia selalu datang terlambat bahkan tak jarang dia tak datang menepati janji yang ia buat.
Tadi sore dia mengirimiku sebuah pesan. Dalam pesan itu tertulis bahwa dia ingin bertemu denganku di Sungai Han. Tapi sudah 2 jam aku menunggu, batang hidung pria itu tak kunjung terlihat. Aku mulai jengah dan mulai beranjak pergi.
Tiba-tiba seorang gadis kecil datang menghampiriku. Dia memberiku setangkai mawar putih dengan sepucuk surat yang terselip.
“Maaf sepertinya kita tidak jadi bertemu. Maaf telah membuatmu menunggu. Aku mencintaimu”
Dengan gontai aku melangkah meninggalkan Sungai Han. Cho Kyuhyun, kau pria hebat sekali lagi kau berhasil membuatku merasakan kecewa dan kini kau kembali membuatku menangis.
*
“Eonni, satu minggu lagi natal. Ayolah kau cepat mencari kekasih. Aku tak mau jika ditinggalkan oleh Minho oppa”.
Sebenarnya aku tak tega jika setiap kali melihat Krystal merengek. Aku merasa seperti eonni yang kejam. Gara-gara aku tak memiliki kekasih, Krystal jadi mendapatkan ultimatum dari ayah agar tidak berpacaran lebih dulu daripada aku.
“Kau fikir mencari pacar itu lebih mudah dari menghitung rumus fisika?”.
“Ini sudah tahun ke empat. Mau sampai kapan ka uterus seperti ini”.
Kuhentikan aktifitas menyisir rambut. Pandanganku berpaling kepada sebuah foto didinding kamarku. Dia terlihat tampan tersenyum seperti itu.
*
Dia itu selalu special, hanya dialah pria yang bisa membuatku tidak bisa marah lebih dari 2 hari dengannya.
Sore ini, kami sedang berada di Namsan Tower. Kami, lebih tepatnya ini adalah ideku untuk memasang gembok cinta. Mengikuti jejak ribuan pasang kekasih yang telah meletakkan gembok mereka disini.
“Apa yang kau tulis di gembok oppa?”.
“Kau ingin tahu Yoong?”.
“Tentu saja”.
Dia memperlihatkanku sepasang gembok berbentuk love dengan warna berbeda. Yang satu berwarna merah muda dan yang satu berwarna biru muda. Gembok berwarna merah muda itu terdapat tulisan’YloveK”, sedangkan gembok yang lain tertuliskan “K&Y”.
Aku menatapnya, kemudian terdengar gelak tawa dari kami berdua.
*
Hari ini aku pulang pukul 19.45. aku jalan kaki menuju halte karena mobilku di service. Tiba-tiba di jalan aku melihat nya turun dari mobil.
“Yoona-ah kenapa kau jalan kaki?”.
“aish~ kenapa setiap kemanapun aku melangkah selalu ada kau Donghae ssi”.
“Mungkin jodoh”, jawabnya sambil memasang wajah innocent.
Jawaban yang kekanakan. Aku tak menggubrisnya dan tetap berjalan menjauh. Tiba-tiba tanganku menghangat, rupanya dia sedang menggenggam tanganku. Lalu menyeretku masuk kedalam mobil.
“Biar kau aku antar”.
Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan diantara kami. Baik aku ataupun dia, sama-sama sibuk dengan angan masing-masing.
“Sudah sampai, apa kau ingin aku membukakan pintu untukmu lagi?”.
“Apa? Ah, tidak usah. Kamsahamnida”.
Dasar lelaki menjengkelkan, dia kadang bersikap baik kadang juga menyebalkan dan terkadang bertingkah seperti anak-anak. Pria yang labil.
*
“Katakan padaku jika semua yang tertulis di surat ini bohong oppa!”.
“Maafkan aku Yoong, tapi inilah realita kehidupan”.
“Sejak kapan?”.
Air mataku tak bisa lagi kubendung. Hatiku tiba-tiba saja membeku, seperti barusaja tersambar kilatan petir. Aku menatap wajah pucat itu dengan nada sendu.
“Sejak aku berusia 15 tahun. 6 tahun ini aku menutup sebuah kenyataan darimu. Aku tak mauh dikasihani olehmu”.
Tangisan ku terpecah semakin keras. Betapa bodohnya aku, 7 tahun kami menjalin hubungan. Ternyata sudah 6 tahun dia tersenyum palsu demi kebahagianku. Aku merubahnya menjadi orang egois. Karena akulah dia jadi menanggung semua ini sendiri.
Dia merengkuhku. Kami berpelukan cukup lama.
*
Entah sudah berapa lama. Kini hubunganku dengan Donghae semakin dekat. Walau tidak begitu baik. Karena hanya ada perdebatan jika kami bersama. Lebih tepatnya akulah yang memperkeruh suasana.
Tapi itu terlihat lucu, melihat wajah cemberutnya yang menawan setiap kali dia kalah beertengkar dariku.
Dia juga rutin membawakanku makan siang. Karena aku yang terlalu sibuk hingga tak menyempatkan diri untuk melangkah ke kantin.
“Yoona-ah malam natal nanti, kau harus mau jalan denganku”.
“Shireo, aku mau berkumpul dengan keluarga dirumah”.
“Ayolah, Krystal juga palingan pergi dengan Minho”.
Dia terus merengek seperti bayi. Rengekannya ini sungguh membuatku tak tahan. Dan tanpa kusadari akupun mengangguk.
*
“Penyakitku ini adalah keturunan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena dia masih memberiku hidup untuk 6 tahun terakhir. Keponakanku hanya bisa bertahan 3 tahun semenjak dokter memberikannya vonis”.
“Oppa..”.
“Kumohon jika suatu saat nanti Tuhan memanggilku, hiduplah dengan bahagia. Dan cintailah seseorang yang Tuhan kirimkan sebagai penggantiku. Perlakukan dia sama seperti kau perlakukan aku”.
Aku tak menjawabnya. Justru ucapannya semakin membuatku terisak.
*
Sesuai permintaannya, aku menuruti untuk pergi dengannya di malam natal. Kami duduk di bangku taman, menyaksikan kerlap-kerlip lampu yang menghias pohon natal, dan memperhatikan gumpalan salju itu jatuh dari dahan-dahan pohon ditaman.
Segrombolan anak kecil tertawa riang sambil saling melempar bola salju.
Terlalu asyik memandang kemeriahan malam natal hingga tak sadar, jika Donghae sudah tidak ada disampingku. Aku mencoba bangkit dari posisi duduk namun seseorang menutup mataku. Membuat semuanya menjadi gelap.
“Marry Christmas”, teriak seseorang itu.
“Yak! Kau Lee Donghae”.
Diapun melepas tangan yang menutup mataku, kemudia tertawa lebar diahadapanku. Sementara aku mengerucutkan bibir dan kembali duduk.
“Hei jangan marah, aku bermaksud untuk bercanda”.
Sekilas aku meliriknya. Ia terlihat lucu sekarang dengan wajah menyesal itu. Entah sejak kapan kini jantungku merasa berdebar kencang. Kuakui, dekat dengannya setiap hari dengannya membuat aku merasa nyaman. Bahkan aku merasa ini tak sekedar rasa nyaman. Mungkin aku mulai menyukainya. Berfikir tentang perasaanku sendiri membuat pipiku memerah, bukan karena rasa dingin.
“hei wajahmu memerah bak kepiting rebus”.
“Aniyo, aku hanya kedinginan Donghae-ah”, elakku.
Tanpa sepatah katapun, ia segera melepas mantel hangatnya dan memakaikan untukku.
“Sebenarnya apa yang membuatmu terdorong mengajakku kemari?”.
“Eumb.. tunggu sebentar Yoona aku harus pergi ke mobil”.
Aku menunggu hingga 10 menit lamanya. Dia pun datang. Aku terkejut sekaligus bertanya-tanya ketika ia datang membawa sebuket bunga.
Dia tersenyum kemudian berkata” This is for you baby”.
Aku mengerutkan dahi kemudia tawaku pun pecah.
“Apakah ada yang lucu? Kenapa kau tertawa Yoona?”.
“Apa maksud kau memberiku bunga”.
“A.. Ah, would you be my girlfriend?”.
“…”. Aku diam membisu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku belum yakin dengan perasaanku terhadap dia. Karena aku masih mencintai Kyuhyun.
“Aku tahu dari Krystal, jika kau masih terbayang-bayang dengan mantan namja chingumu. Aku siap menunggu Yoong”.
“Baiklah, aku akan mencoba mencintaimu Donghae-ah”.
“Benarkah itu? Gomawo Yoong”.
Kami pun berjalan ke mobil untuk pulang. Sebelum pulang aku, menyempatkan melirik kearah bangku yang kami duduki. Ku lihat dia sedang duduk ditempatku tadi. Dia tersenyum bahagia kearah kami. Sebelum bayangnya mulai menghilang.
“Sekarang aku tahu yang kau katakana waktu itu Kyu oppa, mungkin Donghae lah pria yang Tuhan kirim sebagai penggantimu. Marry Christmas, semoga kau bahagia disana oppa”.
END
Hai gimana ff nya? Gaje bukan? Maaf kalau banyak typo.

Spring Surprise

Published Desember 21, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Lee Donghae
Ratting : PG14
Genre : Romance
Note : “Hadeuh maaf nie ff, niatnya mau suasana winter eh malah jadi kayak gini, mau ngrombak mood nya lagi gak ‘ngeuh’. Ya udah deh nikmati apa adanya sajo. Hwheheh maaf ya kalau banyak typo dan cerita nya rada absurd. Tinggalkan koment untuk referensi saya. Gomawo readers”.
nn_副本
###
Mata bening itu tiba-tiba berubah menjadi sayu. Seakan kesedihan yang ia derita begitu dalam, tetesan bening mulai mengalir dari sudut mata nya membasahi paras ayu yang Tuhan ciptakan. Sang surya mulai kembali ke peraduannya, meninggalkan manusia yang sedang sibuk mengakhiri aktifitas hari itu.
Gedung itu mulai sepi. Sementara gadis berambut gelombang nan panjang itu tak kunjung berbenah. Ia masih berdiri, terisak tanpa suara. Ia biarkan angin malam membelai wajahnya dan membuat sebagian rambut yang terurai itu mengayun bebas.
###
Truffle Salad, onion soup dan roti gandum berlapis saus mostar yang terlihat menggoda lidah tertata apik di meja no. 9 sebuah bistro pinggir Kota Paris.
“Bon Appetit”, seru Yuri.
Semua terlihat tersenyum dengan sendok garpu di tangan kanan juga kiri mereka. Semuanya segera menikmati makan malam dengan tenang. Namun, malam ini Yoona terlihat tak bersemangat. Gadis yang terkenal dengan julukan “shikshin” itu hanya makan sedikit. Bukan karena lidah Korea nya yang tak cocok dengan lidah Paris, atau apa. Tapi malam ini dia benar-benar tak mempunyai selera makan.
Usai makan, mereka berpisah. Yoona dan Seohyun kembali ke Apartement, sedangkan Yuri dan Tiffany pergi menghabiskan malam awal musim Semi di Paris.
Semenjak bersahabat di Junior High School, hubungan mereka sangat harmonis. Jarang timbul pertengkaran hebat diantara ke-empatnya. Kemanapun mereka hampir selalu bersama. Hingga masuk ke Universitas yang sama. Mereka juga memilih tinggal di Apartement yang sama dan Apartement itu terbilang kecil untuk seorang putri konglomerat seperti mereka. Hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan sepetak dapur di Apartement itu.
Yoona yang terlihat lesu tak langsung tidur setelah tiba di Apartement, melainkan duduk di balkon. Ia memandang sendu bulan yang tak nampak menunjukkan bentuknya dengan sempurna. Itu membuat Seohyun khawatir. Apalagi Yoona bukanlah tipe gadis yang mudah mengutarakan isi hatinya.
“Aku rindu sosoknya, dilain sisi aku mempertanyakan ketulusan hubungan kami Seo”.
Yoona memulai untuk bicara ketika Seohyun mulai berdiri disampingnya dan terus-terusan memandang wajah cantiknya.
“Aku memang tidak paham akan hubungan kalian, tapi mungkin jika eonni mau bercerita lebih aku bisa member solusi eon”.
“sudah satu bulan terakhir, dia belum pernah menghubungiku terlebih dahulu. Awalnya aku fikir itu tidak masalah sampai seminggu ini waktu berjalan. Dia mulai berani tak membalas e-mail dan telfonku Seo”.
Yoona menghambur kepelukan Seohyun dan mulai terisak membuat bahu sisi kanan Seohyun basah karena air matanya.
“Uljima eonni, mungkin Donghae oppa sedang sibuk dengan bisnis baru di Jeju-do. Sabarlah, aku yakin dia juga merasakan rindu sama seperti eonni merindukannya. Cinta kalian itu begitu besar eonni”.
Seohyun mengusap air mata Yoona dengan punggung tangannya. Dan Yoona pun mulai menarik senyum simpul dibibirnya.
Dengan mengenakan hoodie berwarna shapire blue dan hotpens pink ia berjalan mengitari taman. Mata coklat khas asia itu benar-benar termanjakan dengan beberapa macam bunga di taman pusat kota. Memang bukan kali pertama baginya menikmati musim semi di Paris. Hanya saja ini memang yang pertama baginya berjalan-jalan memandang hamparan bunga lavender, mawar juga bunga matahari favoritnya di Kota tersebut.
Setelah puas berkeliling, ia duduk di sebuah bangku taman. Ia mengeluarkan sebuah buku dari tas. Buku yang berisikan foto-foto dirinya dengan sang kekasih. Foto yang melukiskan perasaan setiap moment kebersamaan mereka. Mengenal dalam waktu hampir satu tahun sungguh membawa kesan yang mendalam bagi Yoona. Dalam waktu satu tahun pula ia merasakan indahnya cinta. Tiba-tiba gadis itu kembali menangis, ia kembali merindukan sosok bernama Lee Donghae. Padahal bukan kali pertama mereka tak bertemu selama satu bulan. Di musim semi lalu bahkan mereka tak bertatap muka selama 3 minggu, namun Donghae masih sempat menghubungi Yoona minimal 4 kali sehari entah itu bentuk pesan singkat, telefon atau e-mail. Berbeda dengan kali ini yang benar-benar tanpa komunikasi.
“Hapuslah air matamu Yoong”.
Yoona menatap pemilik tangan yang sudah berbaik hati mengulurkan sapu tangan untuknya. Dilihatnya Tiffany yang berdiri sambil tersenyum, senyum yang tak mampu ditolok oleh siapapun yang melihat. Tanpa di perintah gadis keturunan Amerika-Korea itu langsung duduk disamping Yoona.
Tatapannya penuh dengan mistery bagi Yoona. Dan senyum maut itu tak henti-hentinya ia pahat dengan rapi dibibir indahnya.
“ Berhenti bersedih, kau tahu mungkin saja Donghae akan sangat terluka jika tahu bidadarinya hanya menangis sepanjang hari di Kota Cinta ini”.
“Kau yakin, Donghae oppa akan berfikir seperti itu?”.
“Kenapa tidak? Dari awal kau perkenalkan kami dengannya. Aku sudah sangat yakin dia adalah tipekal pria setia. Yang hanya mampu mencintai satu gadis untuk selamanya. Dan itu kau. Im Yoona”.
Ucapan Tiffany berhasil membuat Yoona tersenyum lebar, bahkan kini terlukis semburat merah di kedua pipi gadis itu. Bagi Yoona, ucapan Tiffany adalah sugesti yang sangat mujarab untuk siapapun orang yang ia nasehati.
“Sebenarnya aku ingin kau mendengarkan ceritaku dan memberiku pertimbangan. Tapi aku tidak tega jika kau nanti menjadi panas dingin karena ceritaku”.
“hahahaha.. yang benar saja? Memang kau ingin bercerita apa eonni?”.
“Kau yakin siap mendengarkan?”.
Yoona mengangguk dengan semangat.
“Besok Hyukjae oppa datang kemari. Dia mengajakku, ani maksudku kita semua datang untuk kencan bersama”.
“Mwo? Aku tak bisa ikut. Kalian asyik, Seohyun dan Kyuhyun satu jurusan, Siwon sedang menemui klien disini. Sementara aku? Tidak aku tidak mau menjadi obat nyamuk kalian”.
“Ayolah Yoong, Hyuk oppa pasti akan marah padaku. Kenapa kau setega ini Yoong, lagi pula Hyuk membawa sahabatnya. Kau bisa jalan dengannya selagi kami sibuk dengan pasangan masing-masing”.
“Sahabatnya yeoja atau namja eon?”.
“Mollayo”.
“Aku tetap tak akan ikut Tiff eonni”.
“Ayolah Yongie”.
Berkali-kali Tiffany merayu, hingga 2 jam lamanya. Akhirnya Yoona mengangguk dengan terpaksa.
###
Para gadis itu sedang sibuk berdandan. Mereka asyik berpatut di hadapan cermin. Dan sesekali saling menanyakan pendapat masing-masing. Kecuali Yoona yang tampil seadanya. Celana jeans, kaos coklat muda ditutup dengan blazer tua. Tak lupa dengan sepatu cats hitam dan rambut terurainya.
Yuri dan Seohyun yang melihat Yoona saling bergeleng dan mendecakkan lidah.
“Yaa! Eonni, lihatlah penampilanmu mala mini. Kau ingin jalan santai atau apa huh? Itu sangat jelek”, sungut Seohyun diikuti anggukan oleh yang lain.
“Sudahlah jangan cerewet, aku sedang malas berdandan”, jawab Yoona dengan cuek.
“Aniyo, kau akan mempermalukan kami dihadapan sahabat Eunhyuk oppa!”, balas Yuri.
Akhirnya Tiffany dan Yuri menyeret Yoona untuk duduk di meja rias. Seohyun memilihkan gaun berwarna hijau tosca dengan panjang lengan ¾ dan panjang gaun 5 cm diatas lutut lalu dipadukan dengan lagging senada dengan warna kulit. Membuat Yoona nampak begitu anggun dan mempesona.
“Nah seperti ini kan terlihat cantik”, ujar ketiganya.
Sementara Yoona menarik nafas panjang lalu tersenyum begitu melihat hasil dari sahabat-sahabatnya.
Selang beberapa menit kemudian terdengar bunyi klakson mobil untuk menjemput mereka.
Begitu sampai di sebuah bistro, mereka tercengang karena keadaan bistro itu sepi. Hanya ada mereka berempat dan bistro itu terkesan romantic.
“Hallo nona cantik”, ucap seseorang.
Keempat gadis itu pun memandang kearah suara. Di meja pojok dekat jendela, terlihat Kyuhyun duduk mengenakan kemeja kotak berwarna putih merah.
“Oppa? Kemana yang lain?”.
Seohyun berjalan menuju meja calon kekasihnya. Begitu juga yang lain, mereka ikut dibelakang Seohyun.
“Mollayo, yang aku tahu dari Eunhyuk hyung, aku kemari untuk menahanmu dan Yuri disini. Karena Siwon Hyung sedang ada diperjalanan. Lalu Tiffany dan Yoona harus melangkah kelantai atas”.
“Mwo? Ya sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan?”.
Yoona membesarkan volume suaranya sambil meremas bagian ujung roknya menahan emosi.
“Sabar. Sudahlah kita turuti saja Yoong”, Ucap Tiffany.
Ia segera mengelus bahu Yoona dan menarik gadis yang sedang badmood itu untuk melangkah bersama menuju lantai 2.
Keadaan dilantai 2, cukup remang hanya ada sinar lilin di beberapa meja dan sinar rembulan dari jendela tanpa tirai. Eunhyuk yang duduk menghadap tangga, tersenyum melihat kedatangan kekasih dan sahabatnya. Tiffany membalas senyuman kekasihnya dengan lambain tangan juga smirk smile-nya yang khas. Berbeda dengan Tiffany, Yoona justru terlihat mengerutkan kening ketika melihat Eunhyuk tidak datang dengan sendiri. Dan seperti dugaannya, bahwa sahabat Eunhyuk itu adalah namja. Apa yang ia takutkan mungkin saja akan terjadi. Ia takut, walaupun Donghae sedang berada jauh darinya tapi tidak menutup kemungkinan ia tahu ia bertemu atau bisa dibilang melakukan double date dengan seorang namja. Dan akhirnya menimbulkan kesalahpahaman yang akan memperkeruh keadaan hubungannya dan Donghae.
Ketika Yoona ingin melangkah begitu saja tanpa memandang wajah sahabat Eunhyuk. Ia tersentak ketika merasakan tangan kekar memeluknya erat dari belakang. Dengan lancang orang itu meletakan wajahnya di bahu Yoona. Namun dari deru nafas yang Yoona rasakan juga dari bau parfum orang itu membuat Yoona ingin menumpahkan air matanya sekarang juga. “Oppa”, kata itu keluar begitu saja dari mulut mungilnya. Walau pelan tapi masih cukup keras untuk mereka dengar bersama.
“Hae oppa, sudah lepas dulu. Jika kalian ingin menyelesaikan masalah kalian, sebaiknya nanti saja. Tahan dulu emosi kalian hingga selesai makan malam”, ucap Tiffany sambil mengerling kearah Eunhyuk.
###
Taman itu nampak sepi, bulan bersinar begitu terang dengan sebagian awan tipis yang menutupi bentuk bulatnya. Gadis itu kekeh untuk berdiri membelakangi kekasihnya yang duduk sambil menunduk seolah ingin menenggelamkan wajahnya di waktu itu juga.
“Mianhe, mianhe”.
Lelaki itu mencoba membuka pembicaraan dengan sendu.
“Sekarang alasan apa yang ingin kau pakai? Atau tidak ada alasan sama sekali. Katakan saja jika kau sudah lelah dengan hubungan kita”.
“Mianhe, bukan seperti itu Yoong, aku benar-benar dibuat sibuk dengan pekerjaan di perusahaan baru keluarga kita”.
“Oh, begitu sibuknya kah hingga kau tak bisa membalas pesanku? Bahkan untuk mengangkat telfonku. Tak bisakah kau meluangkan waktu hanya 1 menit saja untuk kekasihmu?”.
“bukan begitu Yoong, kupikir jika aku bekerja dengan sungguh-sungguh dan lembur setiap hari, pekerjaanku akan cepat selesai dan kita cepat bertemu”.
Donghae mulai terisak. Komitmennya sebagai namja yang tak boleh menangis dihadapan wanita yang ia cintai pun runtuh seketika. Ia merasa sangat bersalah kepadakan gadis yang berdiri membelakanginya.
“Berapa kali aku katakana padamu oppa, jangan pernah memaksa menyelesaikan pekerjaan dengan cara memaksa tenagamu bekerja terlalu keras hingga tak ingat istirahat. Kau tahu, aku selalu merasa sakit jika ka uterus seperti ini”.
Yoona berjalan mendekat kearah Donghae dan berlutut mensejajarkan dirinya dengan pria yang sedang menangis itu.
“Sekali lagi aku ucapkan maaf kepadamu Yoona-ah. Aku berjanji demi kau, aku akan mulai merubah kebiasaan buruku. Dan sesibuk apapun aku akan mencoba membalas pesanmu”.
Yoona mulai tersenyum dan menghambur memeluk Donghae. Donghaepun membalas pelukan dari gadisnya.
“Setidaknya aku akan mencoba membalas pesanmu dengan singkat hanya 1 kali balasan”, lanjut donghae yang berhasil mendapat jitakan dari Yoona.
“Ya! Kau tak boleh membalas pesanku hanya sekali. Minimal harus dua kali dan dua kali telfon!”.
“hahahahah… baiklah My Princess. Sekarang kau kuantar pulang ke apartementmu”.
Merekapun saling menautkan jari jemari menuju mobil Donghae.
Keesokan harinya, Yoona bersama dengan Yuri, Tiffany dan Seohyun pergi ke kampus bersama menjalankan aktifitas mereka sebagai mahasiswi demi gelar MBA yang akan mereka raih 4 bulan lagi.
Hari ini cukup melelahkan untuk mereka karena selam 8 jam setengah harus mendengar ceramah dari sang dosen tanpa henti.
Ketika pulang, merekapun naik mobil yang bersama. Kali ini mereka menggunakan mobil Tiffany. Ketika Yoona hendak menutup pintu mobil, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan berhenti tepat di samping mobil mereka. Perlahan kaca kursi pengemudi itupun terbuka memperlihatkan wajah sang pemilik mobil.
“Oppa”, pekik Yoona.
“Yoona, turunlah. Biar aku saja yang mengantarmu pulang”.
Yoona melirik eonni-eonninya juga Seohyun untuk meminta persetujuan. Terlihat bahwa mereka mengangguk dan tersenyum tanda jika mereka member ijin. Yoona pun pindah ke mobil Donghae dan duduk dikursi sebelah Donghae menyetir.
Mobil itu terus melaju. Yoona terheran karena Donghae melajukan mobilnya buka ke jalan menuju apartement Yoona melainkan menuju menara Eiffel.
“Kenapa kita kesini”, ucap Yoona yang terlihat binggung saat mobil berhenti tak jauh dari menara Eiffel.
“Ikut saja. Kau pasti tak akan menyesal”.
Dengan pasrah Yoona mengikuti langkah Donghae menuju jembatan sungai tak jauh dari menara Eiffel. Donghae yang menyadari Yoona melangkah jauh dibelakangnya, segera menarik lengan Yoona untuk berjalan menyamakan langkah dengannya.
Sesampai di tengah jembatan. Mereka sama-sama terdiam sibuk dengan fikiran masing-masing hinggga tercipta suasana canggung diantara keduanya.
“Sekarang, eumb apa yang kau rasakan sekarang?”.
“Tentu binggung. Karena oppa bersikap begitu aneh hari ini”.
Donghae tersenyum lalu memandang Yoona yang sedang menutup mata mebiarkan udara sejuk menerpa wajahnya dan membuat scarfnya seakan akan terbang.
“Jika aku merubah rasa binggung itu menjadi haru bagaimana?”.
“Binggung menjadi haru? Hai kau sedang melucu oppa”.
“Aniyo, aku serius. Apa kau begitu tak percaya”.
“Ne. aku sedikit merasakan ragu”.
Donghae mendesah kecil sebelum menjawab tantangan Yoona dengan kata,”Baiklah akan kutunjukkan padamu”.
Dia mulai berlutut dihadapan Yoona, membiarkan Yoona yang clingukkan merasa risih atas perlakuannya yang mulai menarik perhatian orang sekitar.
Donghae terus menjalankan aksinya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna coklat emas yang berbahan bludru. Perlahan lahan ia membuka kotak itu lalu memandang Yoona.
“Yoona, would you marry me?”.
Dengan pasti Donghae mengucap kalimat itu. Sementara Yoona hanya membelalakan mata menatap kesungguhan dari Donghae yang mulai menyentuh tangannya dengan lembut.
“Ne, aku mau oppa”, balas Yoona.
Donghae sangat terkejut menengar jawabang dari Yoona. Ia segera berdiri dan memeluk Yoona erat.
END~
Akhirnya END juga. Makasih readers yang udah membaca, walaupun kalian tak meningglkan sebuah komen atau apapun untuk FF saya. Tapi tak apalah.
Sekali lagi saya ucapkan trimakasih. Dan maaf kalau banyak typo. FF ini saya tulis sambil ngantuk. Hahahahahaa..

Marry U

Published Desember 1, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

Casts : Lee Donghae

Im Yoona

Ratting : PG16+

Note : “ hay author comeback again, mianhe author ngilang lama, habis banyak tugas dari sekolahan. Pas kemarin mau ng post ff, tapi semua FF ku kedelete. Jadi bikin lagi deh. Huh. Ya udah met baca FF baruku ini..”

Marry U

Gambar

===#===

“Cinta bukan permainan hati melainkan perasaan. Dalam cinta, hatilah yang bermain. Dalam keharmonisan suatu pernikahan, tidak hanya membutuhkan cinta, tatapi kita juga butuh komunikasi lebih dari sekedar sahabat”

Bagiku, dia lebih dari sekedar kumpulan warna dalam hidupku, mengaguminya mengajarkanku berbagai hal yang sebelumnya tak pernah kumengerti. Pertemuan dewasa inilah awal kubuka lembaran cinta bersamanya. Tanpa ia ketahui sedikitpun tentang perasaan ini.

===#===

Begitu deras hujan mengguyur kota Seoul, banjir yang terjadi di selatan kota, menyebabkan adanya peralihan jalan yang membawa dampak besar yaitu kemacetan. Terkadang hal ini sungguh menguji emosi. Seperti mini coper berwarna kuning itu yang mencoba mendesak. Sang pengemudi tak menyadari jika dari arah berlawanan telah melaju sebuah truk. Hiingga … “Jedaar!!!”. Kecelakaan itupun terjadi. Hampir tak ada yang selamat dalam kecelakaan itu kecuali satu orang. Dia gadis yang beruntung, mungkin dia adalah gadis titisan bidadari yang Tuhan kirim ke bumi. Disaat kedua orang tuanya meninggal ditempat dengan keadaan terbakar, dia hanya luka ringan dilutut kanannya serta beberapa goresan dipunggung, tentu luka punggung itu pasti akan membekas. Tapi itu tak akan bermasalah karena ini adalah Korea. Luka kulit separah apapun jika sudah dioperasi plastic pasti akan hilang tanpa bekas.

Ayahku yang seorang dokter ahli bedah dengan sigap membantu gadis itu. Sebenarnya orang tuaku sangat shock atas peristiwa itu, karena orang tua gadis itu adalah putri sahabat ayahku sejak mereka berusia 7th.

>>9tahun kemudian<<

Rumah bergaya eropa di tahun 70’an itu masih berdiri kokoh. Beberapa bulan setelah operasi berhasil, ayahku meninggal karena gangguan jantung. Ibu memutuskan pindah ke Mokpo. Tentu saja dengan gadis yang dulu kupikir penyebab kematian ayah. Aku memilih tak ikut dengan mereka dan masih tinggal bersama dengan paman Choi dan putranya.

Setelah 9 tahun kini kuputuskan untuk kembali kerumah ini. beberapa langkah dari bibir gerbang rumah, aku menghentikan langkahku.

“Donghae-ah !”.

Aku menoleh dan aku sangat terkejut, gugup juga bahagia. Wanita paruh baya yang memakai handbook itu tersenyum sambil menggeret sebuah koper. Aku sangat merindukannya. Dialah ibuku.

“Eommeoni.. itukah kau?”, aku berlari menghambur kepelukannya.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar jika ada orang lain bersembunyi dibelakang eomma. Aku tak melihat wajahnya begitu jelas karena dia menunduk. Topi coklat besarnya sangat menghalangi pandanganku.

“Eommeoni nugu?” acungku pada wanita itu sehingga dia mengangkat wajahnya.

===#===

Mwoya? dangsin-i geunyeowa gyeolhon hago sip-eo?” (apa? kau ingin menikahkan ku dengan nya?).

Ucapku tak percaya. Sungguh eomma telah klewat batas. Ku akui dia cantik tapi buatku ini terlalu mendesak.

Eomeoni, dasi gyeoljeong-eul saeng-gag hasigi balabnida, ne?”.( ibu, aku mohon pikirkan lagi keputusan anda, ya?)

Gadis itu semakin cantik saat beragyo seperti ini, dia mengerutkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya.

“ keputusanku sudah bulat. Ayah Lee dan keluarga Im pasti akan sangat setuju. Donghae-ah kau anak yang berbakti pasti mau mengabulkan permintaanku ini kan?”. *Banyangkan, ibunya Hae-ppa itu ibunya Baek Seung Jo di Playfull kiss*

Skak-matt untukku. Mana mungkin aku bisa menolak permintaan eomma jika dia sudah merengek seperti ini.

“Ne eomeoni”, ucapku lesu.

Hari demi hari terus bergulir untuk berganti bulan. Aku dan gadis pilihan eomma –Im Yoona- kini sudah menikah. Hari ini akan ada rapat penting dikantor, hingga mengharuskan ku berangkat pagi. Mobil A5 hitam mulai keluar dari garasi dan melaju ke jalanan yang masih sepi. Kulirik kaca spion di belakang sana kulihat Yoona terjatuh dengan kotak makanan dipelukannya.

Pukul 19.30 kst.

“Ini sudah malam kau tak ingin pulang Donghae-ah”, ujar Eunhyuk sahabatku.

“hmb.. ini tanggung tinggal proses edit lalu selesai, kau pulanglah dulu”.

“Baiklah, Hae ini tugas sekretarismu si Jessica, jadi jangan hanya mengerjakan tugas sekretarismu yang centil itu kau lupa rumah”.

“Ne, arasseo Hyuk”.

Menyebalkan sekali si monyet itu. Apa hanya karena punya sekretaris, kita jadi menelantarkan tugas dengan mudah. Dasar monyet tak tau tahu tanggung jawab.

Akupun melanjutkan pekerjaanku dan pulang setelah 2 jam berlalu. Saat aku pulang, rumah begitu sepi dan lampu belum ada yang dimatikan. Kulihat Yoona tertidur di sofa ruang tv. Akupun mengangkat tubuh mungilnya ke kamar kami.

Sinar matahari pagi yag datang melalui celah-celah tirai jendela memaksaku mengerjapkan mata untuk membiasakan diri. Aku mencium bau sesuatu, hingga langkah ini membawaku ke lantai 1, kulihat Yoona dengan rambut digelung memakai celemek sedang berkutat dengan masakannya. Tak sadar seutas senyum simpul tersungging dibibirku. Senyum itu memudar ketika dia tersenyum kepadaku.

“Donghae-ssi kau sudah bangun? Kau ingin sarapan dulu atau mandi dulu? Aku buatkan omlete dan orange milk favoritmu”.

Aku berjalan ke meja makan dan menarik salah satu bangku.

“Kau yakin aku tak akan masuk rumah sakit karena masakanmu?”.

Dia tak menjawab pertanyaanku kulihat dia mempoutkan bibir indahnya dan membuatnya semakin cantik dimataku.

“Ku rasa tidak apa-apa, ayolah makan kumohon Tn. Lee”.

Aku melirik jam sesaat sebelum mengambil garpu ternyata 15 menit lagi akan ada tamu penting di kantor, jika aku sarapan pasti akan telat. Jadi aku memilih mandi dan langsung berangkat tanpa menyentuh masakan Yoona.

Thank you. I hope our cooperation work well Mr. Takuyasi”.

Belum sempat Tn. Takuyasi beranjak dari tempat duduk, pintu ruangan sudah terbuka. Ku lihat nampak ekspresi terkejut terlukis diwajah Yoona.

“Ah.. mianheyo mianheyo. Kupikir ini jam istirahat makan siang”, ucap Yoona sambil mengusap tengkuk dan menyembunyikan Sesutu dibalik punggungnya.

Mr. Lee, who she is?”.

Aku terperanga mendengar pertanyaan Mr. Takuyasi client ku dari Jepang. Aku menatap Yoona yang sedang menunduk. Tiba-tiba Eunhyuk menyikut lenganku dan membuatku kembali kedalam realita kehidupan. Akupun melangkah kearah Yoona yang masih terpaku. Segera kurangkul dia. Dan dengan lantang aku berkata,”She is my Wife”.

Aku tersenyum kearahnya. Kulihat semburat merah dipipinya. Sepertinya dia sangat terkejut dengan ucapanku.

“You’re married? Well sometime you must invite your wife to dinner with us. Bye Mr. Lee and Mrs. Lee”.

===#===

Aku menatap langit, mala mini benar-benar gelap tanpa satu pun bintang di langit sana. Aku merasakan ada sepasang mata yang sedang mengamatiku hingga aku tergerak untuk melihat orang itu. Yoona melangkah menjauhiku, tapi secepat mungkin aku menarik lengannya hingga ia terhenti.

“Aku hanya ingin minta maaf soal tadi. Aku begitu mengkhawatirkanmu karena semenjak kita menikah kau tak pernah menyempatkan diri untuk sarapan”.

Lagi-lagi seulas senyum tersungging dibibirku. Jantungku berdegup lebih kencang mendengar ia mengkhawatirkanku. Namun sekali lagi tak ada keberanian dalam diri ini untuk menunjukkannya. Hanya elusan di puncak kepalanya.

“tidurlah, jangan berjalan-jalan ditengah malam”, ucapku berjalan meninggalkannya.

Tak terasa sudah satu tahun kami menikah. Hari ini tidak ada kerjaan dikantor dan membuatku seharian duduk bersila di depan tv. Hari ini Yoona pun tak ada jadwal di kampus.

Triing..

Bel rumah kami berbunyi. Yoona yang masih menggunakan celemek berlari kearah pintu.

“Eomeoni !!”, teriak Yoona.

Aku terperanjat dan ikut menghampiri Yoona yang sedang membuka pintu.

“ Aigoo putri eomma, ada apa dengan penampilanmu sayang?”.

Eoma mengelus kepala Yoona lalu menjitak kepalaku.

“Yak babo kenapa kau hanya diam? Bawa tasku ini”, ucap eomma berlenggang pergi merangkul Yoona.

“Yak eomma sebenarnya siapa anakmu Yoona atau aku?”.

Aku mempoutkan bibir seraya menekuk tanganku bersilang didepan dada. Aku melirik mereka. Yoona sedikit terkik melihat tingkahku. Sementara eomma tak menganggapku  malah berjalan kearah dapur. Aku dan Yoona pun mengikuti wanita yang melahirkan dan membesarkanku itu.

“Kau membuat kimchi ini sendiri? Sementara Donghae hanya menonton televisi tanpa membantu? Yak Lee Donghae suami macam apa kau?”.

Sekali lagi eomma memukul lenganku.

“Ini bukan salah Donghae eomma, kumohon hentikan”.

Ucapan Yoona membuat eomma berhenti. Aku pun meringis kesakitan.

Keesokan harinya..

Aku sedang sibuk dengan pekerjaannku. Padahal ini hampir jam 8 malam. Tiba-tiba ponsel yang sedari tadi kutaruh begitu saj itupun berbunyi.

From : Eomma

Hae-ah aku menemui masalah dan ini sedikit rumit bisakah kau datang ke taman dekat kota. Dan jangan beri tahu Yoona, aku tak ingin dia cemas

Aku menggerutu, disaat aku sedang sibuk seperti ini justru eomma mengganguku. Tanpa piker panjang aku mengambil jasku dan segera berlari kemobil. Aku mengendarai dengan gusar.

Tak jauh dari tempatku aku melihat sosok wanita dengan rambut panjang terurai mengenakan gaun berwarna putih panjang dengan pita hitam mengitari pinggangnya.

“Im Yoona”, kata itu lah yang muncul dari mulutku dan membuat dia menoleh.

“Donghae-ssi, di dimana eomeoni?”.

Aku terdiam, rasanya aku tak bisa berpikir jernih memandang paras cantiknya. Lamunanku menghilang ketika sesosok pria mendekatiku ia menggenggam sebuket bungan matahari dan surat di tangan kanannya. Ia memberikan itu kepadaku.

Donghae nikmati candle light dinner dengan istrimu.

Buatlah malam 1th penrnikahan kalian dengan bahagia.

From : eomma ^.^

Aku tak menyadari sejak kapan jarak kami sedekat ini. selesai membaca surat dari eomma aku berdeham untuk menghilangkan rasa canggung.

“Mianhe. Seandainya aku tahu rencana eomma seperti ini dari awal aku pasti tak akan datang”.

Yoona menaikkan gaunnya dan berjalan melewatiku. Aku menahan tangannya dan menariknya agar posisi kami berhadapan. Aku memandangi setiap inchi dari diri istriku seperti keinginan yang satu tahun ku harapkan.

“Waeyo? Ada apa denganmu Donghae-ssi?”.

Aku sadar ia mulai tegang dari cara berbicaranya ia pun seperti menahan rasa takut.

“Bisakah kau memanggilku oppa atau yeobo Yong?”

“Mwo? U.. untuk apa? Bukankah”.

Kuletakan jari telunjukku tepat dibibirnya tanda agar dia diam.

“Mianhe aku tak bisa menjadi pria yang dapat membahagiakanmu. Bahkan aku terlalu pengecut untuk memelukmu dan mengucapkan aku mencintaimu Yoong”.

Matanya mulai berkaca-kaca, tanpa dikomando air bening itu menetes dari sudut matanya. Segera kurengkuh ia dalam dekapku.

“Aku akan menunggumu hingga mencintaiku. Mulai mala mini berjanjilah padaku kau mau memulai semua dari awal, kita jalani hidup ini dengan cinta tak seperti hari kemarin”, lanjutku.

“Aku selalu berfikir kau membenciku itu sebabnya kau selalu menolak masakanku dan selalu bersikap angkuh dihadapanku. Dan membuat perasaanku benar-benar diuji dengan radsa bimbang. Tapi mulai malam ini dan seterusnya aku yakin bahwa aku juga mencintaimu oppa. Donghae oppa saranghaeyo”.

Aku melepaskan pelukan erat kami dan tertawa bersamanya lalu, aku mendekat kearah wajahnya dan first kiss kami pun terjadi.

END ^.^

Akhirnya bagaimana readers?? FF kacau tapi biarlah, yang penting author gembira hahaha. See you

About Me

Published Agustus 24, 2012 by pyrossoneff

Anyeong,,

sebagai pengguna WP baru saya mau ngenalin diri nie..

ini WP isinya tulisan saya *yaiyalah masa tulisan nenek lo* #abaikan.baik perkenalkan

Nama : Dwi Roma Dian Ningsih (Dian)

Nama korea : Shin Min Gi

Ttl : Batang, 31 Desember 1997.

* yang usia di bawah saya silahkan panggil eonni, nona. dan yang seumuran panggil chingu, untuk yang lebih tua panggil saeng.

Hobi : bernafas, makan, tidur, nonton tv, belajar, online, & nulis (tapi jarang ku publish)

Fandom : alhamdulilah yah 1. yaitu SONE

Idola : Bias cowo –> Lee Donghae (Super Junior), Byun Baekhyun (Exo-K), Lee Minhyuk (BTOB), Jung Yong Hwa (C.N. Blue), No Min Wo ( Boyfriend), Kim Jonghyun (Shinee), Ok Taecyeon (2pm). #BanyakBukan??

Bias Cewe –> Im Yoona ( Girls Generation), Krystal Jung (f(x)), all member SNSD(Girls Generation.

Couple Favorit : YoonHae, ViBy (Virgo bebi-> pemain Kepompong). Suka HyoHyuk & Seokyu

Sekolah : SMA N 1 Batang.

hai hai,, gimana?? kalian tahukan Batang? sebuah Kabupaten di daerah Jawa tengah. kalau ga tahu lihat peta ya..

Aku termasuk anak yang gampang berubah moodnya. Suka humor tapi gak suka keramaian. #NahLoh. Berbeda sama bias utamaku si Yoona eonni sama Donghae oppa, aku sama sekali gak suka anak kecil. Aku suka koreanan berawal dari drama. Aku sendiri lupa drakor apa yang aku tonton pertama, yang jelas tayang di Indo**** tahun 2003’an. suka KPOP sejak tahun 2009 berkat virus dari oppaku tercinta yang 87’line. dulu dia suka Brown Eyed Girls terutama GaIn. Sekarang dia fanboy dari Seohyun SNSD.

Aku cinta mati sama couple YoonHae, gara-gara ada temenku yang ng-Tagin foto mereka dan setelah kulihat mereka itu Cocok Kuadrat. Padahal sebelumnya aku yakin gak ada cowo yang lebih cocok ma Yoona selain Taecyeon dan ga ada cewe yang pas buat Donghae selain aku #PlakDigamparFISHY. Dan aku jadi fangirl dari SNSD sejak 2 tahun yang lalu. Aku sempet jadi SAFER juga gara-gara WGM Seohyun dan Yong Hwa. Karena apa?? Kembali lagi, karena Donghae dan Yong Hwa itu Idola tetapku. Bahkan aku sering berkhayal bisa dapat namjachingu perpaduan antara Donghae dan Yong Hwa. kakakakakaka…….

ok, kupikir segitu dulu perkenalanku. yang mau tau lebih lengkap silahkan add fb ku : http://www.facebook.com/diansone.yoonadictsboice

Again,, inilah saya..

  ini dia waktu SMP

dan….

 ini yang sekarang,, ga ada perubahan yah.. #jeleknyah…