SARANGHAMNIDA

Published Mei 13, 2013 by pyrossoneff

 

Prolog : “Bukan coklat jika dari awal proses itu hanya mengenal satu rasa yaitu manis. Begitupula dengan perasaan, manusia itu adalah makhluk komplek yang mengalami berjuta pengalaman. Sama halnya dengan cinta. Bukan cinta jika kita hanya menginginkan sebuah kata sanjungan untuk mempermanis hubungan”

Tak terasa satu tahun terlewati. Kisah cinta yang semanis coklat itu masih terjalani. Walau badai menghadang, dua sejoli itu tak ada niatan untuk melepaskan tali ikatan yang telah lama mereka rajut.

Akan tetapi, suatu hubungan itu terjalin akan penyatuan dua pikir yang berbeda arah. Perbedaan yang lebih indah dari mulainya kebersamaan. Sampai kapan kah mereka akan bertahan dengan perahu yang mulai bergetar akan riuhnya ombak lautan.

Calista, gadis itu nampak mulai bosan dengan hubungan yang ia jalani. Bukan karena gadis itu mulai tak mencintai sang pria. Aiden adalah lelaki yang bijaksana, humoris, sigap dan tegas. Atau ada penganggu dalam hubungan mereka seperti datangnya orang ketiga. Tidak, karena Calista ataupun Aiden adalah tipekal makhluk setia.

Mungkin gadis berkacamata itu mulai ragu akan waktu yang membawa kesempatan. Ia tak ingin suatu hubungan yang dekat tapi terasa seperti menjalani hubungan jarak jauh. Yang beratus-ratus mil jauhnya.

Ia ingin merasakan apa yang para sahabatnya rasakan. Misalnya kisah pacar pertama ala Salma mungkin, yang nampak menikmati setiap detik waktu yang bergulir. Sayang, itu hanya sebuah mimpi yang sulit tergapai olehnya.

Aiden, nama pacar Calista itu memilih untuk tidak sekolah di SMA yang sama dengan Calista. Pria bertubuh sedikit subur dan memiliki kulit sawo matang itu memilih melanjutkan di sekolah SMK. Sekolah mereka tak jauh hanya 100 meter jika diukur dengan sebuah perkiraan. Tetapi kurikulum pendidikan yang berbeda memaksa mereka harus menghabiskan hampir separuh waktunya untuk dunia sekolah masing-masing.

Menurut Seohyun, sahabat dari Calista, cinta itu sebuah pengorbanan yang harus mau merasakan getar-getir perasaan setiap harinya juga ketulusan akan suatu perasaan yang mengikat kita kepada suatu objek. Dan pacaran itu adalah suatu hubungan pendekataan antara dua sudut pandang dan pikir yang berbeda dan harus berani mengambil resiko.

Calista paham benar akan hal itu, dia bisa menerima Aiden disisinya juga bukan semata-mata ia menyukai lelaki yang sejenis dengannya. Dalam artian ia dan Mario sama-sama memiliki tingkah hyperaktif dan humoris. Ia berani memilih Aiden karena dia yakin dengan perasaannya yang mengatakan jika Aiden adalah lelaki terpantas untuk disampingnya saat ini setalah ayahanda tercinta. Ia ingin mengenal lebih dekat tentang pria itu.

Tetapi kini berbeda, frekuensi antara romantisme dan pertengkaran jumlahnya berbeda. Mereka lebih sering bertengkar. Karena kurangnya pemahaman akan kondisi masing-masing.

“Ta, besok jalan yuk”. Begitulah sepintas isi pesan singkat dari Aiden. Sekali lagi, hanya desahan kasar yang Carista hembuskan. Ia menggletakan kepalanya yang terasa berat lalu menaruh sembarangan phonsel hitam kesukaannya di atas meja.

“Ada apa lagi Ta”, tanya Jessica. Ia begitu cemas melihat teman sebangkunya terlihat uring-uringan.

Calista masih enggan menjawab. Ia hanya mempoutkan bibir yang membuat pipinya sedikit menggembung.

Tak begitu lama, Seohyun datang kemudian duduk didepan meja Jessica dan Calista. Ia mengambil phonsel samsung yang tergeletak tanpa terurus dari sang empunya.

“Aiden sms nih, gak niat bales Klee?”.

Yang ditanya segera mengangkat kepala kemudian menggeleng lemah. Ia melepas kacamata minus yang setia bertengger di atas hidungnya. Kemudian mengusap wajahnya frustasi.

“Aku bingung- “.

“Bingung kenapa Ta? Ini kesempatan bagus buat kalian ngobrol berdua secara empat mata. Ini saatnya kamu ungkapin apa yang gak kamu sukai dari sikap dan tindakan Aiden yang memperkeruh hubungan kalian akhir-akhir ini”, ujar Seohyun dengan bijak.

“Aku ada latihan variasi barisan PKS besok”.

“oh, kan kamu tinggal bilang acaranya diundur weekend aja”.

“Gak semudah itu Jess, Sabtu sore si gendut yang latihan”.

Jessica diam, gadis itu bingung ingin menjawab apa lagi, ia takut jika akan membuat Calista lebih galau.

“Kamu yang dateng ke tempat dia aja gimana? Gak mungkin kan mereka latihan 1 jam full tanpa istirahat. Walau itu 10 menit, kan cukup buat melepas kangen”, ujar Jessica lagi.

“kalau kaya gitu, kenapa gak dia aja yang kesini. Kenapa harus aku yang mempermalukan diri buat dia yang udah mulai gak perhatian?”.

“Ca, cinta itu adalah dukungan. Bukan Cuma ajang mesra-mesraan. Jessica nyaranin gitu kan karena dia paham kamu sama Aiden itu lagi dalam posisi yang sama-sama ingin diperhatikan. Kamu itu udah kenal hampir semua temen-temen dia yang ikut TUB kan? Sementara dia kalau datang kesini, malunya pasti akan lebih gede karena disini dia gak deket sama semua temen kamu”, imbuh Seohyun. “Sekarang keputusan ada dikamu. Pingin memperkeruh keadaan karena mentingin ego, atau menjernihkan dengan melawan ego ? yang kutahu, lelaki itu gak suka sesuatu yang ditutup-tutupin”.

Setelah memberi ceramah panjang Seohyun pun menggandeng Jessica keluar kelas. Kedua sahabat itu membiarkan Carista berperang dengan pikiran dan hati kecilnya.

Mentari telah meninggi dan berubah warna menajadi jingga. Empat gadis remaja tengah duduk santai didepan rumah sebuah kost. Salah satu dari mereka tengah asyik bermain gitar dan satu dari lainnya memilih menyenandungkan lagu terimakasih cinta dari Afgan. Mereka begitu menikmati dinginnya angin senja sambil menatap ribuan bintang di langit.

Suara canda gurau itu begitu menggelegar sebelum suara bising motor Vario orannye memecah senyum yang mulai merekah.

“Carista !”, ucap Sooyoung dengan ekspresi kaget.

“Gays, aku bikin cookies. Menurut kalian gimana nih?”.

Tanpa fikir panjang Yuri, Seohyun dan Jessica mencomot cookies yang terlihat menggoda dalam sebuah kotak manis berwarna coklat muda.

“Ini tidak buruk, lumayanlah kalau mau dititipkan di kantin kejujuran”, ucap Jessica dengan innoncent.

‘Pletaak’

Suara jitakan sempurna membuat Jessica mengerang dan mengusap dahinya yang baru dijitak Calista.

“Kalau enak besok mau kukasih buat Aiden. Bukan kantinnya orang males antre”.

“Ciyee yang udah akur, sukses ya buat besok. Cookiesnya enak kok. Semangat!”.

Awkward. Suasana yang mebosankan untuk Calista. Dia sangat merutuki moment seperti ini. Untuk beberapa menit, dia hanya diam. Bibirnya tak kuasa untuk terbuka. Persendiannya seakan tak berfungsi, jalan fikirnya seakan lumpuh seketika.

“Eumb- “,ucap keduanya.

“kau-“, ucap merka bersama.

“Maafkan aku karena selama ini telah jadi gadis yang posesif. Maaf karena aku gak bisa menghargai keputusan kamu dan sekali lagi maaf sudah diemin kamu”, ujar Calista sambil menunduk. Pipinya memanas. Pelupuk matanya mencoba menahan air mata yang siap meluncur hebat.

“Maaf juga aku gak bisa adil antaara beberapa prioritas yang harus kujalani dan itu mbuat kamu jadi korban atas keegoisanku. Dan makasih kamu udah bertahan untuk disampingku selama ini”.

“I… Iya sama-sama”.

“Ca, jadi kita baikan dong?”.

“Ye, siapa yang marahan kenapa harus baikan segala?”.

“Kamu tuh yang diemin aku mulu”.

“Nggak !”

“Iya !”.

“Ya udah, makan nih cookies buatanku”.

“Ok beb”.

Senyum cerah serta tautan kesepuluh jari manis itu mengakhiri cerita yang hampir membalikan sebuah perasaan dan janji untuk selalu setia.

END

Iklan

One comment on “SARANGHAMNIDA

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: