ff YoonHae

All posts tagged ff YoonHae

Drable (FF YH – Don’t Lie)

Published Januari 16, 2013 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

*Maaf, belum sempet bikin FF
panjang karena sibuk sekolah, ini
aku bawa drable yang mungkin
bener- bener pendek. ok happy
reading*
======
‘Tap tap tap’ langkah kaki seseorang
itu menggema di seluruh koridor
sekolah. Pukul 15.43, sekolah mulai
terlihat sepi. mungkin memang ada
beberapa siswa yang masih disitu
salah satunya Yoona. Siswi kelas X.3
itu duduk di kursi pojok koridor
yang lengang. Hanya ada semilir
bisik angin yang terdengar.

Gadis berambut sebahu itu duduk
dengan tenang membaca sebuah
buku novel karya ‘Kim Ji Oh’.
Dengan kaca mata minus yang
bertengger di matanya.

“Agashi, apa kau melihat sebuah
kunci motor?”.

Suara berat seseorang memecah
keheningan, dan mengusik
konsentrasi Yoona. Gadis itu pun
menoleh ke sumber suara.

Dengan senyuman ringan ia
menggeleng kearah pemilik suara
yang ternyata seorang namja.
Namja tersebut hanya menggaruk
tengkuknya yang tak gatal lalu
menunduk sebelum pergi
meninggalkan Yoona.

Selang beberapa menit, Yoona mulai
jengah. Ketika ia berjalan tak
sengaja sepatu cats abu-abunya
menginjak sesuatu. Sesuatu yang
disebut kunci.

“Maaf mungkin ini yang anda
maksud”, ucap Yoona menghentikan
langkah seseorang. Tanpa basa-basi Yoona menyerahkan kunci tersebut dan berjalan pergi.
======
Angin bermigrasi cukup ramai,
mampu menerbangkan helaian
rambut panjang nan indah. Seakan takut tersaingi, sang mentari bersinar begitu terik.
Keadaan tersebut tak menyurutkan
gairah beberapa namja ditengah
lapangan itu yang sedang
memperebutkan si bulat yang
mengelinding kesana-kemari.
Beberapa buku ia peluk dengan erat, dari balik tirai pembatas lapangan Futsall sekolah, ia mengamati seseorang.

“Namanya Donghae, Lee Donghae. Ia kelas XI.IPS3. Dia kapten futsall sekolah”.

“Sooyoung-“. Hanya itu yang Yoona ucapkan ketika mendapati
sahabatnya berdiri tepat disamping kanannya.

“Wae?? Bukankah wajar jika kau
menyukainya. Dia termasuk namja tampan di sini”.

“Tidak, bahkan kami baru bertemu sekali. mana mungkin jika aku menyukainya?”.

“Mungkin saja”, jawab Sooyoung
seraya berkedip genit.

Satu bulan berlalu. Ada hobi baru
yang Yoona miliki yaitu
memperhatikan Donghae diam-
diam. Dengan jarak tak lebih dari 10 meter.

Kini wajah cantiknya terlihat muram ketika 2 hari tak bisa menemukan sosok Donghae. Yang mungkin ia cintai.

Dia duduk dikursi penonton futsall. matanya memandang lurus. tiba- tiba secangkir exspresso terulur untuknya. dan matanya membulat ketika mendapati sosok yang ia
harapkan mengulurkan itu untuknya.

“Kenapa harus jadi penguntit jika
ingin melihatku. Bicara langsung
saja”.

“Bukan aku tidak menguntit aku
hanya-“. Jari manis itu membungkam mulut
mungil Yoona.

“Karena aku lebih bahagia kau jujur padaku. I LOVE YOU”, ucap Donghae seraya merengkuh Yoona kepelukannya.

END

Story in Christmas

Published Desember 25, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Krystal Jung a.k.a Krystal Im
Choi Minho
Genre : Romance, family, friendship
Rating : PG13
mc
= = = = =
Semburat jingga diujung jalannya gulungan ombak semakin kontras berpadu dengan liukkan pohon kelapa. Menatap senja dari balkon kamar sungguh bisa mengurangi sedikit rasa gundah dalam hati. Lamat-lamat tapi pasti. Dibalik sinar sang mentari yang mulai melangkah kembali keperaduannya, aku melihat rekaman demi rekaman dari kebersamaan kita.
*
Pesta topeng untuk anak usia 18 tahun yang membosankan. Orang-orang ini terlihat aneh, entah muda atau tua bahkan para pengisi acara dan bartender saja mengikuti kemauan adikku yang seperti bocah itu. Hanya akulah satu-satunya manusia yang berani hadir tanpa topeng disini. Sebenarnya aku datang juga alasan keterpaksaan belaka. Mengingat ini adalah pesta ulang tahun adikku. Aku merasa seperti orang asing disini.
Kuputuskan untuk duduk di sofa menghadap ke panggung yang sedang menampilkan para penyanyi yang bersuara fals. Aku pun mulai menikmati segelas buble tea, hingga kulihat Krystal berjalan menghampiriku dan dua orang pria mengekor dibelakangnya sambil melepas topeng mereka.
“Eonni, ini Minho dan yang memakai kemeja biru itu Donghae oppa. Ehm dia sepupu Minho”.
Aku menatap lelaki itu satu per satu. Kemudian pandanganku berhenti di depan Minho. Menatapnya intens dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Dian namja chingu-mu Krys”, ucapku menunjuk Minho.
“Aniyo eonni, kami hanya chingu”.
Aku melihat ada yang aneh dari adikku itu. Dia terlihat bergetar dan terus menerus menggigit bibir bawahnya. Sementara namja bernama Minho itu terlihat menggaruk tengkuk yang aku yakin sama sekali tak gatal.
“Tak perlu berbohong, aku tidak akan katakana hal ini pada ayah”.
Kini giliran aku menatap lelaki yang lebih tua dari Minho.
“Dan kau ! Sudah tua mau saja bergabung dalam sandiwara adikku. Kau dan Minho, kalian hanya chingu bukan?”.
“Eonni kau keterlaluan!”.
Sekilas kutatap Krystal yang terlihat mulai merajuk. Aku tak mempedulikan hal itu. Segera kuraih mantelku dan berjalan keluar menjauhi pesta remaja labil itu.
“Noona tunggu!”.
Seseorang berteriak tak jauh dari langkahku berhenti. Kulihat pria yang tadi bersama Minho tadi berjalan mendekat kearahku.
“Ada apa lagi? Bukankah ucapanku tadi benar? Aku sibuk tak ada waktu untuk meladeni orang sepertimu”.
“Ada apa dengan sikapmu? Kau tak sadar betapa sakit hatinya Krystal?”.
“tsk~ hei tuan siapa kau? Berhentilah jika kau tak tahu apa-apa. Ini bukan kali pertama Krystal menggunakan aku agar ayah memperbolehkan dia pacaran”.
Kulangkahkan kakiku kembali. Aku mendengar beberapa kali ia meneriaki namaku namun tak pernah kupedulikan.
*
Lagi-lagi langkah ini membawaku kemari. Cherry Blossom yang indah, kenapa kalian harus gugur?. Lalu kenapa disaat kalian gugur, salju juga ikut menggugurkan diri?. Andai kalian tak pernah gugur secara bersamaan, mungkin dia tidak akan pergi meninggalkan ku sendiri bersama ribuan kenangan ini.
*
Pukul 11.50. Aku masih sibuk dengan lembaran kertas dan sebuah computer di hadapanku ini. 10 menit lagi waktu istirahat makan siang. Tidak. Jika aku pergi makan, lalu bagaimana dengan pekerjaanku ini?.
“Im Yoona, istirahatlah. Jika kau ingin bergabung dengan kami, temui kami di Restaurant Cina persimpangan jalan”.
Itu ajakan ke 7 dari teman seruanganku. Aku membalas ajakan mereka hanya dengan senyum. Lalu kembali mengetik laporan-laporan ini.
“Delivery tiba..!”.
“Semua sudah pergi makan, dan aku bukanlah si pemesan makanan”, jawabku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari monitor computer.
“Coba berbalik dan dan ambillah ini nona”.
“haish~ ada apa denganmu, aku… kau?!”.
Aku terkejut, ketika berbalik menjumpai lelaki teman Minho dan Krystal semalam. Dia sedang tersenyum kepadaku. Dan ada dua kotak besar ditangan kanan dan kirinya. Yang aku yakini kotak itu berisi makanan.
“Kenapa kau bisa disini Donghae ssi? Dan darimana kau tahu aku bekerja disini?”.
“Sangat mudah mencari Im Yoona, si pekerja keras yang menjabat sebagai marketing meneger di Lee Corp”.
Dia kembali tersenyum, seakan gigi putih susu itu tak takut kering. Hal itu membuatku muak dan merasa migren.
“Sekarang berhenti bekerja dan makanlah. Aku yakin pemimpin Lee Corp ini tak akan marah jika kau menggunakan waktu 15 menit untuk menyantap sasimi juga bulgogi yang aku bawa”.
Dia menarik jari-jariku yang berada diatas keyboard untuk menyentuh sumpit dan sendok.
“Aku juga membawakanmu green tea untuk minumannya. Jadi kumohon habiskan ya”.
“ kau ini… baiklah akan aku makan”.
“Yasudah aku pergi dulu, agar kau tak merasa terganggu. Jangan lupa diahabiskan ya”.
Dia mengusap kepalaku kemudian melangkah pergi.
“Donghae ssi, kamsahamnida”, ucapku.
Kini dia behenti kemudian berbalik. Dia tak membalas ucapan terima kasih ku, dia hanya tersenyum. Membuatku mengumpat sendiri. Aku tersenyum mengingat tingkahnya yang baru mengusap kepalaku. Aku merasa debaran kecil di jantung ini.
*
Di tempat ini, dulu pertama kali dia datang dan mengajakku pergi diakhir pekan. Tidak banyak aktifitas yang kami lakukan di kencan pertama itu. Hanya pergi menyaksikan opera dari serial “Goong” lalu pergi ke taman untuk naik biang lala. Dan terakhir dia membelikanku sebungkus gula kapas yang manis itu.
Dia –Cho Kyuhyun- lah yang mengajarkan ku betapa pentingnya arti kesetian dan cinta yang tulus
*
Hari ini aku sangat sibuk hingga merasa lelah seperti ini. aku memasuki rumah sambil menepuk-nepuk pundakku. Berharap rasa lelah ini akan sedikit berkurang. Tak seperti biasanya aku melihat eomma dan appa ada dirumah. Eomma tersenyum lebar kepadaku.
“Yoona-ah kau tahu, ternyata sahabat eomma mempunyai putra seusiamu. Bagaimana? Kau bisa kan akhir pecan ini pergi bersama putra sahabat eomma?”.
Aku berhenti menaikki anak tangga menuju kamarku. Dan kutatap eomma dan appa secara bergantian.
“Berapa kali kukatakan pada kalian? Aku tidak tertarik dengan kencan buta!”.
Aku berlari menuju kamar dan menutup pintu dengan lumayan keras. Aku menangis dibalik pintu. Menyembunyikan kepalaku didalam kaki yang tertekuk.
*
“Maafkan aku young, karena aku tidak menyadari jika kemarin kau berulang tahun. Untuk hadiahnya bagaimana jika aku hanya memberikanmu scarf ini?”.
“Ya, terima kasih banyak oppa”.
Dia mengenakan scarf bermotif strawberry itu keleherku. Dan kami pun bangkit dari sebuah kursi ditaman. Jari-jari kami saling bertautan dengan mesra dan kaki kami melangkah seirama seperti alunan melodi. Dan salju turun seiring dengan setiap detik kebersamaan yang kami lewati.
*
“Membosankan sekali”, gumamku. Seperti rutinitas biasa. Bekerja demi membunuh waktu yang selalu kulakukan. Tapi hari ini terasa beda. Aku merasa sangat bosan untuk bekerja.
Tiba-tiba sebuah tangan yang menggenggam segelas cappochino terulur tepat didepan dua bola mataku. Mata ekorkupun menangkap sosok si pemilik tangan tadi.
“Ini untukmu”.
“Donghae ssi, kenapa kau bisa diruanganku?”.
“Apakah kita perlu mengulang perkenalan”.
Aku tak mengerti dengan arah pembicaraan pemuda dihadapanku ini. akupun mengerutkan dahi. Melihat aksi apa yang ia lakukan berikutnya.
“Perkenalkan, namaku Lee Donghae. Kau bisa panggil aku Donghae. Aku putra bungsu dari presdir Lee SungMin”.
“Mwo?”.
Apa yang dia katakana barusan?. Ya Tuhan aku sudah tidak tuli bukan?. Dia putra bungsu Presdir, itu berarti dia juga atasanku. Kenapa aku tak pernah melihat dia sebelumnya?,
“ Aku baru satu minggu disini. Sebelumnya aku mengurus cabang di Singapore”.
Aku hanya tersenyum lalu meminum cappochino yang ia berikan.
“Bukankah kau bilang tadi, kau lelah bekerja terus? Ayo pergi ke Lotte denganku, bukankah perempuan suka berbelanja? Tenang aku yang akan traktir. Asal barang yang kau beli tidak terlalu mahal”.
“Hei itu tidak perlu”.
Selalu, pria ini tak mau mendengarkan jawabanku. Dia gemar sekali bertindak tanpa berfikir. Dia juga hobi sekali menyeret tangan orang, seperti ia menyeretku sekarang. Apa dia tidak pernah berfikir jika aku ini orang sibuk, yang tidak suka shopping.
*
Tiga hari lagi natal. Kami sedang berada di restaurant Italia. Kami duduk dimeja dekat jendela, dia terus memperhatikan anak-anak kecil yang tengah asyik bermain dengan gumpalan salju. Itu membuatnya tersenyum. Entah kenapa senyuman itu terlihat miris, membuatku merasa sedih.
Dia terus mematri garis simpul itu diwajah tampannya. Dan aku baru tersadar jika akhir-akhir ini, kulit itu terlihat semakin pucat. Hingga makanan yang kami pesan tiba, dia masih menatap buliran salju yang jatuh.
*
Aargh, lelaki ini benar-benar bisa membuatku gila. Dia tak main-main rupanya. Tadi dia mengajakku bermain di taman hiburan lalu dia memaksaku membelikan beberapa pakaian, yang sebenarnya tidak aku butuhkan. Dia juga memaksa untuk mengantarku pulang.
Sesampainya kami didepan rumah, ia membukakan pintu mobil untukku. Kemudian dia tersenyum dan membungkuk kepada kedua orang tuaku yang berdiri diambang pintu.
“Rupanya dia pria yang membuatmu menolak kencan dengan anak sahabat eomma? Tidak masalah, dia pria yang tampan. Dan sepertinya dia juga baik. Bukankah begitu yeobo?”, ucap eommaku sambil menyikut appa.
“Eommamu benar Yoong, kapan kau akan membawa dia bertemu denganmu?
“Bukankah kalian baru saja bertemu. Lagipula dia hanyak putra bosku. Hubungan kami tidak seperti yang kalian bayangkan”.
Aku menerobos masuk. Orang tuaku ini sungguh berlebihan menurutku.
“Yoona, kau tak perlu malu. Jika saja dia kekasihmu, kami juga pasti akan merestui hubungan kalian”.
“Sudah kukatan, dia bukan siapa-siapa. Lebih baik kalian berikan restu saja kepada Krystal untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis”.
Aku melirik Krystal yang tengah asyik menonton acara di televisi. Dia memberiku tatapan death glare-nya yang membuat aku tersenyum dan bergidik. Aku kembali berjalan kearah kamar mengabaikan ocehan orang tuaku tentang Donghae.
*
Sudah ke dua kalinya dia tak menepati janji. Dia selalu datang terlambat bahkan tak jarang dia tak datang menepati janji yang ia buat.
Tadi sore dia mengirimiku sebuah pesan. Dalam pesan itu tertulis bahwa dia ingin bertemu denganku di Sungai Han. Tapi sudah 2 jam aku menunggu, batang hidung pria itu tak kunjung terlihat. Aku mulai jengah dan mulai beranjak pergi.
Tiba-tiba seorang gadis kecil datang menghampiriku. Dia memberiku setangkai mawar putih dengan sepucuk surat yang terselip.
“Maaf sepertinya kita tidak jadi bertemu. Maaf telah membuatmu menunggu. Aku mencintaimu”
Dengan gontai aku melangkah meninggalkan Sungai Han. Cho Kyuhyun, kau pria hebat sekali lagi kau berhasil membuatku merasakan kecewa dan kini kau kembali membuatku menangis.
*
“Eonni, satu minggu lagi natal. Ayolah kau cepat mencari kekasih. Aku tak mau jika ditinggalkan oleh Minho oppa”.
Sebenarnya aku tak tega jika setiap kali melihat Krystal merengek. Aku merasa seperti eonni yang kejam. Gara-gara aku tak memiliki kekasih, Krystal jadi mendapatkan ultimatum dari ayah agar tidak berpacaran lebih dulu daripada aku.
“Kau fikir mencari pacar itu lebih mudah dari menghitung rumus fisika?”.
“Ini sudah tahun ke empat. Mau sampai kapan ka uterus seperti ini”.
Kuhentikan aktifitas menyisir rambut. Pandanganku berpaling kepada sebuah foto didinding kamarku. Dia terlihat tampan tersenyum seperti itu.
*
Dia itu selalu special, hanya dialah pria yang bisa membuatku tidak bisa marah lebih dari 2 hari dengannya.
Sore ini, kami sedang berada di Namsan Tower. Kami, lebih tepatnya ini adalah ideku untuk memasang gembok cinta. Mengikuti jejak ribuan pasang kekasih yang telah meletakkan gembok mereka disini.
“Apa yang kau tulis di gembok oppa?”.
“Kau ingin tahu Yoong?”.
“Tentu saja”.
Dia memperlihatkanku sepasang gembok berbentuk love dengan warna berbeda. Yang satu berwarna merah muda dan yang satu berwarna biru muda. Gembok berwarna merah muda itu terdapat tulisan’YloveK”, sedangkan gembok yang lain tertuliskan “K&Y”.
Aku menatapnya, kemudian terdengar gelak tawa dari kami berdua.
*
Hari ini aku pulang pukul 19.45. aku jalan kaki menuju halte karena mobilku di service. Tiba-tiba di jalan aku melihat nya turun dari mobil.
“Yoona-ah kenapa kau jalan kaki?”.
“aish~ kenapa setiap kemanapun aku melangkah selalu ada kau Donghae ssi”.
“Mungkin jodoh”, jawabnya sambil memasang wajah innocent.
Jawaban yang kekanakan. Aku tak menggubrisnya dan tetap berjalan menjauh. Tiba-tiba tanganku menghangat, rupanya dia sedang menggenggam tanganku. Lalu menyeretku masuk kedalam mobil.
“Biar kau aku antar”.
Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan diantara kami. Baik aku ataupun dia, sama-sama sibuk dengan angan masing-masing.
“Sudah sampai, apa kau ingin aku membukakan pintu untukmu lagi?”.
“Apa? Ah, tidak usah. Kamsahamnida”.
Dasar lelaki menjengkelkan, dia kadang bersikap baik kadang juga menyebalkan dan terkadang bertingkah seperti anak-anak. Pria yang labil.
*
“Katakan padaku jika semua yang tertulis di surat ini bohong oppa!”.
“Maafkan aku Yoong, tapi inilah realita kehidupan”.
“Sejak kapan?”.
Air mataku tak bisa lagi kubendung. Hatiku tiba-tiba saja membeku, seperti barusaja tersambar kilatan petir. Aku menatap wajah pucat itu dengan nada sendu.
“Sejak aku berusia 15 tahun. 6 tahun ini aku menutup sebuah kenyataan darimu. Aku tak mauh dikasihani olehmu”.
Tangisan ku terpecah semakin keras. Betapa bodohnya aku, 7 tahun kami menjalin hubungan. Ternyata sudah 6 tahun dia tersenyum palsu demi kebahagianku. Aku merubahnya menjadi orang egois. Karena akulah dia jadi menanggung semua ini sendiri.
Dia merengkuhku. Kami berpelukan cukup lama.
*
Entah sudah berapa lama. Kini hubunganku dengan Donghae semakin dekat. Walau tidak begitu baik. Karena hanya ada perdebatan jika kami bersama. Lebih tepatnya akulah yang memperkeruh suasana.
Tapi itu terlihat lucu, melihat wajah cemberutnya yang menawan setiap kali dia kalah beertengkar dariku.
Dia juga rutin membawakanku makan siang. Karena aku yang terlalu sibuk hingga tak menyempatkan diri untuk melangkah ke kantin.
“Yoona-ah malam natal nanti, kau harus mau jalan denganku”.
“Shireo, aku mau berkumpul dengan keluarga dirumah”.
“Ayolah, Krystal juga palingan pergi dengan Minho”.
Dia terus merengek seperti bayi. Rengekannya ini sungguh membuatku tak tahan. Dan tanpa kusadari akupun mengangguk.
*
“Penyakitku ini adalah keturunan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena dia masih memberiku hidup untuk 6 tahun terakhir. Keponakanku hanya bisa bertahan 3 tahun semenjak dokter memberikannya vonis”.
“Oppa..”.
“Kumohon jika suatu saat nanti Tuhan memanggilku, hiduplah dengan bahagia. Dan cintailah seseorang yang Tuhan kirimkan sebagai penggantiku. Perlakukan dia sama seperti kau perlakukan aku”.
Aku tak menjawabnya. Justru ucapannya semakin membuatku terisak.
*
Sesuai permintaannya, aku menuruti untuk pergi dengannya di malam natal. Kami duduk di bangku taman, menyaksikan kerlap-kerlip lampu yang menghias pohon natal, dan memperhatikan gumpalan salju itu jatuh dari dahan-dahan pohon ditaman.
Segrombolan anak kecil tertawa riang sambil saling melempar bola salju.
Terlalu asyik memandang kemeriahan malam natal hingga tak sadar, jika Donghae sudah tidak ada disampingku. Aku mencoba bangkit dari posisi duduk namun seseorang menutup mataku. Membuat semuanya menjadi gelap.
“Marry Christmas”, teriak seseorang itu.
“Yak! Kau Lee Donghae”.
Diapun melepas tangan yang menutup mataku, kemudia tertawa lebar diahadapanku. Sementara aku mengerucutkan bibir dan kembali duduk.
“Hei jangan marah, aku bermaksud untuk bercanda”.
Sekilas aku meliriknya. Ia terlihat lucu sekarang dengan wajah menyesal itu. Entah sejak kapan kini jantungku merasa berdebar kencang. Kuakui, dekat dengannya setiap hari dengannya membuat aku merasa nyaman. Bahkan aku merasa ini tak sekedar rasa nyaman. Mungkin aku mulai menyukainya. Berfikir tentang perasaanku sendiri membuat pipiku memerah, bukan karena rasa dingin.
“hei wajahmu memerah bak kepiting rebus”.
“Aniyo, aku hanya kedinginan Donghae-ah”, elakku.
Tanpa sepatah katapun, ia segera melepas mantel hangatnya dan memakaikan untukku.
“Sebenarnya apa yang membuatmu terdorong mengajakku kemari?”.
“Eumb.. tunggu sebentar Yoona aku harus pergi ke mobil”.
Aku menunggu hingga 10 menit lamanya. Dia pun datang. Aku terkejut sekaligus bertanya-tanya ketika ia datang membawa sebuket bunga.
Dia tersenyum kemudian berkata” This is for you baby”.
Aku mengerutkan dahi kemudia tawaku pun pecah.
“Apakah ada yang lucu? Kenapa kau tertawa Yoona?”.
“Apa maksud kau memberiku bunga”.
“A.. Ah, would you be my girlfriend?”.
“…”. Aku diam membisu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku belum yakin dengan perasaanku terhadap dia. Karena aku masih mencintai Kyuhyun.
“Aku tahu dari Krystal, jika kau masih terbayang-bayang dengan mantan namja chingumu. Aku siap menunggu Yoong”.
“Baiklah, aku akan mencoba mencintaimu Donghae-ah”.
“Benarkah itu? Gomawo Yoong”.
Kami pun berjalan ke mobil untuk pulang. Sebelum pulang aku, menyempatkan melirik kearah bangku yang kami duduki. Ku lihat dia sedang duduk ditempatku tadi. Dia tersenyum bahagia kearah kami. Sebelum bayangnya mulai menghilang.
“Sekarang aku tahu yang kau katakana waktu itu Kyu oppa, mungkin Donghae lah pria yang Tuhan kirim sebagai penggantimu. Marry Christmas, semoga kau bahagia disana oppa”.
END
Hai gimana ff nya? Gaje bukan? Maaf kalau banyak typo.

Summer Sunset

Published Desember 24, 2012 by pyrossoneff

Cast : Im Yoona >< Lee Donghae
Ratting : PG 14
Genre : Romance
Note : “Annyeong readers, author kembali dengan kisah melanjutkan Spring Surprise, maaf author belum bisa ngasih cerita yang panjang. Dan maaf cerita ini terlalu banyak percakapannya dan mengumbar terlalu banyak Typo. Ok, trima kasih untuk readers yang udah mau komen di FF ku sebelumnya. Thank’z all. Dan Selamat Membaca”
ss

Setelah bekerja keras menyelesaikan pendidikan di negeri orang, kini Yoona bisa kembali ke Korea. Tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan di Keluarga Im. Keluarga yang terkenal dengan keharmonisan dan kekayaannya.
Gadis itu menutupi kantung mata menggunakan kacamata. Dia berjalan keluar dari bandara. Dandanannya terlihat aneh. Di musim panas seperti ini, ia masih menggunakan hoodie dan celana jeans hitam panjang tak lupa dengan scarf nya yang terbuat dari wol, hasil dari bulu domba import dari Australia.
Sebenarnya ia juga merasa kegerahan, namun bagaimana lagi, ia lupa jika ini sudah memasuki musim panas di Korea. Ia terus berjalan menggeret koper berwarna coklat itu hingga sebuah mobil A5 berhenti. Dari dalam, kaca mobil itu terbuka menunjukkan tampang mempesona dari sang pengemudi.
“Maaf aku terlambat, cepat masuklah”.
Dengan kesal Yoona mengikuti perintah dari sang pengemudi mobil, tentunya setelah ia meletakkan koper ke bagasi.
“Aish~ kau tetap tak berupah oppa! Setidaknya kau bantu aku meletakkan koper-koper itu kedalam bagasi, walaupun kau tak membukakan pintu untukku!”.
“Sudahlah Yoong, jangan seperti anak kecil”.
Lagi-lagi Yoona kalah dalam perdebatannya dengan Donghae. Wajahnya memerah menahan amarah, alis kanan dan kirinya juga hampir tak mendapat jarak, bibirnya sudah menutup rapat hingga mobil melaju sampai kedepan gerbang rumah mewah keluarga Im.
“Sudah sampai nona Im, kau tak ingin turun?”
Sekilas Yoona memandang Donghae, lalu ia turun dan membanting pintu sedikit kasar.
Didepan pintu, terlihat Krystal sang adik dan eomma nya berdiri menyambut kedatangannya dengan sumringah.
“Aigoo, putri eomma terlihat kurus sekali, apa kau tak makan dengan benar? Apa kau tak minum vitamin seperti yang eomma sarankan? Huh dasar gadis nakal”.
Ny. Im terus melontarkan kata bernada cemas kepada putrid yang tak ia temui selama 2 tahun itu. Dan ia tak henti-hentinya mengacak rambut Yoona yang sedang ia peluk.
“Haish~ eomma memalukan. Kasihan eonni baru pulang dia pasti lelah. Eonni apa kau membawakan aku oleh-oleh?”, sela Krystal.
Gadis berambut ikal itu segera menggapit lengan eonni-nya lalu mengajaknya masuk. Sementara itu, Donghae yang melihat betapa antusiasnya keluarga Yoona menyambut kedatangan sang kekasih hanya mampu melemparkan senyum kecil sambil membawa koper Yoona masuk.
“Eomma dimana Abeoji?”.
“Abeoji tentu sedang dikantor Yoong”, sela Donghae.
Jawaban Donghae membuat Yoona mengerutkan dahi, ia merasa aneh dengan ucapan Donghae yang menyebut ayahnya dengan sebutan abeoji.
“Tidak usah sebingung itu. Donghae oppa sudah bilang kepada kami sebelum ia pergi ke Paris untuk melamarmu. Jadi appa menyuruhnya memanggil abeoji”.
“Dasar adik nakal, jadi kau juga sudah tahu rencana lelaki ini?”.
Krystal yang ditanya hanya mampu menyunggingkan senyum lalu pergi ke kamar.

Segumpulan awan itu tak mampu menutupi indahnya warna jingga dari sang surya yang ingin kembali ke peraduannya. Pemandangan senja yang indah dipandang oleh mata. Gadis berambut panjang itu berdiri dengan tangan berpegangan pada besi pembatas balkon. Tak selang begitu lama terasa sepasang tangan kekar melingkari tubuhnya. Sebuah back hug yang sangat ia rindukan dari sosok sang kekasih. Ia terlalu merindukan moment seperti ini hingga menutup matanya membiarkan hembusan nafas sang kekasih mengenai tengkuknya dan memberikan suatu sensasi yang memabukkan.
“ Kau masih marah kepadaku? ”.
“ Oppa kenapa kau belum pulang? ”.
“ Lagi-lagi kau menghindari pertanyaanku ”.
“ Jawab pertanyaanku terlebih dahulu ”.
“ Aku tak mungkin pulang jika kekasihku yang paling manja ini masih marah padaku. Aku pasti akan sangat gelisah di rumah nanti”.
“ Jadi, jika aku katakana sudah tak marah denganmu apa kau akan pulang? “.
“ Sepertinya kekasihku ini lebih suka aku pulang. Baiklah aku akan segera pulang “.
Donghae melepas pelukannya. Ia berbalik dan bergegas untuk melangkah pergi. Meninggalkan Yoona yang masih diam. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan tingkah Yoona yang berganti memberikan back hug untuknya. Membuat hatinya berdebar lebih kencang.
“Jangan, jangan pergi. Tinggallah disini untuk beberapa saat lagi. I miss you”.
Lelaki itu tersenyum lebar. Ia begitu kaget mendengar tiga kata dari Yoona. ‘I Miss You’ tiga kata yang sudah lama tak mereka ucapkan setelah kepergian Yoona ke Paris. Tak sadar jika sekarang ia sedang mengusap tangan Yoona yang memeluknya erat.
“Hei ada apa denganmu? Aku akan datang lagi besok. Sekarang biarkan aku pulang. Kau juga pasti lelah kan?”.
Anggukan dari Yoona membuat pipi Yoona bergesekan dengan punggung Donghae yang dibatasi oleh kemeja.
Aktifitas rutin keluarga Im. Salah satunya dengan sarapan bersama menikmati masakan Ny. Im. Walau mereka memiliki 3 pembantu, tapi Ny. Im membiasakan memasak sendiri makanan untuk keluarganya. Terlihat Yoona dan Krystal yang sedang mengadu sumpit memperebutkan sepotong telur gulung.
“Eonni ini milikku”.
“Haish~ apa-apaan kau? Tidak ini milikku. Singkirkanlah sumpitmu gadis nakal!”.
“Tidak akan!”.
Tiba-tiba, piring berisi telur gulung itu terangkat, membuat Yoona dan Krystal mengalihkan pandangan kearah tangan yang menarik piring tersebut. Mereka melihat bahwa tangan tersebut adalah milik Tn. Im. Ayah Yoona itu segera mengambil pisau makan lalu membagi telur itu menjadi dua, dan diletakkan sebagian kepiring Yoona dan sisanya ke piring Krystal.
“Memalukan sekali, putri ayah harus bertengkar merebutkan telur gulung. Krystal habiskan makananmu lalu segera pergi ke kampus. Jangan pulang terlambat appa akan menjemputmu”.
Yoona dan Krystal menunduk menyembunyikan wajah cantik mereka. Mereka begitu malu atas kelakuan keakanak-kanakan mereka barusan.
“Yoona kau juga segera habiskan makananmu lalu pergi kesalon bersama eomma”.
“Salon eomma? Untuk apa? Shiroo itu akan membuang-buang waktu”.
“Hei, kau tidak ingin tampil cantik didepan orang tua Donghae?”.
“Apa maksud eomma?”.
“ Yeobo, jadi kau benar-benar melarang Donghae mengatakan bahwa sore ini kita aka nada makan malam bersama orang tuanya?”.
“Oh iya, sebenarnya itu bercanda tapi aku tidak tahu jika anak itu serius”.
“Jinja? Eomma appa aku belum siap”.
“Tidak apa-apa, orang tua Donghae pasti setuju dengan hubungan kalian karena kau ini anak appa. Jangan gugup”.
Akhirnya setelah sibuk seharian disalon dengan eommanya, Yoona bisa berangkat ke restaurant tempat kedua keluarga bertemu. Ia terlihat anggun dengan gaun biru muda dan rambut coklat panjang terurai.
Untuk pertemuannya yang pertama dengan orang tua Donghae, ia datang terlambat bersama eommanya karena macat. Ia sangat menyesali keputusannya menolak ajakan Donghae untuk berangkat ke restaurant bersama.
Dengan perasaan gugup ia membuka ruang VIP restaurant yang dipesan ayah Doghae. Sungguh ia tak menyangka dengan sambutan orang tua Donghae kepadanya. Tn. dan Ny. Lee menyambut dengan senyum lebar. Bahkan Ny. Lee tak berhenti memberinya pujian.
“Aigoo, beruntungnya putraku bisa mendapat istri secantik dirimu. Bahkan kudengar kau adalah mahasiswa terbaik lulusan Univversitas disaign di Paris benarkah?”.
“Tidak begitu juga bibi”.
“Kenapa kau memanggilku bibi? Kau juga harus memanggil aku eomma seperti Donghae memanggil orang tuamu”.
Donghae terkikik melihat ekspresi Yoona yang sudah seperti kepiting rebus.
“Sudahlah, ayo segera makan”, perintah Tn. Lee.

Donghae dan Yoona memutuskan untuk lebih cepat berpisah dengan para orang tua. Mereka bergandengan dengan penuh senyum diwajah keduanya.
“Yoong, sepertinya aku meninggalkan ponselku disana”.
“Aish~ cepat ambillah oppa”.
“baiklah tunggu aku di mobil, ini kuncinya”, ucap Donghae sambil memberikan kunci mobil.
Tak lupa sebelum kembali untuk mengambil ponsel, ia mengecup singkat kening Yoona. Adegan yang sukses menyita perhatian beberapa masang mata pengunjung restaurant dan membuat pipi Yoona memanas menahan rasa bahagia juga malu.
Yoona melangkahkan kaki mungilnya menuju basemant.
“Yoona, tunggu!”.
Suara berat itu berhasil membuat langkah Yoona berhenti. Dengan badan sedikit gemetar ia membalikkan badan kearah sumber suara.
Seorang pria berbadan atletis dan wajah baby facenya melangkah mendekati Yoona. Membuat mata Yoona membulat sempurna.
“Kau Im Yoona bukan? Apa kabar?”.
Pria dengan jas hitam itu megulurkan tangan bermaksud untuk menjabat tangan Yoona. Sementara gadis yang dimaksud itu terlihat syok. Yoona menggigit bibir dan kedua tangannya meremas gaun bawahnya.
Pria itupun tersenyum miris menarik uluran tangannya.
“Kau. . .”.
“Ne, ini aku Kim Kibum”.
“Mianhe Kibum-ssi aku terburu-buru”, ucap Yoona sambil melangkah pergi meninggalkan Kibum.
Pria bernama Kibum itu terlihat memandang kepergian Yoona dengan senyum miris.
“Kibum-ssi, hahahaha sepertinya kau baik-baik saja Yoong”,guman Kibum.
Yoona terlihat menitihkan air mata di mobil. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini, ia begitu butuh ketenangan saat ini.
“Maaf aku terlalu lama”, Donghae membuka pintu mobil. Membuat Yoona terburu-buru menghapus air matanya dengan kasar.
“Hei kau menangis? Ada apa Yoong?”.
“Aku baik-baik saja oppa. Oppa bolehkah aku memelukmu sekarang?”.
Donghae mengernyitkan dahi, kemudia membuka tangannya lebar-lebar member ruang untuk Yoona memeluknya. Ia bingung dengan sikap yeojachingunya sekarang. Tapi Donghae memutuskan untuk tidak bertanya sekarang.

Kegiatannya menyiram bunga dikebun berhenti seketika. dahanyi mengernyit dan matanya menyipit ketika membuka pesan dari ponselnya yang sukses menghentikan aktifitasnya.
“Yoona-ah, bisakah kau temui aku dikafe coffe dekat namsan tower pukul 4 sore. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu”. Begitulah sepenggal pesan masuk dari nomer yang tak ia kenal.
Ia menatap layar ponselnya hingga 10 menit lamanya. Lalu menutup ponsel itu dan memasukkan kedalam saku hotpents nya. Ia menganggap cuek pesan tersebut. “itu hanya orang iseng”, gumam Yoona.
Ia pun segera melanjutkan aktifitas menyiram bunga. Sambil bersenandung dengan lagu gembira. Kemudian selesai menyiram bunga, ia memutuskan untuk mandi.
Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 4.12 sore. Yoona duduk di depan meja rias berkutat dengan sisir yang terus bersembunyi disela rambut indahnya. Tiba-tiba ia teringat dengan pesan diponselnya tadi.
Sekali, duakali hingga tiga kali ia membaca pesan tersebut.
“Bagaimana jika pengirim pesan ini adalah temanmu Yoona, mungkin saja itu Yuri karena sudah 2 hari gadis itu tak mengirim pesan seperti biasanya”, gumam Yoona dalam hati.
“Tidak pasti itu kerjaan orang iseng. Jangan dipikirkan!”, serunya.
Tik… tik… tik… detik demi detik terus bergulir hingga pukul 16.36.
Yoona yang sedang duduk menatap matahari sore itupun tiba-tiba bangkit. Dan bergumam sendiri mengingat pesan pada ponselnya.
“Kau harus datang untuk melihat Im Yoona. Bukankah kau diajarkan eomma untuk tidak membuat seseorang menunggu? Ya kau hanya perlu pergi memastikan siapa orangnya tidak harus bertatap muka dengannya!”.
Gadis itu berlari menuju kamar menyambar blazer di tempat tidur tak lupa dengan kunci mobil, ponsel juga tasnya. Ia mengemudikan sebuah mini coper berwarna merah muda dengan kecepatan 100 km/jam membelah jalanan Seoul.
Dengan hati-hati ia melangkahkan kaki memasuki kafe coffe yang dimaksud oleh si pengirim pesan.
“Tidak biasanya kau membuat orang menunggu 1 jam lamanya Nona Im Yoona. Tapi tak apalah yang penting kau sudah mau datang”.
Yoona mempercepat langkahnya menuju meja no.1 yang terdapat seseorang yang mengajaknya berbicara.
“Kau, jadi kaulah si pengirim pesan itu?”.
“duduk dululah”.
Dengan menahan amarah, Yoona duduk menuruti perintah orang berkacamata dihadapannya.
“Sudahlah Kibum ssi aku tak punya banyak waktu untuk meladeni lelaki sepertimu!”.
“maafkan aku Yoong, aku terlalu bodoh telah melepas gadis secantik dan sebaik kau..”.
“Lalu sekarang kau ingin merayuku lagi?. Kau masih tidak tahu malu Kim Kibum ssi! Aku membencimu!”.
“Jangan bohong padaku, katakanlah padaku bahwa kau masih mencintaiku sama seperti aku mencintaimu Yoong”.
“Tidak, aku tidak mencintaimu. Aku bukanlah Yoona yang bodoh yang telah kau sakiti hatinya. Kau fikir aku mau kembali untuk cintamu? Aku tak sudi untuk kembali kau duakan dengan wanita penjaga toko kado itu!”.
“Maaf, aku sadar aku salah telah menyakitimu. Aku sadar Kim Taeyeon tidak sebaik kau, dia hanya gadis murahan yang gila harta”.
“Bukankah Tuhan adil? Kau ingat, dulu kau juga memeras barang juga uang dariku untuk kau berikan padanya!”.
“Hei bukankah aku sudah katakan MAAF!”.
Kibum berdiri dan menggebrak meja, matanya memancarkan kemarahan. Namun hal itu tak membuat Yoona takut. Ia justru melemparkan pandangan yang lebih menakutkan untuk Kibum.
“Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai. Aku harus pergi”.
Ia berdiri meraih tasnya kemudian melangkah keluar kafe.
Begitu juga Kibum yang pergi meninggalkan kafe dan mengejar Yoona. Ia memegang erat gadis itu. Kemudian ia membalikkan paksa tubuh Yoona. Dengan kasar Kibum meraih tengkuk Yoona untuk mempermudah mencium gadis itu. Namun Yoona terus memberontak. Ia menendang tulang kering kaki kanan Kibum, hingga Kibum melepaskan tangan dari tengkuk Yoona.
“Dasar laki-laki brengsek! Kau gila Kim Kibum”.
“Iya aku gila karena kau berani menolak seorang Kim Kibum!”.
Sekali lagi, Yoona memukul pundak sebelah kiri Kibum dengan Tasnya. Lalu melangkah pergi.
Ia membuka pintu mobil. Dia duduk dikursi pengemudi, namun tak kunjung menjalankan mobil itu. Ya, gadis yang diketahui “strong girl” itu menangis untuk kesekian kalinya karena ulah lelaki bernama Kibum. Tiba-tiba memori-memorinya dahulu, waktu Senior High School bersama Kibum kembali berputar di otaknya. Bagaimanapun diantara mereka dulu pernah ada hubungan yang disebut kekasih. Kisah 2 tahun yang indah sebelum kehadiran wanita bernama Kim Taeyeon yang merusak semuanya.
Tak ingin berlama-lama menangis dalam kisah kelamnya, ia melajukan mobil itu membelah keramaian jalan kota.
“Yoong”, suara itu berhasil menghentikan langkah Yoona menuju Kamar.

EnD.
Tunggu next story nya ya….

Spring Surprise

Published Desember 21, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Lee Donghae
Ratting : PG14
Genre : Romance
Note : “Hadeuh maaf nie ff, niatnya mau suasana winter eh malah jadi kayak gini, mau ngrombak mood nya lagi gak ‘ngeuh’. Ya udah deh nikmati apa adanya sajo. Hwheheh maaf ya kalau banyak typo dan cerita nya rada absurd. Tinggalkan koment untuk referensi saya. Gomawo readers”.
nn_副本
###
Mata bening itu tiba-tiba berubah menjadi sayu. Seakan kesedihan yang ia derita begitu dalam, tetesan bening mulai mengalir dari sudut mata nya membasahi paras ayu yang Tuhan ciptakan. Sang surya mulai kembali ke peraduannya, meninggalkan manusia yang sedang sibuk mengakhiri aktifitas hari itu.
Gedung itu mulai sepi. Sementara gadis berambut gelombang nan panjang itu tak kunjung berbenah. Ia masih berdiri, terisak tanpa suara. Ia biarkan angin malam membelai wajahnya dan membuat sebagian rambut yang terurai itu mengayun bebas.
###
Truffle Salad, onion soup dan roti gandum berlapis saus mostar yang terlihat menggoda lidah tertata apik di meja no. 9 sebuah bistro pinggir Kota Paris.
“Bon Appetit”, seru Yuri.
Semua terlihat tersenyum dengan sendok garpu di tangan kanan juga kiri mereka. Semuanya segera menikmati makan malam dengan tenang. Namun, malam ini Yoona terlihat tak bersemangat. Gadis yang terkenal dengan julukan “shikshin” itu hanya makan sedikit. Bukan karena lidah Korea nya yang tak cocok dengan lidah Paris, atau apa. Tapi malam ini dia benar-benar tak mempunyai selera makan.
Usai makan, mereka berpisah. Yoona dan Seohyun kembali ke Apartement, sedangkan Yuri dan Tiffany pergi menghabiskan malam awal musim Semi di Paris.
Semenjak bersahabat di Junior High School, hubungan mereka sangat harmonis. Jarang timbul pertengkaran hebat diantara ke-empatnya. Kemanapun mereka hampir selalu bersama. Hingga masuk ke Universitas yang sama. Mereka juga memilih tinggal di Apartement yang sama dan Apartement itu terbilang kecil untuk seorang putri konglomerat seperti mereka. Hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan sepetak dapur di Apartement itu.
Yoona yang terlihat lesu tak langsung tidur setelah tiba di Apartement, melainkan duduk di balkon. Ia memandang sendu bulan yang tak nampak menunjukkan bentuknya dengan sempurna. Itu membuat Seohyun khawatir. Apalagi Yoona bukanlah tipe gadis yang mudah mengutarakan isi hatinya.
“Aku rindu sosoknya, dilain sisi aku mempertanyakan ketulusan hubungan kami Seo”.
Yoona memulai untuk bicara ketika Seohyun mulai berdiri disampingnya dan terus-terusan memandang wajah cantiknya.
“Aku memang tidak paham akan hubungan kalian, tapi mungkin jika eonni mau bercerita lebih aku bisa member solusi eon”.
“sudah satu bulan terakhir, dia belum pernah menghubungiku terlebih dahulu. Awalnya aku fikir itu tidak masalah sampai seminggu ini waktu berjalan. Dia mulai berani tak membalas e-mail dan telfonku Seo”.
Yoona menghambur kepelukan Seohyun dan mulai terisak membuat bahu sisi kanan Seohyun basah karena air matanya.
“Uljima eonni, mungkin Donghae oppa sedang sibuk dengan bisnis baru di Jeju-do. Sabarlah, aku yakin dia juga merasakan rindu sama seperti eonni merindukannya. Cinta kalian itu begitu besar eonni”.
Seohyun mengusap air mata Yoona dengan punggung tangannya. Dan Yoona pun mulai menarik senyum simpul dibibirnya.
Dengan mengenakan hoodie berwarna shapire blue dan hotpens pink ia berjalan mengitari taman. Mata coklat khas asia itu benar-benar termanjakan dengan beberapa macam bunga di taman pusat kota. Memang bukan kali pertama baginya menikmati musim semi di Paris. Hanya saja ini memang yang pertama baginya berjalan-jalan memandang hamparan bunga lavender, mawar juga bunga matahari favoritnya di Kota tersebut.
Setelah puas berkeliling, ia duduk di sebuah bangku taman. Ia mengeluarkan sebuah buku dari tas. Buku yang berisikan foto-foto dirinya dengan sang kekasih. Foto yang melukiskan perasaan setiap moment kebersamaan mereka. Mengenal dalam waktu hampir satu tahun sungguh membawa kesan yang mendalam bagi Yoona. Dalam waktu satu tahun pula ia merasakan indahnya cinta. Tiba-tiba gadis itu kembali menangis, ia kembali merindukan sosok bernama Lee Donghae. Padahal bukan kali pertama mereka tak bertemu selama satu bulan. Di musim semi lalu bahkan mereka tak bertatap muka selama 3 minggu, namun Donghae masih sempat menghubungi Yoona minimal 4 kali sehari entah itu bentuk pesan singkat, telefon atau e-mail. Berbeda dengan kali ini yang benar-benar tanpa komunikasi.
“Hapuslah air matamu Yoong”.
Yoona menatap pemilik tangan yang sudah berbaik hati mengulurkan sapu tangan untuknya. Dilihatnya Tiffany yang berdiri sambil tersenyum, senyum yang tak mampu ditolok oleh siapapun yang melihat. Tanpa di perintah gadis keturunan Amerika-Korea itu langsung duduk disamping Yoona.
Tatapannya penuh dengan mistery bagi Yoona. Dan senyum maut itu tak henti-hentinya ia pahat dengan rapi dibibir indahnya.
“ Berhenti bersedih, kau tahu mungkin saja Donghae akan sangat terluka jika tahu bidadarinya hanya menangis sepanjang hari di Kota Cinta ini”.
“Kau yakin, Donghae oppa akan berfikir seperti itu?”.
“Kenapa tidak? Dari awal kau perkenalkan kami dengannya. Aku sudah sangat yakin dia adalah tipekal pria setia. Yang hanya mampu mencintai satu gadis untuk selamanya. Dan itu kau. Im Yoona”.
Ucapan Tiffany berhasil membuat Yoona tersenyum lebar, bahkan kini terlukis semburat merah di kedua pipi gadis itu. Bagi Yoona, ucapan Tiffany adalah sugesti yang sangat mujarab untuk siapapun orang yang ia nasehati.
“Sebenarnya aku ingin kau mendengarkan ceritaku dan memberiku pertimbangan. Tapi aku tidak tega jika kau nanti menjadi panas dingin karena ceritaku”.
“hahahaha.. yang benar saja? Memang kau ingin bercerita apa eonni?”.
“Kau yakin siap mendengarkan?”.
Yoona mengangguk dengan semangat.
“Besok Hyukjae oppa datang kemari. Dia mengajakku, ani maksudku kita semua datang untuk kencan bersama”.
“Mwo? Aku tak bisa ikut. Kalian asyik, Seohyun dan Kyuhyun satu jurusan, Siwon sedang menemui klien disini. Sementara aku? Tidak aku tidak mau menjadi obat nyamuk kalian”.
“Ayolah Yoong, Hyuk oppa pasti akan marah padaku. Kenapa kau setega ini Yoong, lagi pula Hyuk membawa sahabatnya. Kau bisa jalan dengannya selagi kami sibuk dengan pasangan masing-masing”.
“Sahabatnya yeoja atau namja eon?”.
“Mollayo”.
“Aku tetap tak akan ikut Tiff eonni”.
“Ayolah Yongie”.
Berkali-kali Tiffany merayu, hingga 2 jam lamanya. Akhirnya Yoona mengangguk dengan terpaksa.
###
Para gadis itu sedang sibuk berdandan. Mereka asyik berpatut di hadapan cermin. Dan sesekali saling menanyakan pendapat masing-masing. Kecuali Yoona yang tampil seadanya. Celana jeans, kaos coklat muda ditutup dengan blazer tua. Tak lupa dengan sepatu cats hitam dan rambut terurainya.
Yuri dan Seohyun yang melihat Yoona saling bergeleng dan mendecakkan lidah.
“Yaa! Eonni, lihatlah penampilanmu mala mini. Kau ingin jalan santai atau apa huh? Itu sangat jelek”, sungut Seohyun diikuti anggukan oleh yang lain.
“Sudahlah jangan cerewet, aku sedang malas berdandan”, jawab Yoona dengan cuek.
“Aniyo, kau akan mempermalukan kami dihadapan sahabat Eunhyuk oppa!”, balas Yuri.
Akhirnya Tiffany dan Yuri menyeret Yoona untuk duduk di meja rias. Seohyun memilihkan gaun berwarna hijau tosca dengan panjang lengan ¾ dan panjang gaun 5 cm diatas lutut lalu dipadukan dengan lagging senada dengan warna kulit. Membuat Yoona nampak begitu anggun dan mempesona.
“Nah seperti ini kan terlihat cantik”, ujar ketiganya.
Sementara Yoona menarik nafas panjang lalu tersenyum begitu melihat hasil dari sahabat-sahabatnya.
Selang beberapa menit kemudian terdengar bunyi klakson mobil untuk menjemput mereka.
Begitu sampai di sebuah bistro, mereka tercengang karena keadaan bistro itu sepi. Hanya ada mereka berempat dan bistro itu terkesan romantic.
“Hallo nona cantik”, ucap seseorang.
Keempat gadis itu pun memandang kearah suara. Di meja pojok dekat jendela, terlihat Kyuhyun duduk mengenakan kemeja kotak berwarna putih merah.
“Oppa? Kemana yang lain?”.
Seohyun berjalan menuju meja calon kekasihnya. Begitu juga yang lain, mereka ikut dibelakang Seohyun.
“Mollayo, yang aku tahu dari Eunhyuk hyung, aku kemari untuk menahanmu dan Yuri disini. Karena Siwon Hyung sedang ada diperjalanan. Lalu Tiffany dan Yoona harus melangkah kelantai atas”.
“Mwo? Ya sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan?”.
Yoona membesarkan volume suaranya sambil meremas bagian ujung roknya menahan emosi.
“Sabar. Sudahlah kita turuti saja Yoong”, Ucap Tiffany.
Ia segera mengelus bahu Yoona dan menarik gadis yang sedang badmood itu untuk melangkah bersama menuju lantai 2.
Keadaan dilantai 2, cukup remang hanya ada sinar lilin di beberapa meja dan sinar rembulan dari jendela tanpa tirai. Eunhyuk yang duduk menghadap tangga, tersenyum melihat kedatangan kekasih dan sahabatnya. Tiffany membalas senyuman kekasihnya dengan lambain tangan juga smirk smile-nya yang khas. Berbeda dengan Tiffany, Yoona justru terlihat mengerutkan kening ketika melihat Eunhyuk tidak datang dengan sendiri. Dan seperti dugaannya, bahwa sahabat Eunhyuk itu adalah namja. Apa yang ia takutkan mungkin saja akan terjadi. Ia takut, walaupun Donghae sedang berada jauh darinya tapi tidak menutup kemungkinan ia tahu ia bertemu atau bisa dibilang melakukan double date dengan seorang namja. Dan akhirnya menimbulkan kesalahpahaman yang akan memperkeruh keadaan hubungannya dan Donghae.
Ketika Yoona ingin melangkah begitu saja tanpa memandang wajah sahabat Eunhyuk. Ia tersentak ketika merasakan tangan kekar memeluknya erat dari belakang. Dengan lancang orang itu meletakan wajahnya di bahu Yoona. Namun dari deru nafas yang Yoona rasakan juga dari bau parfum orang itu membuat Yoona ingin menumpahkan air matanya sekarang juga. “Oppa”, kata itu keluar begitu saja dari mulut mungilnya. Walau pelan tapi masih cukup keras untuk mereka dengar bersama.
“Hae oppa, sudah lepas dulu. Jika kalian ingin menyelesaikan masalah kalian, sebaiknya nanti saja. Tahan dulu emosi kalian hingga selesai makan malam”, ucap Tiffany sambil mengerling kearah Eunhyuk.
###
Taman itu nampak sepi, bulan bersinar begitu terang dengan sebagian awan tipis yang menutupi bentuk bulatnya. Gadis itu kekeh untuk berdiri membelakangi kekasihnya yang duduk sambil menunduk seolah ingin menenggelamkan wajahnya di waktu itu juga.
“Mianhe, mianhe”.
Lelaki itu mencoba membuka pembicaraan dengan sendu.
“Sekarang alasan apa yang ingin kau pakai? Atau tidak ada alasan sama sekali. Katakan saja jika kau sudah lelah dengan hubungan kita”.
“Mianhe, bukan seperti itu Yoong, aku benar-benar dibuat sibuk dengan pekerjaan di perusahaan baru keluarga kita”.
“Oh, begitu sibuknya kah hingga kau tak bisa membalas pesanku? Bahkan untuk mengangkat telfonku. Tak bisakah kau meluangkan waktu hanya 1 menit saja untuk kekasihmu?”.
“bukan begitu Yoong, kupikir jika aku bekerja dengan sungguh-sungguh dan lembur setiap hari, pekerjaanku akan cepat selesai dan kita cepat bertemu”.
Donghae mulai terisak. Komitmennya sebagai namja yang tak boleh menangis dihadapan wanita yang ia cintai pun runtuh seketika. Ia merasa sangat bersalah kepadakan gadis yang berdiri membelakanginya.
“Berapa kali aku katakana padamu oppa, jangan pernah memaksa menyelesaikan pekerjaan dengan cara memaksa tenagamu bekerja terlalu keras hingga tak ingat istirahat. Kau tahu, aku selalu merasa sakit jika ka uterus seperti ini”.
Yoona berjalan mendekat kearah Donghae dan berlutut mensejajarkan dirinya dengan pria yang sedang menangis itu.
“Sekali lagi aku ucapkan maaf kepadamu Yoona-ah. Aku berjanji demi kau, aku akan mulai merubah kebiasaan buruku. Dan sesibuk apapun aku akan mencoba membalas pesanmu”.
Yoona mulai tersenyum dan menghambur memeluk Donghae. Donghaepun membalas pelukan dari gadisnya.
“Setidaknya aku akan mencoba membalas pesanmu dengan singkat hanya 1 kali balasan”, lanjut donghae yang berhasil mendapat jitakan dari Yoona.
“Ya! Kau tak boleh membalas pesanku hanya sekali. Minimal harus dua kali dan dua kali telfon!”.
“hahahahah… baiklah My Princess. Sekarang kau kuantar pulang ke apartementmu”.
Merekapun saling menautkan jari jemari menuju mobil Donghae.
Keesokan harinya, Yoona bersama dengan Yuri, Tiffany dan Seohyun pergi ke kampus bersama menjalankan aktifitas mereka sebagai mahasiswi demi gelar MBA yang akan mereka raih 4 bulan lagi.
Hari ini cukup melelahkan untuk mereka karena selam 8 jam setengah harus mendengar ceramah dari sang dosen tanpa henti.
Ketika pulang, merekapun naik mobil yang bersama. Kali ini mereka menggunakan mobil Tiffany. Ketika Yoona hendak menutup pintu mobil, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan berhenti tepat di samping mobil mereka. Perlahan kaca kursi pengemudi itupun terbuka memperlihatkan wajah sang pemilik mobil.
“Oppa”, pekik Yoona.
“Yoona, turunlah. Biar aku saja yang mengantarmu pulang”.
Yoona melirik eonni-eonninya juga Seohyun untuk meminta persetujuan. Terlihat bahwa mereka mengangguk dan tersenyum tanda jika mereka member ijin. Yoona pun pindah ke mobil Donghae dan duduk dikursi sebelah Donghae menyetir.
Mobil itu terus melaju. Yoona terheran karena Donghae melajukan mobilnya buka ke jalan menuju apartement Yoona melainkan menuju menara Eiffel.
“Kenapa kita kesini”, ucap Yoona yang terlihat binggung saat mobil berhenti tak jauh dari menara Eiffel.
“Ikut saja. Kau pasti tak akan menyesal”.
Dengan pasrah Yoona mengikuti langkah Donghae menuju jembatan sungai tak jauh dari menara Eiffel. Donghae yang menyadari Yoona melangkah jauh dibelakangnya, segera menarik lengan Yoona untuk berjalan menyamakan langkah dengannya.
Sesampai di tengah jembatan. Mereka sama-sama terdiam sibuk dengan fikiran masing-masing hinggga tercipta suasana canggung diantara keduanya.
“Sekarang, eumb apa yang kau rasakan sekarang?”.
“Tentu binggung. Karena oppa bersikap begitu aneh hari ini”.
Donghae tersenyum lalu memandang Yoona yang sedang menutup mata mebiarkan udara sejuk menerpa wajahnya dan membuat scarfnya seakan akan terbang.
“Jika aku merubah rasa binggung itu menjadi haru bagaimana?”.
“Binggung menjadi haru? Hai kau sedang melucu oppa”.
“Aniyo, aku serius. Apa kau begitu tak percaya”.
“Ne. aku sedikit merasakan ragu”.
Donghae mendesah kecil sebelum menjawab tantangan Yoona dengan kata,”Baiklah akan kutunjukkan padamu”.
Dia mulai berlutut dihadapan Yoona, membiarkan Yoona yang clingukkan merasa risih atas perlakuannya yang mulai menarik perhatian orang sekitar.
Donghae terus menjalankan aksinya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna coklat emas yang berbahan bludru. Perlahan lahan ia membuka kotak itu lalu memandang Yoona.
“Yoona, would you marry me?”.
Dengan pasti Donghae mengucap kalimat itu. Sementara Yoona hanya membelalakan mata menatap kesungguhan dari Donghae yang mulai menyentuh tangannya dengan lembut.
“Ne, aku mau oppa”, balas Yoona.
Donghae sangat terkejut menengar jawabang dari Yoona. Ia segera berdiri dan memeluk Yoona erat.
END~
Akhirnya END juga. Makasih readers yang udah membaca, walaupun kalian tak meningglkan sebuah komen atau apapun untuk FF saya. Tapi tak apalah.
Sekali lagi saya ucapkan trimakasih. Dan maaf kalau banyak typo. FF ini saya tulis sambil ngantuk. Hahahahahaa..

Without Tears

Published Oktober 20, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Im Seoloung
Lee Donghae
Other cast
Genre : Angst, romance
Ratting : PG 13
Note~ buat yang nunggu Loving you chap 2, sabar ya. Filenya aku simpen di lappy kakakku. Jadi belum sempet buat publish. Eh ini malah ngpost Judul FF baru. Moga aja crita dengan cast Yoonhae mulu ini ga bikin bosen readers.. Ok silahkan baca

*****
Without Tears

Sunyi, seperti tak ada semangat kehidupan lagi didunia ini. Dunia yang sangat menyakitkan bagiku. Tentu tak semua hal yang Tuhan ciptakan untuk makhluknya adalah hal yang menyakitkan, dibalik semuanya pasti terdapat kebahagian. Setidaknya kebahagian itu aku miliki walau hambar jika dirasakan. Tapi aku tak menyesal dengan apa yang Tuhan hadiahkan untuk menemaniku di bumi ini.

Sebuket bunga lili aku genggam dengan erat. Menatap hal didepanku ini membuat seluruh persendianku terasa mati. Perlahan aku meletakkan bunga ini diatas pusara. Ya inilah pusara mendiang ibuku. Wanita yang sangat aku kagumi, aku sayangi bahkan aku anggap dia adalah ibu sekaligus sahabat terbaik yang aku miliki.

Menatapnya membuat rasa sedih dan emosi ku jatuh bersamaan bulir-bulir airmata. Seakan dunia tak ingin aku bersedih sendiri, ia kirimkan rintikan hujan meredam suara isakan setiap tangisku.

Tiba-tiba seseorang memberikan sebuah payung kepadaku. Sebuah payung cukup besar bermotif teddy bear. Sebuah kado terakhir yang eomma berikan padaku.

“bangunlah.. Kumohon jangan biarkan dirimu sakit”.

Kutoleh sumber suara yang sangat aku sukai. Dialah Donghae, Lee Donghae. Salah satu manusia yang Tuhan ciptakan yang mau ikut mewarnai setiap detik dari hembusan nafasku. Selain dia, aku masih memiliki dua chingu yang setia dari lima tahun yang lalu. Mereka adalah Yuri dan SooYoung.

*****

Aku berjalan memasuki taman menuju pintu rumahku. Samar-samar aku melihat soeorang namja paruh baya dengan warna rambutnya yang mulai memudar. Wajah tegangnya berubah seketika melihat aku berjalan dan diapun tersenyum kearah Donghae oppa yang sedang memapahku.

Sedari tadi aku belum bicara tentang diriku sendiri. Aku adalah Im Yoona, gadis 17 tahun yang memiliki namjachingu terhebat seperti Donghae oppa.

Pria yang sedari tadi berdiri diambang pintu itulah nae abeoji. Im Seoloung.

“Kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?? Kenapa kau selalu membuat cemas appa? Kenapa harus merepotkan Donghae oppamu?”, cecar appa. Aku melihat wajahnya sekilas yang sedang mengeluarkan nafas berat.

“sudahlah abeojim biarkan yeojachinguku ini istirahat dulu. Yoong, berjanji pada ayahmu bahwa kau tak kan membuatnya cemas. Dan aku pamit kembali ke kampus dulu. Nanti malam aku usahakan datang lagi”.

Aku tersenyum menatap punggung lebar kekasihku itu dan mengucap maaf pada ayah sebelum beranjak pergi ke kamarku.

Sejujurnya sikap mereka kepadaku itu sangat membuatku risih. Jika mereka berfikir aku senang atas sikap mereka, itu salah. Justru itu membuatku jengkel. Dan merasa seperti orang tidak berguna.

*****
Bel sekolah berbunyi. Aku mengikuti langkah Yuri dan SooYoung menuju kantin. Aku sedikit tertawa melihat tingkah kesal SooYoung yang sedang bergulat dengan mesin minuman kantin yang bandel. Akhirnya setelah 7menit menunggu 3 botol soda keluar dari mesin minuman itu.

Wajah gembira SooYoung berubah menjadi suram ketika datang ke meja kami.

“Yong ada apa dengan hidungmu??”.

“Aku?? Memangnya ada apa dengan hidungku?”, aku menjawab sambil menyentuh ujung hidungku. Dan aku merasa ada sesuatu yang mengalir kental dari hidungku. Aku langsung berlari ketoilet.

Aku terduduk dipojok toilet menahan rasa pusing yang amat menusuk di kepala ku dan semua yang kulihat berubah jadi gelap.

*****

Aku terbangun dari tidur panjangku. Perlahan kubiasakan mataku menangkap cahaya. Terlihat ayahku yang tertidur disofa. Dan kulihat pula Donghae oppa tidur dikursi sambil menggenggam tanganku erat kepalanya bersandar dengan ujung kasurku. Dirasa dari bau obat yang menyengat aku yakin bahwa sekarang aku berada di rumah sakit.

Tiba-tiba terdengar suara decitan dengan hati-hati pintu ruang inapku terbuka. Kulihat mereka -Yuri&SooYoung- datang membawa sebuket bunga lili dan sebuket bunga matahari.

Sejenak sikap mereka mengingatkanku dengan kejadian 3 tahun lalu. Satu minggu sebelum eomma pergi. Dia meminta appa membawakan buket bunga lili favoritnya dan buket bunga matahari untukku.

Kenangan itu membuatku semakin takut. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa suara ibu semakin dekat denganku. Batin kami serasa bergabung menjadi satu.

“Yoong”.
Lagi-lagi suara dari Donghae oppa selalu membuatku seperti kembali dari suatu tempat yang jauh. Dan aku tak sadar jika cairan bening ini telah tumpah membasahi pipiku.

“Uljima saeng”, ucap Yuri. Ia menyeka air mataku dengan ujung ibu jarinya.

Sejenak kehadiran mereka membawaku terhanyut kembali kepada diriku sendiri. Im Yoona gadis yang ceria dan bawel.

*****
Sebulan sudah berlalu. Tepat tiga hari yang lalu aku keluar dari rumah sakit. Sungguh aku tak mengerti sebenarnya penyakit apa yang kuderita. Kemarin bukanlah yang pertama melainkan ketiga kalinya aku dirawat. Dan aku berada disana tidaklah sebentar. Melainkan berbulan-bulan.

Seharian berada dikamar sungguh membuatku merasa jenuh. Tanpa sepengetahuan ayah aku keluar dari kamar menuju ruang tamu.

“Sebenarnya bagaimana perkembangan putriku?”.

“Ini tidak buruk. Tapi akan lebih baik jika tuan mengatakan yang sebenarnya”.

langkahku terhenti ketika mendengar suara ayahku dengan sesorang yang berbicara diruang tamu.

” Aku tak sanggup melihat dia bersedih. Aku juga takut kalau dia menjauh dari Donghae karena sebenarnya Donghae juga sudah tahu”.

“Tapi akan lebih menyakitkan jika nona mengetahui hal ini dari orang lain”.

Entah dapat kekuatan darimana. mendengar pembicaraan mereka membuatku semakin ingin tahu apa yang terjadi. Tanpa dikomando kakiku terus melangkah kea rah sumber suara. Kudapati benar-benar ayahku yang sedang bicara dengan dokter Han.

“ Ada apa ini? appa waeyo?”.

Mereka terdiam. Bahkan aku melihat appa memberi isyarat kepada Dokter Han untuk segera pergi. Benar saja dia segera pergi setelah membungkuk padaku.

“Katakan padaku, sebenarnya ada apa denganku? Apa yang appa dan Donghae oppa ketahui?!”.

Aku mulai terisak, rasanya sakit mengetahui seseorang yang kita sayangi berani menutupi sebuah kenyataan yang seharusnya kita ketahui. Ayah masih terdiam melihatku terisak. Tubuhku terasa lemas, perlahan-lahan aku seperti kehilangan nyawaku. Aku seperti ingin terjatuh jika saja tangan itu tak menopangku. Hangat pelukan yang selalu ia berikan padaku berhasil meredam emosiku, namun tak mampu menahan air mata yang semakin deras mengalir.

“Jangan begini, kumohon hentikan. Aku yakin kau akan baik-baik saja, semua tak akan pernah berhenti. Percayalah padaku my love”.

Perkataannya sungguh membuat hatiku bergetar. Dia berbicara seolah-olah dia yakin aku akan selalu bersamanya. Tapi entah kenapa hatiku berkata bahwa dia tidak boleh terlalu mencintaiku tapi aku tak ingin dia melepasku dan pergi untuk gadis lain.

****

Hari demi hari telah berganti menjadi minggu, minggu demi minggu telah kulewati. Ini sudah 7 bulan lamanya. Aku semakin sering merasa lelah, tubuhku lebih sering berkringat. Bahkan tanpa sepengetahuan appa dan yang lain, akhir-akhir ini aku sering mengeluarkan darah pada hidungku juga disetiap batukku. Bahkan sudah 3 bulan ini appa merekomendasikan aku untuk ikut home schooling.

Hari ini cuaca mendung, aku, Yuri dan SooYoung sedang berkumpul disebuah kafe favoritku. Sudah kesembilan dalam bulan ini aku mengajak mereka kemari. Disini suasana tenang, sejuk dan makanannya juga enak.

“Wah Yoong, 1 bulan lagi kau dan Donghae oppa merayakan 3th anniversary. Apa yang ingin kau lakukan??”, ucap SooYoung memecah keheningan. Kulihat Yuri ikut mengangguk.

“Pergi, aku ingin memintanya menemaniku ke Jeju seminggu sebelum hari itu”.

Entah kenapa, jawabanku membuat Yuri menitihkan air mata. Dengan lembut dia mengusap punggungku. Aku semakin tak mengerti sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku.

“Hai, kenapa kau menangis eon?”.

“Aniyo, kau harus janji di perayaan keempat yang kami buat kau harus hadir”.

“Ada apa denganmu? Jangan marah hanya karena tahun ini aku tak membeiarkan kalian ikut”.

Disela-sela obrolan kami, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menutup mataku. Segera kutebak bahwa itu Donghae oppa, ternyata benar. Dia pun duduk di sebelahku menggeser posisi Yuri eonni.

“ Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya sangat seru”.

“Ambillah cuti oppa, aku ingin kita pergi ke Jeju aku ingin melihat kebun bunga disana”.

“ Kenapa harus mendadak?”, tanya Donghae oppa.

“ Tidak mendadak, aku hanya ingin menghabiskan waktu hanya denganmu”.

“ Menghabiskan waktu?”.

“Ne”.

“Baiklah kita berangkat minggu depan”.

*****

Aku sudah siap menunggu namjachinguku yang sedang mengobrol dengan appaku didalam kamar. Selagi aku menunggu mereka, aku memutuskan melihat-lihat sebuah kamar yang berisi barang-barang kesayangan eomma. Kamar ini aku yang meminta appa membuatnya karena aku tak mau barang eomma diletakkan digudang. Tiba-tiba sebuah surat yang ditaruh di atas meja kamar sangat menarik perhatianku.

“Yoong, sedang apa kau disini? Ayo berangkat Donghae menunggumu diluar”.

“Ne appa, tunggu sebentar”.

Sepanjang perjalanan aku terdiam menatap ratusan meter ladang bunga matahari. Hingga tak terasa mobil sport hitam yang kunaiki sudah berhenti di sebuah villa milik ayahku.

“Sampai kapan kau memilih melamun nyonya Lee, kita sudah sampai”.

“Yak !! ikan pervert aku masih noona Im belum nyonya Lee”.

Aku mengembungkan pipi mencoba menggodanya dengan berpura-pura marah. Padahal sejujurnya aku sangat menyukai panggilan Nyonya Lee darinya untukku.

“Yak chagi, jangan marah dong. Aku kan benar nanti jika kau sudah kunikahi kau kan berubah jadi Nyonya Lee”.

“aku tidak akan menikah denganmu Lee pervert!”, ucapku sambil berlari kedalam villa. Ternyata dia mengejarku. Akupun berlari untuk menghindarinya. Namun tak lama akupun terbatuk. Lagi-lagi ini bukan batuk biasa. Ada darah yang ikut keluar. Donghae oppa segera berhenti mengejarku. Ia mendekat dan menunjukkan wajah cemasnya.

“Kau baik-baik saja? Obat yang abeojim bawakan kau taruh dimana? Biar kuambilkan air untuk membantumu minum obat itu”.

Ia berjalan mendekati kotak obatku namun segera kucegah. Kugenggam erat lengannya sambil tersenyum manis.

“Tidak usah tuan Lee. Ini hanya perlu kau bersihkan dengan tissue seperti ini”.

Aku mengajarkannya mengelap sisa darah disekitar bibirku. Sesaat suasana berubah jadi hening, menyebabkan kecanggungan diantara kami. Aku tertunduk sambil menahan isak tangis. Dia mengangkat daguku, lalu

Chu~

Aku kaget ternyata dia malah menciumku. Aku hanya membalas ciumannya sebentar tak lebih dari 3 menit.

“ Jangan bodoh, minum obatmu lalu istirahat”, ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Aku pun mengangguk dan tersenyum melihat tingkahnya yang lucu.

Keesokan harinya.

Aku berjalan kearah pantai. Tak ada Donghae oppa yang menemaniku. Sungguh sebenarnya aku kecewa kepada dia dan appa termasuk kedua sahabatku yang selama ini menyembunyikan penyakitku. Aku tahu dari surat yang kutemukan kemarin. Disana tertulis jelas aku mengidap leukemia akut. Kalian tahu bagaimana rasa hatiku saat itu?. Itu jauh lebih menyakitkan dari sekedar terkena sengatan petir. Aku ingin sekali membentak Tuhan jika bisa. Dia terlalu kejam menghadiahkanku sebuah penyakit yang sama membuat eomma meninggalkanku. Meninggalkan gadis 13 tahun yang masih membutuhkan perhatian seorang eomma, seorang gadis yang mulai menginjak usia dewasa. Tapi semua itu aku urungkan. Jika diteliti lebih dalam pasti tujuan mereka baik. Mereka hanya tak ingin melihatku bersedih. Akupun memilih diam tak memberitahu mereka jika aku sudah tau semuanya. Aku mencoba tersenyum seperti yang mereka inginkan.

Aku melangkah semakin jauh spertinya aku berdiri sangat dekat dengan bibir pantai. Lalu seseorang menarikku hingga aku terjatuh dipangkuannya.

“Yak apa yang kau lakukan?!”, teriaknya.

Dialah namjachingu yang sangat setia mencintaiku.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih banyak atas segalanya kau adalah malaikatku Lee Donghae. Maafkan aku membiarkanmu kesulitan dan merasa lelah berdiri disampingku. Terima kasih kau sudah memberiku harapan yang besar hingga aku bisa bertahan sampai hari ini”, aku menangis dipelukannya. Aku melarangnya menghapus darah yang tak hentinya keluar dihidungku.

“Uljima, maaf aku tak bisa jujur Yoong, bertahanlah aku mencintaimu. Uljima”.

“aku menangis bahagia bodoh!!. Aku sangat senang mengetahuimu hanya tersenyum untukku diwaktu yang lama. Walau duniaku sudah berakhir percayalah aku akan selalu bersamamu. Selama ini aku tak bisa mengatakan apapun untukmu, tapi sekarang aku bisa memberitahumu bahwa cintaku hanyalah untukmu. Sampaikan pada abeojim bahwa ibu dan aku harus pergi dahulu karena kami menyayanginya”.

Aku tak kuat rasanya detak jantungku melemah disaat aku masih tersenyum. Hanya sebuah jeritan yang terdengar seperti doa seseorang kepada Tuhan. Dia meminta Tuhan agar aku diperbolehkan menemaninya didunia. Hanya suara isak yang kudengar sebelum pandanganku berubah menjadi cahaya hitam

*****

Aku tersenyum. Kulihat semua orang yang pernah kucintai sedang menangis diatas sebuah pusara. Dan entah sejak kapan eomma sudah berdiri sambil memeluk pundakku erat.

“Biarkan mereka sementara ini larut dalam kesedihan. Kau sudah tak ada hubungan dengan mereka. Biar sang waktu yang menghapus kenanganmu dengan mereka. Sekarang pulanglah”, ucap eomma ikut tersenyum.

“ne eomma”.

Kami berjalan beriringan meninggalkan mereka.

*END*

Akhirnya selesai, mian ceritanya jelek. Terima kasih untuk yang sudah mau membaca ff gak karuan bikinan saya. *Bow. maaf kata-katanya masih hancur

I Never Imagined (Drable ver.)

Published Oktober 18, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
         Lee Donghae
         Yoon Seung Ah
Genre : Angst.
Ratting : G
Note : ini FF baru author. Sebelumnya author ucapin trima kasihh atas komen yang readers tinggalin. Buat Loving Yoh chap 2, sabar ya.. Dan silahkan nikmati ff baru ini !

image

==_==
I Never Imagined

Beratus lembar tissue berserakan memenuhi sebuah ruangan. Ruang yang sunyi, gelap dan sangat berantakan. Samar-samar, terdengar isak tangis yang berasal dari sudut ruangan.

-I Never Imagined-

Detik detik membawa jatuhnya embun ke permukaan tanah yang coklat, kicau burung gelatik menyambut pagi yang cerah berawan.

Seperti biasa, seorang gadis sedang sibuk mempersiapkan buku yang akan ia bawa.

Dialah Im Yoona, pemilik rumah bergaya minimalis bercat biru. Mahasiswi tingkat 4 itu terlihat sedikit panik mempersiapkan buku yang akan dibawa.

Pukul 07.00. Deru mobil membawa kebisingan didepan rumah gadis cantik itu. Tak butuh lama sang pemilik rumah pun keluar rumah dan masuk kedalam mobil.

“Trima kasih sudah mau menjemputku oppa”, ucapnya dengan menggigit roti nanas yang ia jadikan bekal.

“Ini sebagai hadiah karena kemarin aku tak bisa mengantarmu datang ke pesta Seohyun”, jawab si pengemudi mobil.

” Jika kemarin tak bisa, bisakah besok malam kita dinner diluar?”, tanya Yoona.

Hening tak ada jawaban dari lawan bicaranya hingga gadis itu sedikit mengguncang bahunya.

” Yak!! Hentikan Im Yoona !”, jawabnya.

Yoona tersentak mendengar bentakan dari seseorong yang sudah menemani hari-harinya selama lebih dari empat tahun ini.

“oppa, Donghae oppa,, ka kau membentakku?”.

Ciit…
Gesekan yang timbul dari roda dan jalanan itu memekakan telinga. Namjachingu Yoona yang disebut Donghae itu mengerem mobilnya secara mendadak.

“Maaf. Maafkan oppa Yoong,, aku….”.
Bicaranya dipotong oleh Yoona sebelum dia selesai bicara.

“Kupikir kau butuh waktu sendiri. Aku turun disini saja. Jangan hubungi aku jika kau masih meredam emosi”.

-I Never Imagined-

Aku sudah tak bisa untuk menangis
Aku sudah tak bisa berkata
Kau buat hatiku membeku
Hidup tanpa membuatku merasakan nestapa…..

Satu minggu berlalu dengan cepatnya. Donghae sama sekali belum menghubungi Yoona. Sudah puluhan pesan yang gadis itu kirimkan namun tak pernah terjawab.

Langit begitu gelap. Seperti melarang orang-orang beranjam dari peraduannya, matahari yang biasa hadir membawa terik cahayanya, siang ini sama sekali tak menampakkan diri.

Yoona bertekad datang ke kantor tempat Donghae mengabdikan diri sebagai meneger pemasaran.

Sepanjang perjalanan menuju ruang Donghae, sudah lebih dari tiga kali dia mendengar anak buah Donghae sedang menggunjing Donghae.

Hatinya semakin terpuruk mendengar bisikan dari seorang OB kantor itu.

“Kudengar Tn. Kang itu adalah pegawai yang disiplin, dia tak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Tapi hanya karena tak sengaja ia membuat Nona Yoon tersinggung, Lee sajangnim jadi memecatnya. Sebenarnya apa hubungan mereka berdua??”, bisik salah satu OB.

-I Never Imagined-

Disalah satu ruangan yang ada di sebuah gedung perkantoran megah terdengar suara gemuruh seperti perdebatan beberapa anak manusia yang bisa dibilang cukup dewasa.

“Sampai kapan kau akan menyembunyikan ku?? Apakah menurutmu dia lebih cantik dariku atau kau hanya memanfaatkan kepolosan gadis 21 tahun itu?!”, ucap seorang yeoja.

“Diamlah! Aku tak mungkin semudah itu mengakhiri hubungan ini. Aku mencintainya”, teriak sang namja.

“Bukankah kau bilang sayang padaku?? Aku tak akan sudi melepasmu untuk gadis jalang sepertinya. Kau hanya boleh bersamaku Lee DongHae!”,jawab sang yeoja.

Braak!!!
Yoona menggebrak pintu dengan kasar. Donghae yang sadar jika ada Yoona langsung berlari mengahampiri gadis namun, ditahan oleh Yoon Seung Ah.

“Kau disini gadis jalang?? Apakah ingin melihat ini?”, ucap Seung Ah sambil menarik tengkuk Donghae.

Dia mencium bibir Donghae dengan kasar dan diselimuti penuh nafsu.

Donghae mencoba menolak ciuman yang membuat gadis yang ia cintai itu terluka, tapi Seung Ah menggigit bibir bawah Donghae, membuat namja itu kalah.

Yoona berlari keluar gedung sambil mengusap setiap gulir airmatanya.

Tiba-tiba hujan turun begitu deras, lalu  seseorang dengan kasar menahan tangan kirinya membuat langkahnya terhenti.

Ia tercekat ketika mengetahui Donghae yang menahannya.

” maafkan aku Yong, jebal mianhe”.

“hhentikan, hentikan sampai disini oppa. Aku sadar aku bukan gadis yang baik untukmu. Bahkan empat tahun ini kita lewati bersama tanpa sebuah ciuman. Aku menyerah oppa. Lupakanlah kenangan kita”.

Gadis itu berlari menerjang derasnya hujan yang mengalir. Ia tak menghiraukan Donghae yang terus meneriaki namanya.

Malam mulai menjelang. Gadis igu masih bersedih tak menghiraukan keadaan rumah yang gelap. Ia membuang ratusan tissue untuk menyeka air matanya. Masih dengan keadaan basah karena hujan, ia duduk di tingkatan tangga rumah sambil menangis.
*END
Terima kasih buat yang udah mau baca, maaf ceritanya gak bagus. Don’t forget untuk tinggalkan jejak