Yoona

All posts in the Yoona category

Marry U

Published Desember 1, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

Casts : Lee Donghae

Im Yoona

Ratting : PG16+

Note : “ hay author comeback again, mianhe author ngilang lama, habis banyak tugas dari sekolahan. Pas kemarin mau ng post ff, tapi semua FF ku kedelete. Jadi bikin lagi deh. Huh. Ya udah met baca FF baruku ini..”

Marry U

Gambar

===#===

“Cinta bukan permainan hati melainkan perasaan. Dalam cinta, hatilah yang bermain. Dalam keharmonisan suatu pernikahan, tidak hanya membutuhkan cinta, tatapi kita juga butuh komunikasi lebih dari sekedar sahabat”

Bagiku, dia lebih dari sekedar kumpulan warna dalam hidupku, mengaguminya mengajarkanku berbagai hal yang sebelumnya tak pernah kumengerti. Pertemuan dewasa inilah awal kubuka lembaran cinta bersamanya. Tanpa ia ketahui sedikitpun tentang perasaan ini.

===#===

Begitu deras hujan mengguyur kota Seoul, banjir yang terjadi di selatan kota, menyebabkan adanya peralihan jalan yang membawa dampak besar yaitu kemacetan. Terkadang hal ini sungguh menguji emosi. Seperti mini coper berwarna kuning itu yang mencoba mendesak. Sang pengemudi tak menyadari jika dari arah berlawanan telah melaju sebuah truk. Hiingga … “Jedaar!!!”. Kecelakaan itupun terjadi. Hampir tak ada yang selamat dalam kecelakaan itu kecuali satu orang. Dia gadis yang beruntung, mungkin dia adalah gadis titisan bidadari yang Tuhan kirim ke bumi. Disaat kedua orang tuanya meninggal ditempat dengan keadaan terbakar, dia hanya luka ringan dilutut kanannya serta beberapa goresan dipunggung, tentu luka punggung itu pasti akan membekas. Tapi itu tak akan bermasalah karena ini adalah Korea. Luka kulit separah apapun jika sudah dioperasi plastic pasti akan hilang tanpa bekas.

Ayahku yang seorang dokter ahli bedah dengan sigap membantu gadis itu. Sebenarnya orang tuaku sangat shock atas peristiwa itu, karena orang tua gadis itu adalah putri sahabat ayahku sejak mereka berusia 7th.

>>9tahun kemudian<<

Rumah bergaya eropa di tahun 70’an itu masih berdiri kokoh. Beberapa bulan setelah operasi berhasil, ayahku meninggal karena gangguan jantung. Ibu memutuskan pindah ke Mokpo. Tentu saja dengan gadis yang dulu kupikir penyebab kematian ayah. Aku memilih tak ikut dengan mereka dan masih tinggal bersama dengan paman Choi dan putranya.

Setelah 9 tahun kini kuputuskan untuk kembali kerumah ini. beberapa langkah dari bibir gerbang rumah, aku menghentikan langkahku.

“Donghae-ah !”.

Aku menoleh dan aku sangat terkejut, gugup juga bahagia. Wanita paruh baya yang memakai handbook itu tersenyum sambil menggeret sebuah koper. Aku sangat merindukannya. Dialah ibuku.

“Eommeoni.. itukah kau?”, aku berlari menghambur kepelukannya.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar jika ada orang lain bersembunyi dibelakang eomma. Aku tak melihat wajahnya begitu jelas karena dia menunduk. Topi coklat besarnya sangat menghalangi pandanganku.

“Eommeoni nugu?” acungku pada wanita itu sehingga dia mengangkat wajahnya.

===#===

Mwoya? dangsin-i geunyeowa gyeolhon hago sip-eo?” (apa? kau ingin menikahkan ku dengan nya?).

Ucapku tak percaya. Sungguh eomma telah klewat batas. Ku akui dia cantik tapi buatku ini terlalu mendesak.

Eomeoni, dasi gyeoljeong-eul saeng-gag hasigi balabnida, ne?”.( ibu, aku mohon pikirkan lagi keputusan anda, ya?)

Gadis itu semakin cantik saat beragyo seperti ini, dia mengerutkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya.

“ keputusanku sudah bulat. Ayah Lee dan keluarga Im pasti akan sangat setuju. Donghae-ah kau anak yang berbakti pasti mau mengabulkan permintaanku ini kan?”. *Banyangkan, ibunya Hae-ppa itu ibunya Baek Seung Jo di Playfull kiss*

Skak-matt untukku. Mana mungkin aku bisa menolak permintaan eomma jika dia sudah merengek seperti ini.

“Ne eomeoni”, ucapku lesu.

Hari demi hari terus bergulir untuk berganti bulan. Aku dan gadis pilihan eomma –Im Yoona- kini sudah menikah. Hari ini akan ada rapat penting dikantor, hingga mengharuskan ku berangkat pagi. Mobil A5 hitam mulai keluar dari garasi dan melaju ke jalanan yang masih sepi. Kulirik kaca spion di belakang sana kulihat Yoona terjatuh dengan kotak makanan dipelukannya.

Pukul 19.30 kst.

“Ini sudah malam kau tak ingin pulang Donghae-ah”, ujar Eunhyuk sahabatku.

“hmb.. ini tanggung tinggal proses edit lalu selesai, kau pulanglah dulu”.

“Baiklah, Hae ini tugas sekretarismu si Jessica, jadi jangan hanya mengerjakan tugas sekretarismu yang centil itu kau lupa rumah”.

“Ne, arasseo Hyuk”.

Menyebalkan sekali si monyet itu. Apa hanya karena punya sekretaris, kita jadi menelantarkan tugas dengan mudah. Dasar monyet tak tau tahu tanggung jawab.

Akupun melanjutkan pekerjaanku dan pulang setelah 2 jam berlalu. Saat aku pulang, rumah begitu sepi dan lampu belum ada yang dimatikan. Kulihat Yoona tertidur di sofa ruang tv. Akupun mengangkat tubuh mungilnya ke kamar kami.

Sinar matahari pagi yag datang melalui celah-celah tirai jendela memaksaku mengerjapkan mata untuk membiasakan diri. Aku mencium bau sesuatu, hingga langkah ini membawaku ke lantai 1, kulihat Yoona dengan rambut digelung memakai celemek sedang berkutat dengan masakannya. Tak sadar seutas senyum simpul tersungging dibibirku. Senyum itu memudar ketika dia tersenyum kepadaku.

“Donghae-ssi kau sudah bangun? Kau ingin sarapan dulu atau mandi dulu? Aku buatkan omlete dan orange milk favoritmu”.

Aku berjalan ke meja makan dan menarik salah satu bangku.

“Kau yakin aku tak akan masuk rumah sakit karena masakanmu?”.

Dia tak menjawab pertanyaanku kulihat dia mempoutkan bibir indahnya dan membuatnya semakin cantik dimataku.

“Ku rasa tidak apa-apa, ayolah makan kumohon Tn. Lee”.

Aku melirik jam sesaat sebelum mengambil garpu ternyata 15 menit lagi akan ada tamu penting di kantor, jika aku sarapan pasti akan telat. Jadi aku memilih mandi dan langsung berangkat tanpa menyentuh masakan Yoona.

Thank you. I hope our cooperation work well Mr. Takuyasi”.

Belum sempat Tn. Takuyasi beranjak dari tempat duduk, pintu ruangan sudah terbuka. Ku lihat nampak ekspresi terkejut terlukis diwajah Yoona.

“Ah.. mianheyo mianheyo. Kupikir ini jam istirahat makan siang”, ucap Yoona sambil mengusap tengkuk dan menyembunyikan Sesutu dibalik punggungnya.

Mr. Lee, who she is?”.

Aku terperanga mendengar pertanyaan Mr. Takuyasi client ku dari Jepang. Aku menatap Yoona yang sedang menunduk. Tiba-tiba Eunhyuk menyikut lenganku dan membuatku kembali kedalam realita kehidupan. Akupun melangkah kearah Yoona yang masih terpaku. Segera kurangkul dia. Dan dengan lantang aku berkata,”She is my Wife”.

Aku tersenyum kearahnya. Kulihat semburat merah dipipinya. Sepertinya dia sangat terkejut dengan ucapanku.

“You’re married? Well sometime you must invite your wife to dinner with us. Bye Mr. Lee and Mrs. Lee”.

===#===

Aku menatap langit, mala mini benar-benar gelap tanpa satu pun bintang di langit sana. Aku merasakan ada sepasang mata yang sedang mengamatiku hingga aku tergerak untuk melihat orang itu. Yoona melangkah menjauhiku, tapi secepat mungkin aku menarik lengannya hingga ia terhenti.

“Aku hanya ingin minta maaf soal tadi. Aku begitu mengkhawatirkanmu karena semenjak kita menikah kau tak pernah menyempatkan diri untuk sarapan”.

Lagi-lagi seulas senyum tersungging dibibirku. Jantungku berdegup lebih kencang mendengar ia mengkhawatirkanku. Namun sekali lagi tak ada keberanian dalam diri ini untuk menunjukkannya. Hanya elusan di puncak kepalanya.

“tidurlah, jangan berjalan-jalan ditengah malam”, ucapku berjalan meninggalkannya.

Tak terasa sudah satu tahun kami menikah. Hari ini tidak ada kerjaan dikantor dan membuatku seharian duduk bersila di depan tv. Hari ini Yoona pun tak ada jadwal di kampus.

Triing..

Bel rumah kami berbunyi. Yoona yang masih menggunakan celemek berlari kearah pintu.

“Eomeoni !!”, teriak Yoona.

Aku terperanjat dan ikut menghampiri Yoona yang sedang membuka pintu.

“ Aigoo putri eomma, ada apa dengan penampilanmu sayang?”.

Eoma mengelus kepala Yoona lalu menjitak kepalaku.

“Yak babo kenapa kau hanya diam? Bawa tasku ini”, ucap eomma berlenggang pergi merangkul Yoona.

“Yak eomma sebenarnya siapa anakmu Yoona atau aku?”.

Aku mempoutkan bibir seraya menekuk tanganku bersilang didepan dada. Aku melirik mereka. Yoona sedikit terkik melihat tingkahku. Sementara eomma tak menganggapku  malah berjalan kearah dapur. Aku dan Yoona pun mengikuti wanita yang melahirkan dan membesarkanku itu.

“Kau membuat kimchi ini sendiri? Sementara Donghae hanya menonton televisi tanpa membantu? Yak Lee Donghae suami macam apa kau?”.

Sekali lagi eomma memukul lenganku.

“Ini bukan salah Donghae eomma, kumohon hentikan”.

Ucapan Yoona membuat eomma berhenti. Aku pun meringis kesakitan.

Keesokan harinya..

Aku sedang sibuk dengan pekerjaannku. Padahal ini hampir jam 8 malam. Tiba-tiba ponsel yang sedari tadi kutaruh begitu saj itupun berbunyi.

From : Eomma

Hae-ah aku menemui masalah dan ini sedikit rumit bisakah kau datang ke taman dekat kota. Dan jangan beri tahu Yoona, aku tak ingin dia cemas

Aku menggerutu, disaat aku sedang sibuk seperti ini justru eomma mengganguku. Tanpa piker panjang aku mengambil jasku dan segera berlari kemobil. Aku mengendarai dengan gusar.

Tak jauh dari tempatku aku melihat sosok wanita dengan rambut panjang terurai mengenakan gaun berwarna putih panjang dengan pita hitam mengitari pinggangnya.

“Im Yoona”, kata itu lah yang muncul dari mulutku dan membuat dia menoleh.

“Donghae-ssi, di dimana eomeoni?”.

Aku terdiam, rasanya aku tak bisa berpikir jernih memandang paras cantiknya. Lamunanku menghilang ketika sesosok pria mendekatiku ia menggenggam sebuket bungan matahari dan surat di tangan kanannya. Ia memberikan itu kepadaku.

Donghae nikmati candle light dinner dengan istrimu.

Buatlah malam 1th penrnikahan kalian dengan bahagia.

From : eomma ^.^

Aku tak menyadari sejak kapan jarak kami sedekat ini. selesai membaca surat dari eomma aku berdeham untuk menghilangkan rasa canggung.

“Mianhe. Seandainya aku tahu rencana eomma seperti ini dari awal aku pasti tak akan datang”.

Yoona menaikkan gaunnya dan berjalan melewatiku. Aku menahan tangannya dan menariknya agar posisi kami berhadapan. Aku memandangi setiap inchi dari diri istriku seperti keinginan yang satu tahun ku harapkan.

“Waeyo? Ada apa denganmu Donghae-ssi?”.

Aku sadar ia mulai tegang dari cara berbicaranya ia pun seperti menahan rasa takut.

“Bisakah kau memanggilku oppa atau yeobo Yong?”

“Mwo? U.. untuk apa? Bukankah”.

Kuletakan jari telunjukku tepat dibibirnya tanda agar dia diam.

“Mianhe aku tak bisa menjadi pria yang dapat membahagiakanmu. Bahkan aku terlalu pengecut untuk memelukmu dan mengucapkan aku mencintaimu Yoong”.

Matanya mulai berkaca-kaca, tanpa dikomando air bening itu menetes dari sudut matanya. Segera kurengkuh ia dalam dekapku.

“Aku akan menunggumu hingga mencintaiku. Mulai mala mini berjanjilah padaku kau mau memulai semua dari awal, kita jalani hidup ini dengan cinta tak seperti hari kemarin”, lanjutku.

“Aku selalu berfikir kau membenciku itu sebabnya kau selalu menolak masakanku dan selalu bersikap angkuh dihadapanku. Dan membuat perasaanku benar-benar diuji dengan radsa bimbang. Tapi mulai malam ini dan seterusnya aku yakin bahwa aku juga mencintaimu oppa. Donghae oppa saranghaeyo”.

Aku melepaskan pelukan erat kami dan tertawa bersamanya lalu, aku mendekat kearah wajahnya dan first kiss kami pun terjadi.

END ^.^

Akhirnya bagaimana readers?? FF kacau tapi biarlah, yang penting author gembira hahaha. See you

Iklan

Without Tears

Published Oktober 20, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Im Seoloung
Lee Donghae
Other cast
Genre : Angst, romance
Ratting : PG 13
Note~ buat yang nunggu Loving you chap 2, sabar ya. Filenya aku simpen di lappy kakakku. Jadi belum sempet buat publish. Eh ini malah ngpost Judul FF baru. Moga aja crita dengan cast Yoonhae mulu ini ga bikin bosen readers.. Ok silahkan baca

*****
Without Tears

Sunyi, seperti tak ada semangat kehidupan lagi didunia ini. Dunia yang sangat menyakitkan bagiku. Tentu tak semua hal yang Tuhan ciptakan untuk makhluknya adalah hal yang menyakitkan, dibalik semuanya pasti terdapat kebahagian. Setidaknya kebahagian itu aku miliki walau hambar jika dirasakan. Tapi aku tak menyesal dengan apa yang Tuhan hadiahkan untuk menemaniku di bumi ini.

Sebuket bunga lili aku genggam dengan erat. Menatap hal didepanku ini membuat seluruh persendianku terasa mati. Perlahan aku meletakkan bunga ini diatas pusara. Ya inilah pusara mendiang ibuku. Wanita yang sangat aku kagumi, aku sayangi bahkan aku anggap dia adalah ibu sekaligus sahabat terbaik yang aku miliki.

Menatapnya membuat rasa sedih dan emosi ku jatuh bersamaan bulir-bulir airmata. Seakan dunia tak ingin aku bersedih sendiri, ia kirimkan rintikan hujan meredam suara isakan setiap tangisku.

Tiba-tiba seseorang memberikan sebuah payung kepadaku. Sebuah payung cukup besar bermotif teddy bear. Sebuah kado terakhir yang eomma berikan padaku.

“bangunlah.. Kumohon jangan biarkan dirimu sakit”.

Kutoleh sumber suara yang sangat aku sukai. Dialah Donghae, Lee Donghae. Salah satu manusia yang Tuhan ciptakan yang mau ikut mewarnai setiap detik dari hembusan nafasku. Selain dia, aku masih memiliki dua chingu yang setia dari lima tahun yang lalu. Mereka adalah Yuri dan SooYoung.

*****

Aku berjalan memasuki taman menuju pintu rumahku. Samar-samar aku melihat soeorang namja paruh baya dengan warna rambutnya yang mulai memudar. Wajah tegangnya berubah seketika melihat aku berjalan dan diapun tersenyum kearah Donghae oppa yang sedang memapahku.

Sedari tadi aku belum bicara tentang diriku sendiri. Aku adalah Im Yoona, gadis 17 tahun yang memiliki namjachingu terhebat seperti Donghae oppa.

Pria yang sedari tadi berdiri diambang pintu itulah nae abeoji. Im Seoloung.

“Kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?? Kenapa kau selalu membuat cemas appa? Kenapa harus merepotkan Donghae oppamu?”, cecar appa. Aku melihat wajahnya sekilas yang sedang mengeluarkan nafas berat.

“sudahlah abeojim biarkan yeojachinguku ini istirahat dulu. Yoong, berjanji pada ayahmu bahwa kau tak kan membuatnya cemas. Dan aku pamit kembali ke kampus dulu. Nanti malam aku usahakan datang lagi”.

Aku tersenyum menatap punggung lebar kekasihku itu dan mengucap maaf pada ayah sebelum beranjak pergi ke kamarku.

Sejujurnya sikap mereka kepadaku itu sangat membuatku risih. Jika mereka berfikir aku senang atas sikap mereka, itu salah. Justru itu membuatku jengkel. Dan merasa seperti orang tidak berguna.

*****
Bel sekolah berbunyi. Aku mengikuti langkah Yuri dan SooYoung menuju kantin. Aku sedikit tertawa melihat tingkah kesal SooYoung yang sedang bergulat dengan mesin minuman kantin yang bandel. Akhirnya setelah 7menit menunggu 3 botol soda keluar dari mesin minuman itu.

Wajah gembira SooYoung berubah menjadi suram ketika datang ke meja kami.

“Yong ada apa dengan hidungmu??”.

“Aku?? Memangnya ada apa dengan hidungku?”, aku menjawab sambil menyentuh ujung hidungku. Dan aku merasa ada sesuatu yang mengalir kental dari hidungku. Aku langsung berlari ketoilet.

Aku terduduk dipojok toilet menahan rasa pusing yang amat menusuk di kepala ku dan semua yang kulihat berubah jadi gelap.

*****

Aku terbangun dari tidur panjangku. Perlahan kubiasakan mataku menangkap cahaya. Terlihat ayahku yang tertidur disofa. Dan kulihat pula Donghae oppa tidur dikursi sambil menggenggam tanganku erat kepalanya bersandar dengan ujung kasurku. Dirasa dari bau obat yang menyengat aku yakin bahwa sekarang aku berada di rumah sakit.

Tiba-tiba terdengar suara decitan dengan hati-hati pintu ruang inapku terbuka. Kulihat mereka -Yuri&SooYoung- datang membawa sebuket bunga lili dan sebuket bunga matahari.

Sejenak sikap mereka mengingatkanku dengan kejadian 3 tahun lalu. Satu minggu sebelum eomma pergi. Dia meminta appa membawakan buket bunga lili favoritnya dan buket bunga matahari untukku.

Kenangan itu membuatku semakin takut. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa suara ibu semakin dekat denganku. Batin kami serasa bergabung menjadi satu.

“Yoong”.
Lagi-lagi suara dari Donghae oppa selalu membuatku seperti kembali dari suatu tempat yang jauh. Dan aku tak sadar jika cairan bening ini telah tumpah membasahi pipiku.

“Uljima saeng”, ucap Yuri. Ia menyeka air mataku dengan ujung ibu jarinya.

Sejenak kehadiran mereka membawaku terhanyut kembali kepada diriku sendiri. Im Yoona gadis yang ceria dan bawel.

*****
Sebulan sudah berlalu. Tepat tiga hari yang lalu aku keluar dari rumah sakit. Sungguh aku tak mengerti sebenarnya penyakit apa yang kuderita. Kemarin bukanlah yang pertama melainkan ketiga kalinya aku dirawat. Dan aku berada disana tidaklah sebentar. Melainkan berbulan-bulan.

Seharian berada dikamar sungguh membuatku merasa jenuh. Tanpa sepengetahuan ayah aku keluar dari kamar menuju ruang tamu.

“Sebenarnya bagaimana perkembangan putriku?”.

“Ini tidak buruk. Tapi akan lebih baik jika tuan mengatakan yang sebenarnya”.

langkahku terhenti ketika mendengar suara ayahku dengan sesorang yang berbicara diruang tamu.

” Aku tak sanggup melihat dia bersedih. Aku juga takut kalau dia menjauh dari Donghae karena sebenarnya Donghae juga sudah tahu”.

“Tapi akan lebih menyakitkan jika nona mengetahui hal ini dari orang lain”.

Entah dapat kekuatan darimana. mendengar pembicaraan mereka membuatku semakin ingin tahu apa yang terjadi. Tanpa dikomando kakiku terus melangkah kea rah sumber suara. Kudapati benar-benar ayahku yang sedang bicara dengan dokter Han.

“ Ada apa ini? appa waeyo?”.

Mereka terdiam. Bahkan aku melihat appa memberi isyarat kepada Dokter Han untuk segera pergi. Benar saja dia segera pergi setelah membungkuk padaku.

“Katakan padaku, sebenarnya ada apa denganku? Apa yang appa dan Donghae oppa ketahui?!”.

Aku mulai terisak, rasanya sakit mengetahui seseorang yang kita sayangi berani menutupi sebuah kenyataan yang seharusnya kita ketahui. Ayah masih terdiam melihatku terisak. Tubuhku terasa lemas, perlahan-lahan aku seperti kehilangan nyawaku. Aku seperti ingin terjatuh jika saja tangan itu tak menopangku. Hangat pelukan yang selalu ia berikan padaku berhasil meredam emosiku, namun tak mampu menahan air mata yang semakin deras mengalir.

“Jangan begini, kumohon hentikan. Aku yakin kau akan baik-baik saja, semua tak akan pernah berhenti. Percayalah padaku my love”.

Perkataannya sungguh membuat hatiku bergetar. Dia berbicara seolah-olah dia yakin aku akan selalu bersamanya. Tapi entah kenapa hatiku berkata bahwa dia tidak boleh terlalu mencintaiku tapi aku tak ingin dia melepasku dan pergi untuk gadis lain.

****

Hari demi hari telah berganti menjadi minggu, minggu demi minggu telah kulewati. Ini sudah 7 bulan lamanya. Aku semakin sering merasa lelah, tubuhku lebih sering berkringat. Bahkan tanpa sepengetahuan appa dan yang lain, akhir-akhir ini aku sering mengeluarkan darah pada hidungku juga disetiap batukku. Bahkan sudah 3 bulan ini appa merekomendasikan aku untuk ikut home schooling.

Hari ini cuaca mendung, aku, Yuri dan SooYoung sedang berkumpul disebuah kafe favoritku. Sudah kesembilan dalam bulan ini aku mengajak mereka kemari. Disini suasana tenang, sejuk dan makanannya juga enak.

“Wah Yoong, 1 bulan lagi kau dan Donghae oppa merayakan 3th anniversary. Apa yang ingin kau lakukan??”, ucap SooYoung memecah keheningan. Kulihat Yuri ikut mengangguk.

“Pergi, aku ingin memintanya menemaniku ke Jeju seminggu sebelum hari itu”.

Entah kenapa, jawabanku membuat Yuri menitihkan air mata. Dengan lembut dia mengusap punggungku. Aku semakin tak mengerti sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku.

“Hai, kenapa kau menangis eon?”.

“Aniyo, kau harus janji di perayaan keempat yang kami buat kau harus hadir”.

“Ada apa denganmu? Jangan marah hanya karena tahun ini aku tak membeiarkan kalian ikut”.

Disela-sela obrolan kami, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menutup mataku. Segera kutebak bahwa itu Donghae oppa, ternyata benar. Dia pun duduk di sebelahku menggeser posisi Yuri eonni.

“ Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya sangat seru”.

“Ambillah cuti oppa, aku ingin kita pergi ke Jeju aku ingin melihat kebun bunga disana”.

“ Kenapa harus mendadak?”, tanya Donghae oppa.

“ Tidak mendadak, aku hanya ingin menghabiskan waktu hanya denganmu”.

“ Menghabiskan waktu?”.

“Ne”.

“Baiklah kita berangkat minggu depan”.

*****

Aku sudah siap menunggu namjachinguku yang sedang mengobrol dengan appaku didalam kamar. Selagi aku menunggu mereka, aku memutuskan melihat-lihat sebuah kamar yang berisi barang-barang kesayangan eomma. Kamar ini aku yang meminta appa membuatnya karena aku tak mau barang eomma diletakkan digudang. Tiba-tiba sebuah surat yang ditaruh di atas meja kamar sangat menarik perhatianku.

“Yoong, sedang apa kau disini? Ayo berangkat Donghae menunggumu diluar”.

“Ne appa, tunggu sebentar”.

Sepanjang perjalanan aku terdiam menatap ratusan meter ladang bunga matahari. Hingga tak terasa mobil sport hitam yang kunaiki sudah berhenti di sebuah villa milik ayahku.

“Sampai kapan kau memilih melamun nyonya Lee, kita sudah sampai”.

“Yak !! ikan pervert aku masih noona Im belum nyonya Lee”.

Aku mengembungkan pipi mencoba menggodanya dengan berpura-pura marah. Padahal sejujurnya aku sangat menyukai panggilan Nyonya Lee darinya untukku.

“Yak chagi, jangan marah dong. Aku kan benar nanti jika kau sudah kunikahi kau kan berubah jadi Nyonya Lee”.

“aku tidak akan menikah denganmu Lee pervert!”, ucapku sambil berlari kedalam villa. Ternyata dia mengejarku. Akupun berlari untuk menghindarinya. Namun tak lama akupun terbatuk. Lagi-lagi ini bukan batuk biasa. Ada darah yang ikut keluar. Donghae oppa segera berhenti mengejarku. Ia mendekat dan menunjukkan wajah cemasnya.

“Kau baik-baik saja? Obat yang abeojim bawakan kau taruh dimana? Biar kuambilkan air untuk membantumu minum obat itu”.

Ia berjalan mendekati kotak obatku namun segera kucegah. Kugenggam erat lengannya sambil tersenyum manis.

“Tidak usah tuan Lee. Ini hanya perlu kau bersihkan dengan tissue seperti ini”.

Aku mengajarkannya mengelap sisa darah disekitar bibirku. Sesaat suasana berubah jadi hening, menyebabkan kecanggungan diantara kami. Aku tertunduk sambil menahan isak tangis. Dia mengangkat daguku, lalu

Chu~

Aku kaget ternyata dia malah menciumku. Aku hanya membalas ciumannya sebentar tak lebih dari 3 menit.

“ Jangan bodoh, minum obatmu lalu istirahat”, ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Aku pun mengangguk dan tersenyum melihat tingkahnya yang lucu.

Keesokan harinya.

Aku berjalan kearah pantai. Tak ada Donghae oppa yang menemaniku. Sungguh sebenarnya aku kecewa kepada dia dan appa termasuk kedua sahabatku yang selama ini menyembunyikan penyakitku. Aku tahu dari surat yang kutemukan kemarin. Disana tertulis jelas aku mengidap leukemia akut. Kalian tahu bagaimana rasa hatiku saat itu?. Itu jauh lebih menyakitkan dari sekedar terkena sengatan petir. Aku ingin sekali membentak Tuhan jika bisa. Dia terlalu kejam menghadiahkanku sebuah penyakit yang sama membuat eomma meninggalkanku. Meninggalkan gadis 13 tahun yang masih membutuhkan perhatian seorang eomma, seorang gadis yang mulai menginjak usia dewasa. Tapi semua itu aku urungkan. Jika diteliti lebih dalam pasti tujuan mereka baik. Mereka hanya tak ingin melihatku bersedih. Akupun memilih diam tak memberitahu mereka jika aku sudah tau semuanya. Aku mencoba tersenyum seperti yang mereka inginkan.

Aku melangkah semakin jauh spertinya aku berdiri sangat dekat dengan bibir pantai. Lalu seseorang menarikku hingga aku terjatuh dipangkuannya.

“Yak apa yang kau lakukan?!”, teriaknya.

Dialah namjachingu yang sangat setia mencintaiku.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih banyak atas segalanya kau adalah malaikatku Lee Donghae. Maafkan aku membiarkanmu kesulitan dan merasa lelah berdiri disampingku. Terima kasih kau sudah memberiku harapan yang besar hingga aku bisa bertahan sampai hari ini”, aku menangis dipelukannya. Aku melarangnya menghapus darah yang tak hentinya keluar dihidungku.

“Uljima, maaf aku tak bisa jujur Yoong, bertahanlah aku mencintaimu. Uljima”.

“aku menangis bahagia bodoh!!. Aku sangat senang mengetahuimu hanya tersenyum untukku diwaktu yang lama. Walau duniaku sudah berakhir percayalah aku akan selalu bersamamu. Selama ini aku tak bisa mengatakan apapun untukmu, tapi sekarang aku bisa memberitahumu bahwa cintaku hanyalah untukmu. Sampaikan pada abeojim bahwa ibu dan aku harus pergi dahulu karena kami menyayanginya”.

Aku tak kuat rasanya detak jantungku melemah disaat aku masih tersenyum. Hanya sebuah jeritan yang terdengar seperti doa seseorang kepada Tuhan. Dia meminta Tuhan agar aku diperbolehkan menemaninya didunia. Hanya suara isak yang kudengar sebelum pandanganku berubah menjadi cahaya hitam

*****

Aku tersenyum. Kulihat semua orang yang pernah kucintai sedang menangis diatas sebuah pusara. Dan entah sejak kapan eomma sudah berdiri sambil memeluk pundakku erat.

“Biarkan mereka sementara ini larut dalam kesedihan. Kau sudah tak ada hubungan dengan mereka. Biar sang waktu yang menghapus kenanganmu dengan mereka. Sekarang pulanglah”, ucap eomma ikut tersenyum.

“ne eomma”.

Kami berjalan beriringan meninggalkan mereka.

*END*

Akhirnya selesai, mian ceritanya jelek. Terima kasih untuk yang sudah mau membaca ff gak karuan bikinan saya. *Bow. maaf kata-katanya masih hancur