Uncategorized

All posts in the Uncategorized category

SARANGHAMNIDA

Published Mei 13, 2013 by pyrossoneff

 

Prolog : “Bukan coklat jika dari awal proses itu hanya mengenal satu rasa yaitu manis. Begitupula dengan perasaan, manusia itu adalah makhluk komplek yang mengalami berjuta pengalaman. Sama halnya dengan cinta. Bukan cinta jika kita hanya menginginkan sebuah kata sanjungan untuk mempermanis hubungan”

Tak terasa satu tahun terlewati. Kisah cinta yang semanis coklat itu masih terjalani. Walau badai menghadang, dua sejoli itu tak ada niatan untuk melepaskan tali ikatan yang telah lama mereka rajut.

Akan tetapi, suatu hubungan itu terjalin akan penyatuan dua pikir yang berbeda arah. Perbedaan yang lebih indah dari mulainya kebersamaan. Sampai kapan kah mereka akan bertahan dengan perahu yang mulai bergetar akan riuhnya ombak lautan.

Calista, gadis itu nampak mulai bosan dengan hubungan yang ia jalani. Bukan karena gadis itu mulai tak mencintai sang pria. Aiden adalah lelaki yang bijaksana, humoris, sigap dan tegas. Atau ada penganggu dalam hubungan mereka seperti datangnya orang ketiga. Tidak, karena Calista ataupun Aiden adalah tipekal makhluk setia.

Mungkin gadis berkacamata itu mulai ragu akan waktu yang membawa kesempatan. Ia tak ingin suatu hubungan yang dekat tapi terasa seperti menjalani hubungan jarak jauh. Yang beratus-ratus mil jauhnya.

Ia ingin merasakan apa yang para sahabatnya rasakan. Misalnya kisah pacar pertama ala Salma mungkin, yang nampak menikmati setiap detik waktu yang bergulir. Sayang, itu hanya sebuah mimpi yang sulit tergapai olehnya.

Aiden, nama pacar Calista itu memilih untuk tidak sekolah di SMA yang sama dengan Calista. Pria bertubuh sedikit subur dan memiliki kulit sawo matang itu memilih melanjutkan di sekolah SMK. Sekolah mereka tak jauh hanya 100 meter jika diukur dengan sebuah perkiraan. Tetapi kurikulum pendidikan yang berbeda memaksa mereka harus menghabiskan hampir separuh waktunya untuk dunia sekolah masing-masing.

Menurut Seohyun, sahabat dari Calista, cinta itu sebuah pengorbanan yang harus mau merasakan getar-getir perasaan setiap harinya juga ketulusan akan suatu perasaan yang mengikat kita kepada suatu objek. Dan pacaran itu adalah suatu hubungan pendekataan antara dua sudut pandang dan pikir yang berbeda dan harus berani mengambil resiko.

Calista paham benar akan hal itu, dia bisa menerima Aiden disisinya juga bukan semata-mata ia menyukai lelaki yang sejenis dengannya. Dalam artian ia dan Mario sama-sama memiliki tingkah hyperaktif dan humoris. Ia berani memilih Aiden karena dia yakin dengan perasaannya yang mengatakan jika Aiden adalah lelaki terpantas untuk disampingnya saat ini setalah ayahanda tercinta. Ia ingin mengenal lebih dekat tentang pria itu.

Tetapi kini berbeda, frekuensi antara romantisme dan pertengkaran jumlahnya berbeda. Mereka lebih sering bertengkar. Karena kurangnya pemahaman akan kondisi masing-masing.

“Ta, besok jalan yuk”. Begitulah sepintas isi pesan singkat dari Aiden. Sekali lagi, hanya desahan kasar yang Carista hembuskan. Ia menggletakan kepalanya yang terasa berat lalu menaruh sembarangan phonsel hitam kesukaannya di atas meja.

“Ada apa lagi Ta”, tanya Jessica. Ia begitu cemas melihat teman sebangkunya terlihat uring-uringan.

Calista masih enggan menjawab. Ia hanya mempoutkan bibir yang membuat pipinya sedikit menggembung.

Tak begitu lama, Seohyun datang kemudian duduk didepan meja Jessica dan Calista. Ia mengambil phonsel samsung yang tergeletak tanpa terurus dari sang empunya.

“Aiden sms nih, gak niat bales Klee?”.

Yang ditanya segera mengangkat kepala kemudian menggeleng lemah. Ia melepas kacamata minus yang setia bertengger di atas hidungnya. Kemudian mengusap wajahnya frustasi.

“Aku bingung- “.

“Bingung kenapa Ta? Ini kesempatan bagus buat kalian ngobrol berdua secara empat mata. Ini saatnya kamu ungkapin apa yang gak kamu sukai dari sikap dan tindakan Aiden yang memperkeruh hubungan kalian akhir-akhir ini”, ujar Seohyun dengan bijak.

“Aku ada latihan variasi barisan PKS besok”.

“oh, kan kamu tinggal bilang acaranya diundur weekend aja”.

“Gak semudah itu Jess, Sabtu sore si gendut yang latihan”.

Jessica diam, gadis itu bingung ingin menjawab apa lagi, ia takut jika akan membuat Calista lebih galau.

“Kamu yang dateng ke tempat dia aja gimana? Gak mungkin kan mereka latihan 1 jam full tanpa istirahat. Walau itu 10 menit, kan cukup buat melepas kangen”, ujar Jessica lagi.

“kalau kaya gitu, kenapa gak dia aja yang kesini. Kenapa harus aku yang mempermalukan diri buat dia yang udah mulai gak perhatian?”.

“Ca, cinta itu adalah dukungan. Bukan Cuma ajang mesra-mesraan. Jessica nyaranin gitu kan karena dia paham kamu sama Aiden itu lagi dalam posisi yang sama-sama ingin diperhatikan. Kamu itu udah kenal hampir semua temen-temen dia yang ikut TUB kan? Sementara dia kalau datang kesini, malunya pasti akan lebih gede karena disini dia gak deket sama semua temen kamu”, imbuh Seohyun. “Sekarang keputusan ada dikamu. Pingin memperkeruh keadaan karena mentingin ego, atau menjernihkan dengan melawan ego ? yang kutahu, lelaki itu gak suka sesuatu yang ditutup-tutupin”.

Setelah memberi ceramah panjang Seohyun pun menggandeng Jessica keluar kelas. Kedua sahabat itu membiarkan Carista berperang dengan pikiran dan hati kecilnya.

Mentari telah meninggi dan berubah warna menajadi jingga. Empat gadis remaja tengah duduk santai didepan rumah sebuah kost. Salah satu dari mereka tengah asyik bermain gitar dan satu dari lainnya memilih menyenandungkan lagu terimakasih cinta dari Afgan. Mereka begitu menikmati dinginnya angin senja sambil menatap ribuan bintang di langit.

Suara canda gurau itu begitu menggelegar sebelum suara bising motor Vario orannye memecah senyum yang mulai merekah.

“Carista !”, ucap Sooyoung dengan ekspresi kaget.

“Gays, aku bikin cookies. Menurut kalian gimana nih?”.

Tanpa fikir panjang Yuri, Seohyun dan Jessica mencomot cookies yang terlihat menggoda dalam sebuah kotak manis berwarna coklat muda.

“Ini tidak buruk, lumayanlah kalau mau dititipkan di kantin kejujuran”, ucap Jessica dengan innoncent.

‘Pletaak’

Suara jitakan sempurna membuat Jessica mengerang dan mengusap dahinya yang baru dijitak Calista.

“Kalau enak besok mau kukasih buat Aiden. Bukan kantinnya orang males antre”.

“Ciyee yang udah akur, sukses ya buat besok. Cookiesnya enak kok. Semangat!”.

Awkward. Suasana yang mebosankan untuk Calista. Dia sangat merutuki moment seperti ini. Untuk beberapa menit, dia hanya diam. Bibirnya tak kuasa untuk terbuka. Persendiannya seakan tak berfungsi, jalan fikirnya seakan lumpuh seketika.

“Eumb- “,ucap keduanya.

“kau-“, ucap merka bersama.

“Maafkan aku karena selama ini telah jadi gadis yang posesif. Maaf karena aku gak bisa menghargai keputusan kamu dan sekali lagi maaf sudah diemin kamu”, ujar Calista sambil menunduk. Pipinya memanas. Pelupuk matanya mencoba menahan air mata yang siap meluncur hebat.

“Maaf juga aku gak bisa adil antaara beberapa prioritas yang harus kujalani dan itu mbuat kamu jadi korban atas keegoisanku. Dan makasih kamu udah bertahan untuk disampingku selama ini”.

“I… Iya sama-sama”.

“Ca, jadi kita baikan dong?”.

“Ye, siapa yang marahan kenapa harus baikan segala?”.

“Kamu tuh yang diemin aku mulu”.

“Nggak !”

“Iya !”.

“Ya udah, makan nih cookies buatanku”.

“Ok beb”.

Senyum cerah serta tautan kesepuluh jari manis itu mengakhiri cerita yang hampir membalikan sebuah perasaan dan janji untuk selalu setia.

END

Iklan

[FF] Cherry Blossom Ending

Published Mei 3, 2013 by pyrossoneff

[FF] Cherry Blossom Ending
Author : MinGi_Pyros
Cast : Hana Achiaki
Shotta Kazunari
Akimoto Yumi
Chiba Kazehaya
Genre : Romance
Ratting : T

###
Cinta bukanlah sesuatu yang mudah kupahami, ribuan waktu tak pernah cukup untukku memahami arti cinta. Seperti ilmu sosiologi, mungkin kah cinta itu ada jika manusia di dunia ini tak memberi lebel tentang perasaan dengan sebuah kata cinta.

Cinta datang tanpa kata permisi, cinta pergi tanpa kata selamat tinggal. Beribu kali aku menahan perasaan itu, berjuta kali pula perasaan itu hadir, tumbuh semakin dalam. Dan semakin dalam pula rasa sakit yang kuperoleh.

Aku bertanya kepada Tuhan, dosa apa yang kuperbuat di dunia sebelumya.

Dia cinta pertamaku, setidaknya aku yakin jika perasaan ini adalah cinta, menurut filosof yang ahli tentang cinta. Tetapi sayang, aku harus menarik perasaan itu. Aku tak pernah bersanding dengan cinta pertamaku, tak seperti kebanyakan orang yang dengan riang bercerita tentang cinta pertama mereka.

Pria itu –Chiba Kazehaya- aku tak pernah membenci pria pemilik lesung pipi itu, karena dialah yang memberiku semangat hingga aku bisa diterima di High School ini. Mungkin banyak orang diluar sana yang mengatai aku gadis bodoh, bagaimana tidak bodoh? Aku merelakan cinta pertamaku untuk bersanding dengan pasangan hati yang sesungguhnya. Jangan terkejut jika kukatakan gadis beruntung itu adalah Yumi, sahabatku.

Jika aku jadi kau, aku pasti akan menendang gadis tidak tahu diri itu hingga menjadi sebuah titik diangkasa. Itu hanya sepenggal kata yang dilontarkan Michiyo, sahabatku yang lain. Tapi sekali lagi, aku yakin ini bukanlah kemauan Yumi dan Kazehaya-kun yang saling mencintai untuk melukai perasaanku. Bahkan Yumi tidak pernah tahu jika aku menyukai Kazehaya-khun. Semua adalah garis tangan Tuhan. Garis tangan yang selamanya tetap akan menjadi sebuah misteri.
—–
Angin berhembus semakin kencang, daun maple, tumbuhan favoritku dimusim gugur satu per satu menjatuhkan diri. Tanda akan memasuki musim salju. Lalu musim semi yang cantik. Aku ingin sekali menikmati gugurnya bunga sakura yang pertama kalinya di Hokaido. Di tempat nenekku.

Tentu, tahun ini pasti berbeda. Terakhir aku melakukan itu dua tahun yang lalu. Dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Kazehaya-kun. Di bukit belakang rumah nenek, untuk pertama kalinya kami saling menatap sepersekian menit, untuk pertama kalinya pula dia memanggilku, walau itu hanya sebuah sapaan “Kon’nichiwa Hana-chan”.

Oh, betapa bahagianya aku waktu itu. Hatiku serasa ingin melompat tinggi. Hatiku tak dapat berhenti mengenang hari-hari yang penuh dengan kenangan cinta pertama. Tetapi senyum yang mengembang itu mengendur seketika jika kuingat itu hanya bagian kecil dari memori masa lalu.

“Ohayogozaimasu, dono yo ni shite saigo no yoru Hana-chan o neta no ka?”(Selamat pagi, Hana-chan bagaimana tidurmu semalam?), ucap Yumi.

Bibirku kelu, tenggorokanku seakan kering seketika, hingga savila ku pun terasa mengambang. Hanya sebuah senyum yang setulus nya kumiliki. Dan andai aku bukan gadis tegar, mungkin saja tangis ku akan meledak seketika. Aku belum memberikan sebuah kata apapun kepadanya. Aku melihat Kazehaya datang membawa sebuket bunga mawar merah. Dia berjalan kearahku, tidak karena ada Yumi juga yang berdiri menghadapku dan membelakangi dia.

Tragis, dia memberikan kecupan manis di pipi kanan Yumi, membuat gadis itu merona, tersipu malu. Lalu memberikan gadis itu sebuket bunga mawar. Hatiku menjerit, seharusnya aku bisa mendapat perlakuan itu, bukan malah tersiksa seperti ini.

“Ohayogozaimas, Hana-chan”. Ya, syukurlah setidaknya dia masih menyadari kehadiranku ditengah romantisme dua sejoli itu.
——
“Kau, masih mengejar Kazehaya? Apa kau ingin bersaing dengan sahabatmu?”.

Shota Kazunari, shitt pria itu mengusik hobiku. Membaca sambil menyumpal telingaku dengan headphone, seolah aku tak mendengar kebisingan dunia.

“Hentikan kepura-puraanmu, headphonemu tak tersambung oleh i-pod”,ucapnya datar.

“Haish, terkutuk. Apa maumu Shota-kun?”.

Bakka! (Bodoh) lelaki itu diam sejenak sambil mengeluarkan smirk yang membuatku mual. Demi setan kura-kura. Aku berani bertaruh, smriknya tidak lebih bagus dari milik Kyuhyun si magnae Super Junior.

Tiba-tiba dia mengeluarkan dua buah tiket. Entahlah tiket apa itu. Membuat alisku terangkat, tanda bertanya.

“Jam 4 sore, kutunggu di taman kota. Ini hanya tiket pertandingan ice-katting”. Begitu ucapnya kemudian pergi meninggalkanku yang masih ternganga.

—–
“Oatari! (Daebak, menakjubkan) anggap jika tawaran Shota-khun itu adalah tawaran untuk kencan buta *Tidak hanya diKorea, di Jepang juga lagi booming yang namanya kencan buta*”

“Oh No!! Ini kencan pertamaku, seharusnya penuh dengan romantisme, dengan cinta pertamaku bukan seperti ini!”.

“Ayolah Hana-chan, sepulang sekolah akan kubantu kau untuk berias”.

“-,-“

Alunan musik Shinee-Stand By Me mengalun begitu keras didalam kamarku. Hingga akupun tak menyadari jika Yumi-chan sudah berulang kali mengetuk pintu. Aku masih dengan tenang membaca majalah sambil tiduran. Aku tak mempedulikan jika cuaca di luar sudah 7 derajat.

Dan.. tidak !! aku ingat sesuatu, Kazunari-kun, ini sudah satu jam lebih.

“Hana-chan, gadis kurang ajar !! aku baru saja melihat Shota-kun yang mulai membeku, tolol!”.

“Yumi-chan, dimana dia sekarang?”.

“Masih di taman Kota”.

“Baiklah”, tanpa banyak waktu, aku segera mengambil mantel lalu mengayuh sepedaku ke taman kota.

Rupanya Yumi tidak berbohong, pria itu menggigil karenaku, demi aku dia bertahan.
–Cherry Blossom Ending—
Pagi hari yang manis, aku merasakan dangin didalam mulutku, dan mentari yang menyinari selimut putihku. Selamat datang cinta baruku. Lihatlah keluar jendela, kelopak bunga yang seperti popcorn, beterbangan diatas sana. Bunga sakura yang jatuh 5 centimeter per detik, mampu membuat jantungku berdegup lebih keras.

Dia terus membayangiku, dengan ungkapan “Ijinkan aku mengganti posisi Kazehaya dihatimu, aku mencintaimu”. Sungguh aku bimbang dengan perasaanku, tapi aku berjanji akan belajar untuk mencintai Shotta dengan tulus.

Sebelumnya aku tak pernah benci kepada dia, aku hanya merasa terganggu jika dia selalu mencelaku. Tapi aku tak pernah menyangka jika dia menyimpan perasaan yang selama ini kurasakan pada Kazehaya.
—–
‘Love is Magic’ dan cinta itu rumit. Masih jelas betapa terangnya sinar matamu saat kau memandangku, juga pelukanmu yang begitu lembut, serta harummu yang berubah menjadi candu untukku.

Saat bertemu kita selalu membagi cerita, cerita dimana hanya kita berdua yang tahu, cerita yang selalu diselingi oleh gelak tawa kegembiraaan.

Cinta tumbuh dalam waktu satu hari, cinta bersemi karena perhatian, kasih sayang dan pengertian. Tak selalu cinta dan romantisme berjalan beriringan. Aku mencintaimu dengan caraku, aku menyayangimu apa adanya, bukan dengan embel-embel balas budi atau rasa terima kasih.

Bahkan aku telah memiliki berbagai rencana untuk kita berdua. Detik demi detik bergulir, menit demi menit terus mengalir, bulan pun terlewati.

Pertemuan tak selalu semanis coklat, akhir yang indah tak selalu pahit seperti ‘Black coffee’ . Perpisahan tak selamanya terlandasi rasa benci, pertemuan tak selamanya terlandasi rasa sayang. Kadang di dunia ada banyak hal yang berjalan tak sesuai dengan jalan fikiran normal. Jika kau masih mempertanyakan setiap hal yang terlewati, akan menghabiskan beratus-ratus abad. Dan hanya penyesalan yang terselesaikan.

Sejak kapan kita seperti ini, tak saling mengenal. Bahkan tak mau saling mengerti. Penampilan mu berubah menjadi pribadi yang sangat dingin, kita mulai tak bisa bersentuhan tangan. Bening sorot matamu mulai memudar, senyum itu sudah kalah akan indahnya mentari yang bersinar.

Bodohnya diriku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Ketidak perdulianmu membuatku lelah. Apa kau tak pernah membaca perasaanku? Pandanglah mataku, apakah rasa sedih ini tak bisa kau mengerti?. Aku mencintaimu, kuharap ini tak pernah terlambat. Tidakkah kata ini tidak cukup untuk mengembalikan seperti awal kisah manis kita?.

Tanpa sadar aku memikirkan serta merindukan masa itu, dirimu yang terus-menerus melangkah dimataku, kenangan saat menghabiskan waktu bersama. Seperti bintang yang bertaburan. Langkah kakiku membawa ku bertemu ke tempat yang menjadi saksi suci romantisme kita. Aku tak mampu beranjak lebih jauh lagi, dan aku tak sanggup memanggil namamu. Dapatkah kau melihatku saat aku menantimu disini?

Pernahkah kau merasakan sakit seperti yang kurasakan, pernah kah kau menangis sepertiku?. Walau ada banyak hal yang mampu membuat ku tersenyum dengan kepura-puraan. Meskipun aku bernyanyi, meskipun aku berjalan, segalanya penuh dengan angan tentangmu.

Jangan berakhir, ingatkan janjimu untuk membuatku bahagia dengan cinta kedua yang kumiliki?. Jangan pergi, aku belum siap untuk melangkah sendiri.

Tempat ini teramat luas, banyak orang berbahagia. Dan hanya akulah yang terluka.
—–

Terlalu sakit, jika harus selalu kurasakan sendiri. Kuputuskan untuk bicara berdua hanya denganmu. Kumohon berikan jawaban terbaik yang kau miliki. Bawalah aku kembali untuk tersenyum.

Jalan ini, kembali kita lewati. Banyak hal yang telah kulewati, jemari ini tak lgi saling bertautan, langkah ini tak lagi sama. Senyum itu tak lagi terlihat.

Rel kereta menjadi jembatan, kau diam dan begitupun juga aku, waktu berputar terbuang sia-sia. Mulut kita sama-sama terkatup. Ego kita saling berperang, melarang kita untuk berbuat terlebih dahulu.

Sakura yang indah, letupannya tak sebanyak seperti awal musim semi, seakan mengisyaratkan tentang cinta yang kau miliki untukku. Air mataku mengalir tanpa permisi, bibirku membiru menahan semuanya.

“Terlalu menyakitkan jika kita secara egois mempertahankan semua ini”.

“…”

“Maafkan aku tak lagi bisa mempertahankan komitmen yang kubuat. Semakin kupaksa, jalan kita semakin berbeda. Gomenasai, aku memilih melepaskanmu karena ketahuilah aku masih mencintaimu”.

Pandanganku menguning, ini terlalu cepat. Setega inikah dia? Aku tahu cinta dewasa itu tak selalu milik kita. Tapi haruskah seperti ini, ribuan kali air mata mengalir? Tak bisakah hubungan ini terselamatkan lagi?.

Aku terduduk lemas, lututku tertekuk menjadi tempatku menenggelamkan semua kekecewaan. Sungguh aku tak sanggup, air mataku mulai mengalir.

“Gomenasai, Hana-chan. Kau gadis yang baik, aku yakin masih ada pria yang jauh lebih sempurna dariku yang bisa menjagamu. Aku harus fokus dengan ujian masuk perguruan tinggi”.

Bisingnya kereta tak mampu membuatku lupa akan keputusannya beberapa detik yang lalu, bayangnya mulai menghilang bersama selesainya kereta lewat.

Aku berdiri ditempat yang sama namun wajahmu semakin samar, aku tak bisa melihatmu, kau semakin pergi menjauh. Cinta yang kuanggap indah membuatku menangis dan hatiku sakit tergores luka darinya.

*END*

Maaf, endingnya gaje banget, gantung sumpah. Author nangis mulu pas bikin. Jadinya absurd gini deh. Thanks for reading gays…

Prolog “Buterfly” FF YH

Published Februari 1, 2013 by pyrossoneff

Kerlap-kerlip sinar malam yang nampak remang-remang itu menghiasi sebuah lantai dansa. Dentuman keras, yang dimainkan oleh seorang DJ di sudut ruangan menggema begitu dahsyat.

satu, dua bahkan puluhan anak manusia bergabung ditempat itu. Mereka membaur menjadi satu menikmati keindahan surga dunia. dihadapan meja bundar tak jauh dari bar, berkumpul beberapa gadis berpakaian yang bisa dibilang cukup sexy.
**

“Apa yang kau lakukan??”, teriak gadis itu sambil menarik selimut menutupi seebagian badannya. Sementara lelaki disampingnya masih saja larut dalam dunia ketidak sadaran dari mimpi. Ia mengacak rambut hitam berkriting itu dan membiarkan dada sixpax nya tak tertutupi oleh sehelaipun kain.
**
“Hanya pernikahan jalan satu-satunya. Bagaimana sayang?”

*****

Hayo gimana?? baguskah? cast’nya YoonHae. aku usaha’kan minggu depan publish coz jadwal sekolahku lumayan ga padet..

PERASAAN

Published Januari 31, 2013 by pyrossoneff

jarak dan waktu membuat seakan-akan semuanya telah berubah.
Terlalu jauh kita melangkah berbeda arah. aku takut kehilanganmu. Tapi aku juga egois jika tetap mempertahankanmu. Disini aku mendapatkan dia, walau dia tak mungkin bisa sepertimu.. Kau menyalahkan takdir atas perpisahan ini.
Tapi kau salah !. Tak ada yang salah diantara kita. Setiap pertemuan pasti ada ujungnya. Ini hanya perpisahan sementara. Aku yakin, Tuhan mempunyai rencana lain. LDR memang menyakitkan. Tapi bukankah ini keputusan kita. Banyak kenangan yang kita buat tanpa torehan tinta dahulu. Kuharap kau tak lupa dengan hal itu. Walau saat ini sudah ada yang baru disebelahmu..

Heartless

Drable (FF YH – Don’t Lie)

Published Januari 16, 2013 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

*Maaf, belum sempet bikin FF
panjang karena sibuk sekolah, ini
aku bawa drable yang mungkin
bener- bener pendek. ok happy
reading*
======
‘Tap tap tap’ langkah kaki seseorang
itu menggema di seluruh koridor
sekolah. Pukul 15.43, sekolah mulai
terlihat sepi. mungkin memang ada
beberapa siswa yang masih disitu
salah satunya Yoona. Siswi kelas X.3
itu duduk di kursi pojok koridor
yang lengang. Hanya ada semilir
bisik angin yang terdengar.

Gadis berambut sebahu itu duduk
dengan tenang membaca sebuah
buku novel karya ‘Kim Ji Oh’.
Dengan kaca mata minus yang
bertengger di matanya.

“Agashi, apa kau melihat sebuah
kunci motor?”.

Suara berat seseorang memecah
keheningan, dan mengusik
konsentrasi Yoona. Gadis itu pun
menoleh ke sumber suara.

Dengan senyuman ringan ia
menggeleng kearah pemilik suara
yang ternyata seorang namja.
Namja tersebut hanya menggaruk
tengkuknya yang tak gatal lalu
menunduk sebelum pergi
meninggalkan Yoona.

Selang beberapa menit, Yoona mulai
jengah. Ketika ia berjalan tak
sengaja sepatu cats abu-abunya
menginjak sesuatu. Sesuatu yang
disebut kunci.

“Maaf mungkin ini yang anda
maksud”, ucap Yoona menghentikan
langkah seseorang. Tanpa basa-basi Yoona menyerahkan kunci tersebut dan berjalan pergi.
======
Angin bermigrasi cukup ramai,
mampu menerbangkan helaian
rambut panjang nan indah. Seakan takut tersaingi, sang mentari bersinar begitu terik.
Keadaan tersebut tak menyurutkan
gairah beberapa namja ditengah
lapangan itu yang sedang
memperebutkan si bulat yang
mengelinding kesana-kemari.
Beberapa buku ia peluk dengan erat, dari balik tirai pembatas lapangan Futsall sekolah, ia mengamati seseorang.

“Namanya Donghae, Lee Donghae. Ia kelas XI.IPS3. Dia kapten futsall sekolah”.

“Sooyoung-“. Hanya itu yang Yoona ucapkan ketika mendapati
sahabatnya berdiri tepat disamping kanannya.

“Wae?? Bukankah wajar jika kau
menyukainya. Dia termasuk namja tampan di sini”.

“Tidak, bahkan kami baru bertemu sekali. mana mungkin jika aku menyukainya?”.

“Mungkin saja”, jawab Sooyoung
seraya berkedip genit.

Satu bulan berlalu. Ada hobi baru
yang Yoona miliki yaitu
memperhatikan Donghae diam-
diam. Dengan jarak tak lebih dari 10 meter.

Kini wajah cantiknya terlihat muram ketika 2 hari tak bisa menemukan sosok Donghae. Yang mungkin ia cintai.

Dia duduk dikursi penonton futsall. matanya memandang lurus. tiba- tiba secangkir exspresso terulur untuknya. dan matanya membulat ketika mendapati sosok yang ia
harapkan mengulurkan itu untuknya.

“Kenapa harus jadi penguntit jika
ingin melihatku. Bicara langsung
saja”.

“Bukan aku tidak menguntit aku
hanya-“. Jari manis itu membungkam mulut
mungil Yoona.

“Karena aku lebih bahagia kau jujur padaku. I LOVE YOU”, ucap Donghae seraya merengkuh Yoona kepelukannya.

END

Next Fanfict.

Published Januari 8, 2013 by pyrossoneff

Hai.. maaf aku belum sempet publish FF karena udah mulai masuk sekolah. Tapi tenang selain seri winter, aku bakalan publish beberapa FF lagi.

Dan aku juga mau publish “Study Of Love” tapi bingung karena ada 2 versi. Kalian milih mau yang mana dulu yang di publish, YoonHae atau MinStal?? Hayo ada yang suka MinStal ga?? Tolong comentnya…