[FF] Cherry Blossom Ending

Published Mei 3, 2013 by pyrossoneff

[FF] Cherry Blossom Ending
Author : MinGi_Pyros
Cast : Hana Achiaki
Shotta Kazunari
Akimoto Yumi
Chiba Kazehaya
Genre : Romance
Ratting : T

###
Cinta bukanlah sesuatu yang mudah kupahami, ribuan waktu tak pernah cukup untukku memahami arti cinta. Seperti ilmu sosiologi, mungkin kah cinta itu ada jika manusia di dunia ini tak memberi lebel tentang perasaan dengan sebuah kata cinta.

Cinta datang tanpa kata permisi, cinta pergi tanpa kata selamat tinggal. Beribu kali aku menahan perasaan itu, berjuta kali pula perasaan itu hadir, tumbuh semakin dalam. Dan semakin dalam pula rasa sakit yang kuperoleh.

Aku bertanya kepada Tuhan, dosa apa yang kuperbuat di dunia sebelumya.

Dia cinta pertamaku, setidaknya aku yakin jika perasaan ini adalah cinta, menurut filosof yang ahli tentang cinta. Tetapi sayang, aku harus menarik perasaan itu. Aku tak pernah bersanding dengan cinta pertamaku, tak seperti kebanyakan orang yang dengan riang bercerita tentang cinta pertama mereka.

Pria itu –Chiba Kazehaya- aku tak pernah membenci pria pemilik lesung pipi itu, karena dialah yang memberiku semangat hingga aku bisa diterima di High School ini. Mungkin banyak orang diluar sana yang mengatai aku gadis bodoh, bagaimana tidak bodoh? Aku merelakan cinta pertamaku untuk bersanding dengan pasangan hati yang sesungguhnya. Jangan terkejut jika kukatakan gadis beruntung itu adalah Yumi, sahabatku.

Jika aku jadi kau, aku pasti akan menendang gadis tidak tahu diri itu hingga menjadi sebuah titik diangkasa. Itu hanya sepenggal kata yang dilontarkan Michiyo, sahabatku yang lain. Tapi sekali lagi, aku yakin ini bukanlah kemauan Yumi dan Kazehaya-kun yang saling mencintai untuk melukai perasaanku. Bahkan Yumi tidak pernah tahu jika aku menyukai Kazehaya-khun. Semua adalah garis tangan Tuhan. Garis tangan yang selamanya tetap akan menjadi sebuah misteri.
—–
Angin berhembus semakin kencang, daun maple, tumbuhan favoritku dimusim gugur satu per satu menjatuhkan diri. Tanda akan memasuki musim salju. Lalu musim semi yang cantik. Aku ingin sekali menikmati gugurnya bunga sakura yang pertama kalinya di Hokaido. Di tempat nenekku.

Tentu, tahun ini pasti berbeda. Terakhir aku melakukan itu dua tahun yang lalu. Dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Kazehaya-kun. Di bukit belakang rumah nenek, untuk pertama kalinya kami saling menatap sepersekian menit, untuk pertama kalinya pula dia memanggilku, walau itu hanya sebuah sapaan “Kon’nichiwa Hana-chan”.

Oh, betapa bahagianya aku waktu itu. Hatiku serasa ingin melompat tinggi. Hatiku tak dapat berhenti mengenang hari-hari yang penuh dengan kenangan cinta pertama. Tetapi senyum yang mengembang itu mengendur seketika jika kuingat itu hanya bagian kecil dari memori masa lalu.

“Ohayogozaimasu, dono yo ni shite saigo no yoru Hana-chan o neta no ka?”(Selamat pagi, Hana-chan bagaimana tidurmu semalam?), ucap Yumi.

Bibirku kelu, tenggorokanku seakan kering seketika, hingga savila ku pun terasa mengambang. Hanya sebuah senyum yang setulus nya kumiliki. Dan andai aku bukan gadis tegar, mungkin saja tangis ku akan meledak seketika. Aku belum memberikan sebuah kata apapun kepadanya. Aku melihat Kazehaya datang membawa sebuket bunga mawar merah. Dia berjalan kearahku, tidak karena ada Yumi juga yang berdiri menghadapku dan membelakangi dia.

Tragis, dia memberikan kecupan manis di pipi kanan Yumi, membuat gadis itu merona, tersipu malu. Lalu memberikan gadis itu sebuket bunga mawar. Hatiku menjerit, seharusnya aku bisa mendapat perlakuan itu, bukan malah tersiksa seperti ini.

“Ohayogozaimas, Hana-chan”. Ya, syukurlah setidaknya dia masih menyadari kehadiranku ditengah romantisme dua sejoli itu.
——
“Kau, masih mengejar Kazehaya? Apa kau ingin bersaing dengan sahabatmu?”.

Shota Kazunari, shitt pria itu mengusik hobiku. Membaca sambil menyumpal telingaku dengan headphone, seolah aku tak mendengar kebisingan dunia.

“Hentikan kepura-puraanmu, headphonemu tak tersambung oleh i-pod”,ucapnya datar.

“Haish, terkutuk. Apa maumu Shota-kun?”.

Bakka! (Bodoh) lelaki itu diam sejenak sambil mengeluarkan smirk yang membuatku mual. Demi setan kura-kura. Aku berani bertaruh, smriknya tidak lebih bagus dari milik Kyuhyun si magnae Super Junior.

Tiba-tiba dia mengeluarkan dua buah tiket. Entahlah tiket apa itu. Membuat alisku terangkat, tanda bertanya.

“Jam 4 sore, kutunggu di taman kota. Ini hanya tiket pertandingan ice-katting”. Begitu ucapnya kemudian pergi meninggalkanku yang masih ternganga.

—–
“Oatari! (Daebak, menakjubkan) anggap jika tawaran Shota-khun itu adalah tawaran untuk kencan buta *Tidak hanya diKorea, di Jepang juga lagi booming yang namanya kencan buta*”

“Oh No!! Ini kencan pertamaku, seharusnya penuh dengan romantisme, dengan cinta pertamaku bukan seperti ini!”.

“Ayolah Hana-chan, sepulang sekolah akan kubantu kau untuk berias”.

“-,-“

Alunan musik Shinee-Stand By Me mengalun begitu keras didalam kamarku. Hingga akupun tak menyadari jika Yumi-chan sudah berulang kali mengetuk pintu. Aku masih dengan tenang membaca majalah sambil tiduran. Aku tak mempedulikan jika cuaca di luar sudah 7 derajat.

Dan.. tidak !! aku ingat sesuatu, Kazunari-kun, ini sudah satu jam lebih.

“Hana-chan, gadis kurang ajar !! aku baru saja melihat Shota-kun yang mulai membeku, tolol!”.

“Yumi-chan, dimana dia sekarang?”.

“Masih di taman Kota”.

“Baiklah”, tanpa banyak waktu, aku segera mengambil mantel lalu mengayuh sepedaku ke taman kota.

Rupanya Yumi tidak berbohong, pria itu menggigil karenaku, demi aku dia bertahan.
–Cherry Blossom Ending—
Pagi hari yang manis, aku merasakan dangin didalam mulutku, dan mentari yang menyinari selimut putihku. Selamat datang cinta baruku. Lihatlah keluar jendela, kelopak bunga yang seperti popcorn, beterbangan diatas sana. Bunga sakura yang jatuh 5 centimeter per detik, mampu membuat jantungku berdegup lebih keras.

Dia terus membayangiku, dengan ungkapan “Ijinkan aku mengganti posisi Kazehaya dihatimu, aku mencintaimu”. Sungguh aku bimbang dengan perasaanku, tapi aku berjanji akan belajar untuk mencintai Shotta dengan tulus.

Sebelumnya aku tak pernah benci kepada dia, aku hanya merasa terganggu jika dia selalu mencelaku. Tapi aku tak pernah menyangka jika dia menyimpan perasaan yang selama ini kurasakan pada Kazehaya.
—–
‘Love is Magic’ dan cinta itu rumit. Masih jelas betapa terangnya sinar matamu saat kau memandangku, juga pelukanmu yang begitu lembut, serta harummu yang berubah menjadi candu untukku.

Saat bertemu kita selalu membagi cerita, cerita dimana hanya kita berdua yang tahu, cerita yang selalu diselingi oleh gelak tawa kegembiraaan.

Cinta tumbuh dalam waktu satu hari, cinta bersemi karena perhatian, kasih sayang dan pengertian. Tak selalu cinta dan romantisme berjalan beriringan. Aku mencintaimu dengan caraku, aku menyayangimu apa adanya, bukan dengan embel-embel balas budi atau rasa terima kasih.

Bahkan aku telah memiliki berbagai rencana untuk kita berdua. Detik demi detik bergulir, menit demi menit terus mengalir, bulan pun terlewati.

Pertemuan tak selalu semanis coklat, akhir yang indah tak selalu pahit seperti ‘Black coffee’ . Perpisahan tak selamanya terlandasi rasa benci, pertemuan tak selamanya terlandasi rasa sayang. Kadang di dunia ada banyak hal yang berjalan tak sesuai dengan jalan fikiran normal. Jika kau masih mempertanyakan setiap hal yang terlewati, akan menghabiskan beratus-ratus abad. Dan hanya penyesalan yang terselesaikan.

Sejak kapan kita seperti ini, tak saling mengenal. Bahkan tak mau saling mengerti. Penampilan mu berubah menjadi pribadi yang sangat dingin, kita mulai tak bisa bersentuhan tangan. Bening sorot matamu mulai memudar, senyum itu sudah kalah akan indahnya mentari yang bersinar.

Bodohnya diriku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Ketidak perdulianmu membuatku lelah. Apa kau tak pernah membaca perasaanku? Pandanglah mataku, apakah rasa sedih ini tak bisa kau mengerti?. Aku mencintaimu, kuharap ini tak pernah terlambat. Tidakkah kata ini tidak cukup untuk mengembalikan seperti awal kisah manis kita?.

Tanpa sadar aku memikirkan serta merindukan masa itu, dirimu yang terus-menerus melangkah dimataku, kenangan saat menghabiskan waktu bersama. Seperti bintang yang bertaburan. Langkah kakiku membawa ku bertemu ke tempat yang menjadi saksi suci romantisme kita. Aku tak mampu beranjak lebih jauh lagi, dan aku tak sanggup memanggil namamu. Dapatkah kau melihatku saat aku menantimu disini?

Pernahkah kau merasakan sakit seperti yang kurasakan, pernah kah kau menangis sepertiku?. Walau ada banyak hal yang mampu membuat ku tersenyum dengan kepura-puraan. Meskipun aku bernyanyi, meskipun aku berjalan, segalanya penuh dengan angan tentangmu.

Jangan berakhir, ingatkan janjimu untuk membuatku bahagia dengan cinta kedua yang kumiliki?. Jangan pergi, aku belum siap untuk melangkah sendiri.

Tempat ini teramat luas, banyak orang berbahagia. Dan hanya akulah yang terluka.
—–

Terlalu sakit, jika harus selalu kurasakan sendiri. Kuputuskan untuk bicara berdua hanya denganmu. Kumohon berikan jawaban terbaik yang kau miliki. Bawalah aku kembali untuk tersenyum.

Jalan ini, kembali kita lewati. Banyak hal yang telah kulewati, jemari ini tak lgi saling bertautan, langkah ini tak lagi sama. Senyum itu tak lagi terlihat.

Rel kereta menjadi jembatan, kau diam dan begitupun juga aku, waktu berputar terbuang sia-sia. Mulut kita sama-sama terkatup. Ego kita saling berperang, melarang kita untuk berbuat terlebih dahulu.

Sakura yang indah, letupannya tak sebanyak seperti awal musim semi, seakan mengisyaratkan tentang cinta yang kau miliki untukku. Air mataku mengalir tanpa permisi, bibirku membiru menahan semuanya.

“Terlalu menyakitkan jika kita secara egois mempertahankan semua ini”.

“…”

“Maafkan aku tak lagi bisa mempertahankan komitmen yang kubuat. Semakin kupaksa, jalan kita semakin berbeda. Gomenasai, aku memilih melepaskanmu karena ketahuilah aku masih mencintaimu”.

Pandanganku menguning, ini terlalu cepat. Setega inikah dia? Aku tahu cinta dewasa itu tak selalu milik kita. Tapi haruskah seperti ini, ribuan kali air mata mengalir? Tak bisakah hubungan ini terselamatkan lagi?.

Aku terduduk lemas, lututku tertekuk menjadi tempatku menenggelamkan semua kekecewaan. Sungguh aku tak sanggup, air mataku mulai mengalir.

“Gomenasai, Hana-chan. Kau gadis yang baik, aku yakin masih ada pria yang jauh lebih sempurna dariku yang bisa menjagamu. Aku harus fokus dengan ujian masuk perguruan tinggi”.

Bisingnya kereta tak mampu membuatku lupa akan keputusannya beberapa detik yang lalu, bayangnya mulai menghilang bersama selesainya kereta lewat.

Aku berdiri ditempat yang sama namun wajahmu semakin samar, aku tak bisa melihatmu, kau semakin pergi menjauh. Cinta yang kuanggap indah membuatku menangis dan hatiku sakit tergores luka darinya.

*END*

Maaf, endingnya gaje banget, gantung sumpah. Author nangis mulu pas bikin. Jadinya absurd gini deh. Thanks for reading gays…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: