Arsip

All posts for the month Desember, 2012

Story in Christmas

Published Desember 25, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Lee Donghae
Cho Kyuhyun
Krystal Jung a.k.a Krystal Im
Choi Minho
Genre : Romance, family, friendship
Rating : PG13
mc
= = = = =
Semburat jingga diujung jalannya gulungan ombak semakin kontras berpadu dengan liukkan pohon kelapa. Menatap senja dari balkon kamar sungguh bisa mengurangi sedikit rasa gundah dalam hati. Lamat-lamat tapi pasti. Dibalik sinar sang mentari yang mulai melangkah kembali keperaduannya, aku melihat rekaman demi rekaman dari kebersamaan kita.
*
Pesta topeng untuk anak usia 18 tahun yang membosankan. Orang-orang ini terlihat aneh, entah muda atau tua bahkan para pengisi acara dan bartender saja mengikuti kemauan adikku yang seperti bocah itu. Hanya akulah satu-satunya manusia yang berani hadir tanpa topeng disini. Sebenarnya aku datang juga alasan keterpaksaan belaka. Mengingat ini adalah pesta ulang tahun adikku. Aku merasa seperti orang asing disini.
Kuputuskan untuk duduk di sofa menghadap ke panggung yang sedang menampilkan para penyanyi yang bersuara fals. Aku pun mulai menikmati segelas buble tea, hingga kulihat Krystal berjalan menghampiriku dan dua orang pria mengekor dibelakangnya sambil melepas topeng mereka.
“Eonni, ini Minho dan yang memakai kemeja biru itu Donghae oppa. Ehm dia sepupu Minho”.
Aku menatap lelaki itu satu per satu. Kemudian pandanganku berhenti di depan Minho. Menatapnya intens dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Dian namja chingu-mu Krys”, ucapku menunjuk Minho.
“Aniyo eonni, kami hanya chingu”.
Aku melihat ada yang aneh dari adikku itu. Dia terlihat bergetar dan terus menerus menggigit bibir bawahnya. Sementara namja bernama Minho itu terlihat menggaruk tengkuk yang aku yakin sama sekali tak gatal.
“Tak perlu berbohong, aku tidak akan katakana hal ini pada ayah”.
Kini giliran aku menatap lelaki yang lebih tua dari Minho.
“Dan kau ! Sudah tua mau saja bergabung dalam sandiwara adikku. Kau dan Minho, kalian hanya chingu bukan?”.
“Eonni kau keterlaluan!”.
Sekilas kutatap Krystal yang terlihat mulai merajuk. Aku tak mempedulikan hal itu. Segera kuraih mantelku dan berjalan keluar menjauhi pesta remaja labil itu.
“Noona tunggu!”.
Seseorang berteriak tak jauh dari langkahku berhenti. Kulihat pria yang tadi bersama Minho tadi berjalan mendekat kearahku.
“Ada apa lagi? Bukankah ucapanku tadi benar? Aku sibuk tak ada waktu untuk meladeni orang sepertimu”.
“Ada apa dengan sikapmu? Kau tak sadar betapa sakit hatinya Krystal?”.
“tsk~ hei tuan siapa kau? Berhentilah jika kau tak tahu apa-apa. Ini bukan kali pertama Krystal menggunakan aku agar ayah memperbolehkan dia pacaran”.
Kulangkahkan kakiku kembali. Aku mendengar beberapa kali ia meneriaki namaku namun tak pernah kupedulikan.
*
Lagi-lagi langkah ini membawaku kemari. Cherry Blossom yang indah, kenapa kalian harus gugur?. Lalu kenapa disaat kalian gugur, salju juga ikut menggugurkan diri?. Andai kalian tak pernah gugur secara bersamaan, mungkin dia tidak akan pergi meninggalkan ku sendiri bersama ribuan kenangan ini.
*
Pukul 11.50. Aku masih sibuk dengan lembaran kertas dan sebuah computer di hadapanku ini. 10 menit lagi waktu istirahat makan siang. Tidak. Jika aku pergi makan, lalu bagaimana dengan pekerjaanku ini?.
“Im Yoona, istirahatlah. Jika kau ingin bergabung dengan kami, temui kami di Restaurant Cina persimpangan jalan”.
Itu ajakan ke 7 dari teman seruanganku. Aku membalas ajakan mereka hanya dengan senyum. Lalu kembali mengetik laporan-laporan ini.
“Delivery tiba..!”.
“Semua sudah pergi makan, dan aku bukanlah si pemesan makanan”, jawabku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari monitor computer.
“Coba berbalik dan dan ambillah ini nona”.
“haish~ ada apa denganmu, aku… kau?!”.
Aku terkejut, ketika berbalik menjumpai lelaki teman Minho dan Krystal semalam. Dia sedang tersenyum kepadaku. Dan ada dua kotak besar ditangan kanan dan kirinya. Yang aku yakini kotak itu berisi makanan.
“Kenapa kau bisa disini Donghae ssi? Dan darimana kau tahu aku bekerja disini?”.
“Sangat mudah mencari Im Yoona, si pekerja keras yang menjabat sebagai marketing meneger di Lee Corp”.
Dia kembali tersenyum, seakan gigi putih susu itu tak takut kering. Hal itu membuatku muak dan merasa migren.
“Sekarang berhenti bekerja dan makanlah. Aku yakin pemimpin Lee Corp ini tak akan marah jika kau menggunakan waktu 15 menit untuk menyantap sasimi juga bulgogi yang aku bawa”.
Dia menarik jari-jariku yang berada diatas keyboard untuk menyentuh sumpit dan sendok.
“Aku juga membawakanmu green tea untuk minumannya. Jadi kumohon habiskan ya”.
“ kau ini… baiklah akan aku makan”.
“Yasudah aku pergi dulu, agar kau tak merasa terganggu. Jangan lupa diahabiskan ya”.
Dia mengusap kepalaku kemudian melangkah pergi.
“Donghae ssi, kamsahamnida”, ucapku.
Kini dia behenti kemudian berbalik. Dia tak membalas ucapan terima kasih ku, dia hanya tersenyum. Membuatku mengumpat sendiri. Aku tersenyum mengingat tingkahnya yang baru mengusap kepalaku. Aku merasa debaran kecil di jantung ini.
*
Di tempat ini, dulu pertama kali dia datang dan mengajakku pergi diakhir pekan. Tidak banyak aktifitas yang kami lakukan di kencan pertama itu. Hanya pergi menyaksikan opera dari serial “Goong” lalu pergi ke taman untuk naik biang lala. Dan terakhir dia membelikanku sebungkus gula kapas yang manis itu.
Dia –Cho Kyuhyun- lah yang mengajarkan ku betapa pentingnya arti kesetian dan cinta yang tulus
*
Hari ini aku sangat sibuk hingga merasa lelah seperti ini. aku memasuki rumah sambil menepuk-nepuk pundakku. Berharap rasa lelah ini akan sedikit berkurang. Tak seperti biasanya aku melihat eomma dan appa ada dirumah. Eomma tersenyum lebar kepadaku.
“Yoona-ah kau tahu, ternyata sahabat eomma mempunyai putra seusiamu. Bagaimana? Kau bisa kan akhir pecan ini pergi bersama putra sahabat eomma?”.
Aku berhenti menaikki anak tangga menuju kamarku. Dan kutatap eomma dan appa secara bergantian.
“Berapa kali kukatakan pada kalian? Aku tidak tertarik dengan kencan buta!”.
Aku berlari menuju kamar dan menutup pintu dengan lumayan keras. Aku menangis dibalik pintu. Menyembunyikan kepalaku didalam kaki yang tertekuk.
*
“Maafkan aku young, karena aku tidak menyadari jika kemarin kau berulang tahun. Untuk hadiahnya bagaimana jika aku hanya memberikanmu scarf ini?”.
“Ya, terima kasih banyak oppa”.
Dia mengenakan scarf bermotif strawberry itu keleherku. Dan kami pun bangkit dari sebuah kursi ditaman. Jari-jari kami saling bertautan dengan mesra dan kaki kami melangkah seirama seperti alunan melodi. Dan salju turun seiring dengan setiap detik kebersamaan yang kami lewati.
*
“Membosankan sekali”, gumamku. Seperti rutinitas biasa. Bekerja demi membunuh waktu yang selalu kulakukan. Tapi hari ini terasa beda. Aku merasa sangat bosan untuk bekerja.
Tiba-tiba sebuah tangan yang menggenggam segelas cappochino terulur tepat didepan dua bola mataku. Mata ekorkupun menangkap sosok si pemilik tangan tadi.
“Ini untukmu”.
“Donghae ssi, kenapa kau bisa diruanganku?”.
“Apakah kita perlu mengulang perkenalan”.
Aku tak mengerti dengan arah pembicaraan pemuda dihadapanku ini. akupun mengerutkan dahi. Melihat aksi apa yang ia lakukan berikutnya.
“Perkenalkan, namaku Lee Donghae. Kau bisa panggil aku Donghae. Aku putra bungsu dari presdir Lee SungMin”.
“Mwo?”.
Apa yang dia katakana barusan?. Ya Tuhan aku sudah tidak tuli bukan?. Dia putra bungsu Presdir, itu berarti dia juga atasanku. Kenapa aku tak pernah melihat dia sebelumnya?,
“ Aku baru satu minggu disini. Sebelumnya aku mengurus cabang di Singapore”.
Aku hanya tersenyum lalu meminum cappochino yang ia berikan.
“Bukankah kau bilang tadi, kau lelah bekerja terus? Ayo pergi ke Lotte denganku, bukankah perempuan suka berbelanja? Tenang aku yang akan traktir. Asal barang yang kau beli tidak terlalu mahal”.
“Hei itu tidak perlu”.
Selalu, pria ini tak mau mendengarkan jawabanku. Dia gemar sekali bertindak tanpa berfikir. Dia juga hobi sekali menyeret tangan orang, seperti ia menyeretku sekarang. Apa dia tidak pernah berfikir jika aku ini orang sibuk, yang tidak suka shopping.
*
Tiga hari lagi natal. Kami sedang berada di restaurant Italia. Kami duduk dimeja dekat jendela, dia terus memperhatikan anak-anak kecil yang tengah asyik bermain dengan gumpalan salju. Itu membuatnya tersenyum. Entah kenapa senyuman itu terlihat miris, membuatku merasa sedih.
Dia terus mematri garis simpul itu diwajah tampannya. Dan aku baru tersadar jika akhir-akhir ini, kulit itu terlihat semakin pucat. Hingga makanan yang kami pesan tiba, dia masih menatap buliran salju yang jatuh.
*
Aargh, lelaki ini benar-benar bisa membuatku gila. Dia tak main-main rupanya. Tadi dia mengajakku bermain di taman hiburan lalu dia memaksaku membelikan beberapa pakaian, yang sebenarnya tidak aku butuhkan. Dia juga memaksa untuk mengantarku pulang.
Sesampainya kami didepan rumah, ia membukakan pintu mobil untukku. Kemudian dia tersenyum dan membungkuk kepada kedua orang tuaku yang berdiri diambang pintu.
“Rupanya dia pria yang membuatmu menolak kencan dengan anak sahabat eomma? Tidak masalah, dia pria yang tampan. Dan sepertinya dia juga baik. Bukankah begitu yeobo?”, ucap eommaku sambil menyikut appa.
“Eommamu benar Yoong, kapan kau akan membawa dia bertemu denganmu?
“Bukankah kalian baru saja bertemu. Lagipula dia hanyak putra bosku. Hubungan kami tidak seperti yang kalian bayangkan”.
Aku menerobos masuk. Orang tuaku ini sungguh berlebihan menurutku.
“Yoona, kau tak perlu malu. Jika saja dia kekasihmu, kami juga pasti akan merestui hubungan kalian”.
“Sudah kukatan, dia bukan siapa-siapa. Lebih baik kalian berikan restu saja kepada Krystal untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis”.
Aku melirik Krystal yang tengah asyik menonton acara di televisi. Dia memberiku tatapan death glare-nya yang membuat aku tersenyum dan bergidik. Aku kembali berjalan kearah kamar mengabaikan ocehan orang tuaku tentang Donghae.
*
Sudah ke dua kalinya dia tak menepati janji. Dia selalu datang terlambat bahkan tak jarang dia tak datang menepati janji yang ia buat.
Tadi sore dia mengirimiku sebuah pesan. Dalam pesan itu tertulis bahwa dia ingin bertemu denganku di Sungai Han. Tapi sudah 2 jam aku menunggu, batang hidung pria itu tak kunjung terlihat. Aku mulai jengah dan mulai beranjak pergi.
Tiba-tiba seorang gadis kecil datang menghampiriku. Dia memberiku setangkai mawar putih dengan sepucuk surat yang terselip.
“Maaf sepertinya kita tidak jadi bertemu. Maaf telah membuatmu menunggu. Aku mencintaimu”
Dengan gontai aku melangkah meninggalkan Sungai Han. Cho Kyuhyun, kau pria hebat sekali lagi kau berhasil membuatku merasakan kecewa dan kini kau kembali membuatku menangis.
*
“Eonni, satu minggu lagi natal. Ayolah kau cepat mencari kekasih. Aku tak mau jika ditinggalkan oleh Minho oppa”.
Sebenarnya aku tak tega jika setiap kali melihat Krystal merengek. Aku merasa seperti eonni yang kejam. Gara-gara aku tak memiliki kekasih, Krystal jadi mendapatkan ultimatum dari ayah agar tidak berpacaran lebih dulu daripada aku.
“Kau fikir mencari pacar itu lebih mudah dari menghitung rumus fisika?”.
“Ini sudah tahun ke empat. Mau sampai kapan ka uterus seperti ini”.
Kuhentikan aktifitas menyisir rambut. Pandanganku berpaling kepada sebuah foto didinding kamarku. Dia terlihat tampan tersenyum seperti itu.
*
Dia itu selalu special, hanya dialah pria yang bisa membuatku tidak bisa marah lebih dari 2 hari dengannya.
Sore ini, kami sedang berada di Namsan Tower. Kami, lebih tepatnya ini adalah ideku untuk memasang gembok cinta. Mengikuti jejak ribuan pasang kekasih yang telah meletakkan gembok mereka disini.
“Apa yang kau tulis di gembok oppa?”.
“Kau ingin tahu Yoong?”.
“Tentu saja”.
Dia memperlihatkanku sepasang gembok berbentuk love dengan warna berbeda. Yang satu berwarna merah muda dan yang satu berwarna biru muda. Gembok berwarna merah muda itu terdapat tulisan’YloveK”, sedangkan gembok yang lain tertuliskan “K&Y”.
Aku menatapnya, kemudian terdengar gelak tawa dari kami berdua.
*
Hari ini aku pulang pukul 19.45. aku jalan kaki menuju halte karena mobilku di service. Tiba-tiba di jalan aku melihat nya turun dari mobil.
“Yoona-ah kenapa kau jalan kaki?”.
“aish~ kenapa setiap kemanapun aku melangkah selalu ada kau Donghae ssi”.
“Mungkin jodoh”, jawabnya sambil memasang wajah innocent.
Jawaban yang kekanakan. Aku tak menggubrisnya dan tetap berjalan menjauh. Tiba-tiba tanganku menghangat, rupanya dia sedang menggenggam tanganku. Lalu menyeretku masuk kedalam mobil.
“Biar kau aku antar”.
Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan diantara kami. Baik aku ataupun dia, sama-sama sibuk dengan angan masing-masing.
“Sudah sampai, apa kau ingin aku membukakan pintu untukmu lagi?”.
“Apa? Ah, tidak usah. Kamsahamnida”.
Dasar lelaki menjengkelkan, dia kadang bersikap baik kadang juga menyebalkan dan terkadang bertingkah seperti anak-anak. Pria yang labil.
*
“Katakan padaku jika semua yang tertulis di surat ini bohong oppa!”.
“Maafkan aku Yoong, tapi inilah realita kehidupan”.
“Sejak kapan?”.
Air mataku tak bisa lagi kubendung. Hatiku tiba-tiba saja membeku, seperti barusaja tersambar kilatan petir. Aku menatap wajah pucat itu dengan nada sendu.
“Sejak aku berusia 15 tahun. 6 tahun ini aku menutup sebuah kenyataan darimu. Aku tak mauh dikasihani olehmu”.
Tangisan ku terpecah semakin keras. Betapa bodohnya aku, 7 tahun kami menjalin hubungan. Ternyata sudah 6 tahun dia tersenyum palsu demi kebahagianku. Aku merubahnya menjadi orang egois. Karena akulah dia jadi menanggung semua ini sendiri.
Dia merengkuhku. Kami berpelukan cukup lama.
*
Entah sudah berapa lama. Kini hubunganku dengan Donghae semakin dekat. Walau tidak begitu baik. Karena hanya ada perdebatan jika kami bersama. Lebih tepatnya akulah yang memperkeruh suasana.
Tapi itu terlihat lucu, melihat wajah cemberutnya yang menawan setiap kali dia kalah beertengkar dariku.
Dia juga rutin membawakanku makan siang. Karena aku yang terlalu sibuk hingga tak menyempatkan diri untuk melangkah ke kantin.
“Yoona-ah malam natal nanti, kau harus mau jalan denganku”.
“Shireo, aku mau berkumpul dengan keluarga dirumah”.
“Ayolah, Krystal juga palingan pergi dengan Minho”.
Dia terus merengek seperti bayi. Rengekannya ini sungguh membuatku tak tahan. Dan tanpa kusadari akupun mengangguk.
*
“Penyakitku ini adalah keturunan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena dia masih memberiku hidup untuk 6 tahun terakhir. Keponakanku hanya bisa bertahan 3 tahun semenjak dokter memberikannya vonis”.
“Oppa..”.
“Kumohon jika suatu saat nanti Tuhan memanggilku, hiduplah dengan bahagia. Dan cintailah seseorang yang Tuhan kirimkan sebagai penggantiku. Perlakukan dia sama seperti kau perlakukan aku”.
Aku tak menjawabnya. Justru ucapannya semakin membuatku terisak.
*
Sesuai permintaannya, aku menuruti untuk pergi dengannya di malam natal. Kami duduk di bangku taman, menyaksikan kerlap-kerlip lampu yang menghias pohon natal, dan memperhatikan gumpalan salju itu jatuh dari dahan-dahan pohon ditaman.
Segrombolan anak kecil tertawa riang sambil saling melempar bola salju.
Terlalu asyik memandang kemeriahan malam natal hingga tak sadar, jika Donghae sudah tidak ada disampingku. Aku mencoba bangkit dari posisi duduk namun seseorang menutup mataku. Membuat semuanya menjadi gelap.
“Marry Christmas”, teriak seseorang itu.
“Yak! Kau Lee Donghae”.
Diapun melepas tangan yang menutup mataku, kemudia tertawa lebar diahadapanku. Sementara aku mengerucutkan bibir dan kembali duduk.
“Hei jangan marah, aku bermaksud untuk bercanda”.
Sekilas aku meliriknya. Ia terlihat lucu sekarang dengan wajah menyesal itu. Entah sejak kapan kini jantungku merasa berdebar kencang. Kuakui, dekat dengannya setiap hari dengannya membuat aku merasa nyaman. Bahkan aku merasa ini tak sekedar rasa nyaman. Mungkin aku mulai menyukainya. Berfikir tentang perasaanku sendiri membuat pipiku memerah, bukan karena rasa dingin.
“hei wajahmu memerah bak kepiting rebus”.
“Aniyo, aku hanya kedinginan Donghae-ah”, elakku.
Tanpa sepatah katapun, ia segera melepas mantel hangatnya dan memakaikan untukku.
“Sebenarnya apa yang membuatmu terdorong mengajakku kemari?”.
“Eumb.. tunggu sebentar Yoona aku harus pergi ke mobil”.
Aku menunggu hingga 10 menit lamanya. Dia pun datang. Aku terkejut sekaligus bertanya-tanya ketika ia datang membawa sebuket bunga.
Dia tersenyum kemudian berkata” This is for you baby”.
Aku mengerutkan dahi kemudia tawaku pun pecah.
“Apakah ada yang lucu? Kenapa kau tertawa Yoona?”.
“Apa maksud kau memberiku bunga”.
“A.. Ah, would you be my girlfriend?”.
“…”. Aku diam membisu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku belum yakin dengan perasaanku terhadap dia. Karena aku masih mencintai Kyuhyun.
“Aku tahu dari Krystal, jika kau masih terbayang-bayang dengan mantan namja chingumu. Aku siap menunggu Yoong”.
“Baiklah, aku akan mencoba mencintaimu Donghae-ah”.
“Benarkah itu? Gomawo Yoong”.
Kami pun berjalan ke mobil untuk pulang. Sebelum pulang aku, menyempatkan melirik kearah bangku yang kami duduki. Ku lihat dia sedang duduk ditempatku tadi. Dia tersenyum bahagia kearah kami. Sebelum bayangnya mulai menghilang.
“Sekarang aku tahu yang kau katakana waktu itu Kyu oppa, mungkin Donghae lah pria yang Tuhan kirim sebagai penggantimu. Marry Christmas, semoga kau bahagia disana oppa”.
END
Hai gimana ff nya? Gaje bukan? Maaf kalau banyak typo.

Iklan

Summer Sunset

Published Desember 24, 2012 by pyrossoneff

Cast : Im Yoona >< Lee Donghae
Ratting : PG 14
Genre : Romance
Note : “Annyeong readers, author kembali dengan kisah melanjutkan Spring Surprise, maaf author belum bisa ngasih cerita yang panjang. Dan maaf cerita ini terlalu banyak percakapannya dan mengumbar terlalu banyak Typo. Ok, trima kasih untuk readers yang udah mau komen di FF ku sebelumnya. Thank’z all. Dan Selamat Membaca”
ss

Setelah bekerja keras menyelesaikan pendidikan di negeri orang, kini Yoona bisa kembali ke Korea. Tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan di Keluarga Im. Keluarga yang terkenal dengan keharmonisan dan kekayaannya.
Gadis itu menutupi kantung mata menggunakan kacamata. Dia berjalan keluar dari bandara. Dandanannya terlihat aneh. Di musim panas seperti ini, ia masih menggunakan hoodie dan celana jeans hitam panjang tak lupa dengan scarf nya yang terbuat dari wol, hasil dari bulu domba import dari Australia.
Sebenarnya ia juga merasa kegerahan, namun bagaimana lagi, ia lupa jika ini sudah memasuki musim panas di Korea. Ia terus berjalan menggeret koper berwarna coklat itu hingga sebuah mobil A5 berhenti. Dari dalam, kaca mobil itu terbuka menunjukkan tampang mempesona dari sang pengemudi.
“Maaf aku terlambat, cepat masuklah”.
Dengan kesal Yoona mengikuti perintah dari sang pengemudi mobil, tentunya setelah ia meletakkan koper ke bagasi.
“Aish~ kau tetap tak berupah oppa! Setidaknya kau bantu aku meletakkan koper-koper itu kedalam bagasi, walaupun kau tak membukakan pintu untukku!”.
“Sudahlah Yoong, jangan seperti anak kecil”.
Lagi-lagi Yoona kalah dalam perdebatannya dengan Donghae. Wajahnya memerah menahan amarah, alis kanan dan kirinya juga hampir tak mendapat jarak, bibirnya sudah menutup rapat hingga mobil melaju sampai kedepan gerbang rumah mewah keluarga Im.
“Sudah sampai nona Im, kau tak ingin turun?”
Sekilas Yoona memandang Donghae, lalu ia turun dan membanting pintu sedikit kasar.
Didepan pintu, terlihat Krystal sang adik dan eomma nya berdiri menyambut kedatangannya dengan sumringah.
“Aigoo, putri eomma terlihat kurus sekali, apa kau tak makan dengan benar? Apa kau tak minum vitamin seperti yang eomma sarankan? Huh dasar gadis nakal”.
Ny. Im terus melontarkan kata bernada cemas kepada putrid yang tak ia temui selama 2 tahun itu. Dan ia tak henti-hentinya mengacak rambut Yoona yang sedang ia peluk.
“Haish~ eomma memalukan. Kasihan eonni baru pulang dia pasti lelah. Eonni apa kau membawakan aku oleh-oleh?”, sela Krystal.
Gadis berambut ikal itu segera menggapit lengan eonni-nya lalu mengajaknya masuk. Sementara itu, Donghae yang melihat betapa antusiasnya keluarga Yoona menyambut kedatangan sang kekasih hanya mampu melemparkan senyum kecil sambil membawa koper Yoona masuk.
“Eomma dimana Abeoji?”.
“Abeoji tentu sedang dikantor Yoong”, sela Donghae.
Jawaban Donghae membuat Yoona mengerutkan dahi, ia merasa aneh dengan ucapan Donghae yang menyebut ayahnya dengan sebutan abeoji.
“Tidak usah sebingung itu. Donghae oppa sudah bilang kepada kami sebelum ia pergi ke Paris untuk melamarmu. Jadi appa menyuruhnya memanggil abeoji”.
“Dasar adik nakal, jadi kau juga sudah tahu rencana lelaki ini?”.
Krystal yang ditanya hanya mampu menyunggingkan senyum lalu pergi ke kamar.

Segumpulan awan itu tak mampu menutupi indahnya warna jingga dari sang surya yang ingin kembali ke peraduannya. Pemandangan senja yang indah dipandang oleh mata. Gadis berambut panjang itu berdiri dengan tangan berpegangan pada besi pembatas balkon. Tak selang begitu lama terasa sepasang tangan kekar melingkari tubuhnya. Sebuah back hug yang sangat ia rindukan dari sosok sang kekasih. Ia terlalu merindukan moment seperti ini hingga menutup matanya membiarkan hembusan nafas sang kekasih mengenai tengkuknya dan memberikan suatu sensasi yang memabukkan.
“ Kau masih marah kepadaku? ”.
“ Oppa kenapa kau belum pulang? ”.
“ Lagi-lagi kau menghindari pertanyaanku ”.
“ Jawab pertanyaanku terlebih dahulu ”.
“ Aku tak mungkin pulang jika kekasihku yang paling manja ini masih marah padaku. Aku pasti akan sangat gelisah di rumah nanti”.
“ Jadi, jika aku katakana sudah tak marah denganmu apa kau akan pulang? “.
“ Sepertinya kekasihku ini lebih suka aku pulang. Baiklah aku akan segera pulang “.
Donghae melepas pelukannya. Ia berbalik dan bergegas untuk melangkah pergi. Meninggalkan Yoona yang masih diam. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan tingkah Yoona yang berganti memberikan back hug untuknya. Membuat hatinya berdebar lebih kencang.
“Jangan, jangan pergi. Tinggallah disini untuk beberapa saat lagi. I miss you”.
Lelaki itu tersenyum lebar. Ia begitu kaget mendengar tiga kata dari Yoona. ‘I Miss You’ tiga kata yang sudah lama tak mereka ucapkan setelah kepergian Yoona ke Paris. Tak sadar jika sekarang ia sedang mengusap tangan Yoona yang memeluknya erat.
“Hei ada apa denganmu? Aku akan datang lagi besok. Sekarang biarkan aku pulang. Kau juga pasti lelah kan?”.
Anggukan dari Yoona membuat pipi Yoona bergesekan dengan punggung Donghae yang dibatasi oleh kemeja.
Aktifitas rutin keluarga Im. Salah satunya dengan sarapan bersama menikmati masakan Ny. Im. Walau mereka memiliki 3 pembantu, tapi Ny. Im membiasakan memasak sendiri makanan untuk keluarganya. Terlihat Yoona dan Krystal yang sedang mengadu sumpit memperebutkan sepotong telur gulung.
“Eonni ini milikku”.
“Haish~ apa-apaan kau? Tidak ini milikku. Singkirkanlah sumpitmu gadis nakal!”.
“Tidak akan!”.
Tiba-tiba, piring berisi telur gulung itu terangkat, membuat Yoona dan Krystal mengalihkan pandangan kearah tangan yang menarik piring tersebut. Mereka melihat bahwa tangan tersebut adalah milik Tn. Im. Ayah Yoona itu segera mengambil pisau makan lalu membagi telur itu menjadi dua, dan diletakkan sebagian kepiring Yoona dan sisanya ke piring Krystal.
“Memalukan sekali, putri ayah harus bertengkar merebutkan telur gulung. Krystal habiskan makananmu lalu segera pergi ke kampus. Jangan pulang terlambat appa akan menjemputmu”.
Yoona dan Krystal menunduk menyembunyikan wajah cantik mereka. Mereka begitu malu atas kelakuan keakanak-kanakan mereka barusan.
“Yoona kau juga segera habiskan makananmu lalu pergi kesalon bersama eomma”.
“Salon eomma? Untuk apa? Shiroo itu akan membuang-buang waktu”.
“Hei, kau tidak ingin tampil cantik didepan orang tua Donghae?”.
“Apa maksud eomma?”.
“ Yeobo, jadi kau benar-benar melarang Donghae mengatakan bahwa sore ini kita aka nada makan malam bersama orang tuanya?”.
“Oh iya, sebenarnya itu bercanda tapi aku tidak tahu jika anak itu serius”.
“Jinja? Eomma appa aku belum siap”.
“Tidak apa-apa, orang tua Donghae pasti setuju dengan hubungan kalian karena kau ini anak appa. Jangan gugup”.
Akhirnya setelah sibuk seharian disalon dengan eommanya, Yoona bisa berangkat ke restaurant tempat kedua keluarga bertemu. Ia terlihat anggun dengan gaun biru muda dan rambut coklat panjang terurai.
Untuk pertemuannya yang pertama dengan orang tua Donghae, ia datang terlambat bersama eommanya karena macat. Ia sangat menyesali keputusannya menolak ajakan Donghae untuk berangkat ke restaurant bersama.
Dengan perasaan gugup ia membuka ruang VIP restaurant yang dipesan ayah Doghae. Sungguh ia tak menyangka dengan sambutan orang tua Donghae kepadanya. Tn. dan Ny. Lee menyambut dengan senyum lebar. Bahkan Ny. Lee tak berhenti memberinya pujian.
“Aigoo, beruntungnya putraku bisa mendapat istri secantik dirimu. Bahkan kudengar kau adalah mahasiswa terbaik lulusan Univversitas disaign di Paris benarkah?”.
“Tidak begitu juga bibi”.
“Kenapa kau memanggilku bibi? Kau juga harus memanggil aku eomma seperti Donghae memanggil orang tuamu”.
Donghae terkikik melihat ekspresi Yoona yang sudah seperti kepiting rebus.
“Sudahlah, ayo segera makan”, perintah Tn. Lee.

Donghae dan Yoona memutuskan untuk lebih cepat berpisah dengan para orang tua. Mereka bergandengan dengan penuh senyum diwajah keduanya.
“Yoong, sepertinya aku meninggalkan ponselku disana”.
“Aish~ cepat ambillah oppa”.
“baiklah tunggu aku di mobil, ini kuncinya”, ucap Donghae sambil memberikan kunci mobil.
Tak lupa sebelum kembali untuk mengambil ponsel, ia mengecup singkat kening Yoona. Adegan yang sukses menyita perhatian beberapa masang mata pengunjung restaurant dan membuat pipi Yoona memanas menahan rasa bahagia juga malu.
Yoona melangkahkan kaki mungilnya menuju basemant.
“Yoona, tunggu!”.
Suara berat itu berhasil membuat langkah Yoona berhenti. Dengan badan sedikit gemetar ia membalikkan badan kearah sumber suara.
Seorang pria berbadan atletis dan wajah baby facenya melangkah mendekati Yoona. Membuat mata Yoona membulat sempurna.
“Kau Im Yoona bukan? Apa kabar?”.
Pria dengan jas hitam itu megulurkan tangan bermaksud untuk menjabat tangan Yoona. Sementara gadis yang dimaksud itu terlihat syok. Yoona menggigit bibir dan kedua tangannya meremas gaun bawahnya.
Pria itupun tersenyum miris menarik uluran tangannya.
“Kau. . .”.
“Ne, ini aku Kim Kibum”.
“Mianhe Kibum-ssi aku terburu-buru”, ucap Yoona sambil melangkah pergi meninggalkan Kibum.
Pria bernama Kibum itu terlihat memandang kepergian Yoona dengan senyum miris.
“Kibum-ssi, hahahaha sepertinya kau baik-baik saja Yoong”,guman Kibum.
Yoona terlihat menitihkan air mata di mobil. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini, ia begitu butuh ketenangan saat ini.
“Maaf aku terlalu lama”, Donghae membuka pintu mobil. Membuat Yoona terburu-buru menghapus air matanya dengan kasar.
“Hei kau menangis? Ada apa Yoong?”.
“Aku baik-baik saja oppa. Oppa bolehkah aku memelukmu sekarang?”.
Donghae mengernyitkan dahi, kemudia membuka tangannya lebar-lebar member ruang untuk Yoona memeluknya. Ia bingung dengan sikap yeojachingunya sekarang. Tapi Donghae memutuskan untuk tidak bertanya sekarang.

Kegiatannya menyiram bunga dikebun berhenti seketika. dahanyi mengernyit dan matanya menyipit ketika membuka pesan dari ponselnya yang sukses menghentikan aktifitasnya.
“Yoona-ah, bisakah kau temui aku dikafe coffe dekat namsan tower pukul 4 sore. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu”. Begitulah sepenggal pesan masuk dari nomer yang tak ia kenal.
Ia menatap layar ponselnya hingga 10 menit lamanya. Lalu menutup ponsel itu dan memasukkan kedalam saku hotpents nya. Ia menganggap cuek pesan tersebut. “itu hanya orang iseng”, gumam Yoona.
Ia pun segera melanjutkan aktifitas menyiram bunga. Sambil bersenandung dengan lagu gembira. Kemudian selesai menyiram bunga, ia memutuskan untuk mandi.
Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 4.12 sore. Yoona duduk di depan meja rias berkutat dengan sisir yang terus bersembunyi disela rambut indahnya. Tiba-tiba ia teringat dengan pesan diponselnya tadi.
Sekali, duakali hingga tiga kali ia membaca pesan tersebut.
“Bagaimana jika pengirim pesan ini adalah temanmu Yoona, mungkin saja itu Yuri karena sudah 2 hari gadis itu tak mengirim pesan seperti biasanya”, gumam Yoona dalam hati.
“Tidak pasti itu kerjaan orang iseng. Jangan dipikirkan!”, serunya.
Tik… tik… tik… detik demi detik terus bergulir hingga pukul 16.36.
Yoona yang sedang duduk menatap matahari sore itupun tiba-tiba bangkit. Dan bergumam sendiri mengingat pesan pada ponselnya.
“Kau harus datang untuk melihat Im Yoona. Bukankah kau diajarkan eomma untuk tidak membuat seseorang menunggu? Ya kau hanya perlu pergi memastikan siapa orangnya tidak harus bertatap muka dengannya!”.
Gadis itu berlari menuju kamar menyambar blazer di tempat tidur tak lupa dengan kunci mobil, ponsel juga tasnya. Ia mengemudikan sebuah mini coper berwarna merah muda dengan kecepatan 100 km/jam membelah jalanan Seoul.
Dengan hati-hati ia melangkahkan kaki memasuki kafe coffe yang dimaksud oleh si pengirim pesan.
“Tidak biasanya kau membuat orang menunggu 1 jam lamanya Nona Im Yoona. Tapi tak apalah yang penting kau sudah mau datang”.
Yoona mempercepat langkahnya menuju meja no.1 yang terdapat seseorang yang mengajaknya berbicara.
“Kau, jadi kaulah si pengirim pesan itu?”.
“duduk dululah”.
Dengan menahan amarah, Yoona duduk menuruti perintah orang berkacamata dihadapannya.
“Sudahlah Kibum ssi aku tak punya banyak waktu untuk meladeni lelaki sepertimu!”.
“maafkan aku Yoong, aku terlalu bodoh telah melepas gadis secantik dan sebaik kau..”.
“Lalu sekarang kau ingin merayuku lagi?. Kau masih tidak tahu malu Kim Kibum ssi! Aku membencimu!”.
“Jangan bohong padaku, katakanlah padaku bahwa kau masih mencintaiku sama seperti aku mencintaimu Yoong”.
“Tidak, aku tidak mencintaimu. Aku bukanlah Yoona yang bodoh yang telah kau sakiti hatinya. Kau fikir aku mau kembali untuk cintamu? Aku tak sudi untuk kembali kau duakan dengan wanita penjaga toko kado itu!”.
“Maaf, aku sadar aku salah telah menyakitimu. Aku sadar Kim Taeyeon tidak sebaik kau, dia hanya gadis murahan yang gila harta”.
“Bukankah Tuhan adil? Kau ingat, dulu kau juga memeras barang juga uang dariku untuk kau berikan padanya!”.
“Hei bukankah aku sudah katakan MAAF!”.
Kibum berdiri dan menggebrak meja, matanya memancarkan kemarahan. Namun hal itu tak membuat Yoona takut. Ia justru melemparkan pandangan yang lebih menakutkan untuk Kibum.
“Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai. Aku harus pergi”.
Ia berdiri meraih tasnya kemudian melangkah keluar kafe.
Begitu juga Kibum yang pergi meninggalkan kafe dan mengejar Yoona. Ia memegang erat gadis itu. Kemudian ia membalikkan paksa tubuh Yoona. Dengan kasar Kibum meraih tengkuk Yoona untuk mempermudah mencium gadis itu. Namun Yoona terus memberontak. Ia menendang tulang kering kaki kanan Kibum, hingga Kibum melepaskan tangan dari tengkuk Yoona.
“Dasar laki-laki brengsek! Kau gila Kim Kibum”.
“Iya aku gila karena kau berani menolak seorang Kim Kibum!”.
Sekali lagi, Yoona memukul pundak sebelah kiri Kibum dengan Tasnya. Lalu melangkah pergi.
Ia membuka pintu mobil. Dia duduk dikursi pengemudi, namun tak kunjung menjalankan mobil itu. Ya, gadis yang diketahui “strong girl” itu menangis untuk kesekian kalinya karena ulah lelaki bernama Kibum. Tiba-tiba memori-memorinya dahulu, waktu Senior High School bersama Kibum kembali berputar di otaknya. Bagaimanapun diantara mereka dulu pernah ada hubungan yang disebut kekasih. Kisah 2 tahun yang indah sebelum kehadiran wanita bernama Kim Taeyeon yang merusak semuanya.
Tak ingin berlama-lama menangis dalam kisah kelamnya, ia melajukan mobil itu membelah keramaian jalan kota.
“Yoong”, suara itu berhasil menghentikan langkah Yoona menuju Kamar.

EnD.
Tunggu next story nya ya….

Girls Generation “I Got A Boy”

Published Desember 21, 2012 by pyrossoneff

TeaserGG1
snsdDQ
Hay, sone udah pada lihat MV snsd yang baru release tadi 211212?.
snsdDQ1
Yeah itu adalah Dancing Queen, katanya itu lagu remake. MV nya bagus. sekali lagi kita patut ucapkan kamsahamnida for SM ent. Dimana pada tahun 2012 ini banyak banget artis nya yang debut tapi MV nya bisa dibilang hanya cukup bagus, kecuali Shinee yang Sherlock itu lumayan lah. tapi lihat MV SUJU dan F(x). itu terlalu sederhana. bukannya mau membanggakan SNSD tapi apa, yah tapi kalian tahu sendiri perbedaannya gimana. Ok, aku gak akan bahas itu. Aku mau bahas tentang comeback Girls Generation di album ke 4 yang diberi judul “I Got A Boy” bakal di release 1 Januari 2013. jadi bersabarlah menunggu. dan setau aku baru teaser Hyoyeon eonni aja nih yang baru release..
TeaserGGHyo1

TeaserGGHyo2

bonus deh ggteaser

Spring Surprise

Published Desember 21, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Lee Donghae
Ratting : PG14
Genre : Romance
Note : “Hadeuh maaf nie ff, niatnya mau suasana winter eh malah jadi kayak gini, mau ngrombak mood nya lagi gak ‘ngeuh’. Ya udah deh nikmati apa adanya sajo. Hwheheh maaf ya kalau banyak typo dan cerita nya rada absurd. Tinggalkan koment untuk referensi saya. Gomawo readers”.
nn_副本
###
Mata bening itu tiba-tiba berubah menjadi sayu. Seakan kesedihan yang ia derita begitu dalam, tetesan bening mulai mengalir dari sudut mata nya membasahi paras ayu yang Tuhan ciptakan. Sang surya mulai kembali ke peraduannya, meninggalkan manusia yang sedang sibuk mengakhiri aktifitas hari itu.
Gedung itu mulai sepi. Sementara gadis berambut gelombang nan panjang itu tak kunjung berbenah. Ia masih berdiri, terisak tanpa suara. Ia biarkan angin malam membelai wajahnya dan membuat sebagian rambut yang terurai itu mengayun bebas.
###
Truffle Salad, onion soup dan roti gandum berlapis saus mostar yang terlihat menggoda lidah tertata apik di meja no. 9 sebuah bistro pinggir Kota Paris.
“Bon Appetit”, seru Yuri.
Semua terlihat tersenyum dengan sendok garpu di tangan kanan juga kiri mereka. Semuanya segera menikmati makan malam dengan tenang. Namun, malam ini Yoona terlihat tak bersemangat. Gadis yang terkenal dengan julukan “shikshin” itu hanya makan sedikit. Bukan karena lidah Korea nya yang tak cocok dengan lidah Paris, atau apa. Tapi malam ini dia benar-benar tak mempunyai selera makan.
Usai makan, mereka berpisah. Yoona dan Seohyun kembali ke Apartement, sedangkan Yuri dan Tiffany pergi menghabiskan malam awal musim Semi di Paris.
Semenjak bersahabat di Junior High School, hubungan mereka sangat harmonis. Jarang timbul pertengkaran hebat diantara ke-empatnya. Kemanapun mereka hampir selalu bersama. Hingga masuk ke Universitas yang sama. Mereka juga memilih tinggal di Apartement yang sama dan Apartement itu terbilang kecil untuk seorang putri konglomerat seperti mereka. Hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan sepetak dapur di Apartement itu.
Yoona yang terlihat lesu tak langsung tidur setelah tiba di Apartement, melainkan duduk di balkon. Ia memandang sendu bulan yang tak nampak menunjukkan bentuknya dengan sempurna. Itu membuat Seohyun khawatir. Apalagi Yoona bukanlah tipe gadis yang mudah mengutarakan isi hatinya.
“Aku rindu sosoknya, dilain sisi aku mempertanyakan ketulusan hubungan kami Seo”.
Yoona memulai untuk bicara ketika Seohyun mulai berdiri disampingnya dan terus-terusan memandang wajah cantiknya.
“Aku memang tidak paham akan hubungan kalian, tapi mungkin jika eonni mau bercerita lebih aku bisa member solusi eon”.
“sudah satu bulan terakhir, dia belum pernah menghubungiku terlebih dahulu. Awalnya aku fikir itu tidak masalah sampai seminggu ini waktu berjalan. Dia mulai berani tak membalas e-mail dan telfonku Seo”.
Yoona menghambur kepelukan Seohyun dan mulai terisak membuat bahu sisi kanan Seohyun basah karena air matanya.
“Uljima eonni, mungkin Donghae oppa sedang sibuk dengan bisnis baru di Jeju-do. Sabarlah, aku yakin dia juga merasakan rindu sama seperti eonni merindukannya. Cinta kalian itu begitu besar eonni”.
Seohyun mengusap air mata Yoona dengan punggung tangannya. Dan Yoona pun mulai menarik senyum simpul dibibirnya.
Dengan mengenakan hoodie berwarna shapire blue dan hotpens pink ia berjalan mengitari taman. Mata coklat khas asia itu benar-benar termanjakan dengan beberapa macam bunga di taman pusat kota. Memang bukan kali pertama baginya menikmati musim semi di Paris. Hanya saja ini memang yang pertama baginya berjalan-jalan memandang hamparan bunga lavender, mawar juga bunga matahari favoritnya di Kota tersebut.
Setelah puas berkeliling, ia duduk di sebuah bangku taman. Ia mengeluarkan sebuah buku dari tas. Buku yang berisikan foto-foto dirinya dengan sang kekasih. Foto yang melukiskan perasaan setiap moment kebersamaan mereka. Mengenal dalam waktu hampir satu tahun sungguh membawa kesan yang mendalam bagi Yoona. Dalam waktu satu tahun pula ia merasakan indahnya cinta. Tiba-tiba gadis itu kembali menangis, ia kembali merindukan sosok bernama Lee Donghae. Padahal bukan kali pertama mereka tak bertemu selama satu bulan. Di musim semi lalu bahkan mereka tak bertatap muka selama 3 minggu, namun Donghae masih sempat menghubungi Yoona minimal 4 kali sehari entah itu bentuk pesan singkat, telefon atau e-mail. Berbeda dengan kali ini yang benar-benar tanpa komunikasi.
“Hapuslah air matamu Yoong”.
Yoona menatap pemilik tangan yang sudah berbaik hati mengulurkan sapu tangan untuknya. Dilihatnya Tiffany yang berdiri sambil tersenyum, senyum yang tak mampu ditolok oleh siapapun yang melihat. Tanpa di perintah gadis keturunan Amerika-Korea itu langsung duduk disamping Yoona.
Tatapannya penuh dengan mistery bagi Yoona. Dan senyum maut itu tak henti-hentinya ia pahat dengan rapi dibibir indahnya.
“ Berhenti bersedih, kau tahu mungkin saja Donghae akan sangat terluka jika tahu bidadarinya hanya menangis sepanjang hari di Kota Cinta ini”.
“Kau yakin, Donghae oppa akan berfikir seperti itu?”.
“Kenapa tidak? Dari awal kau perkenalkan kami dengannya. Aku sudah sangat yakin dia adalah tipekal pria setia. Yang hanya mampu mencintai satu gadis untuk selamanya. Dan itu kau. Im Yoona”.
Ucapan Tiffany berhasil membuat Yoona tersenyum lebar, bahkan kini terlukis semburat merah di kedua pipi gadis itu. Bagi Yoona, ucapan Tiffany adalah sugesti yang sangat mujarab untuk siapapun orang yang ia nasehati.
“Sebenarnya aku ingin kau mendengarkan ceritaku dan memberiku pertimbangan. Tapi aku tidak tega jika kau nanti menjadi panas dingin karena ceritaku”.
“hahahaha.. yang benar saja? Memang kau ingin bercerita apa eonni?”.
“Kau yakin siap mendengarkan?”.
Yoona mengangguk dengan semangat.
“Besok Hyukjae oppa datang kemari. Dia mengajakku, ani maksudku kita semua datang untuk kencan bersama”.
“Mwo? Aku tak bisa ikut. Kalian asyik, Seohyun dan Kyuhyun satu jurusan, Siwon sedang menemui klien disini. Sementara aku? Tidak aku tidak mau menjadi obat nyamuk kalian”.
“Ayolah Yoong, Hyuk oppa pasti akan marah padaku. Kenapa kau setega ini Yoong, lagi pula Hyuk membawa sahabatnya. Kau bisa jalan dengannya selagi kami sibuk dengan pasangan masing-masing”.
“Sahabatnya yeoja atau namja eon?”.
“Mollayo”.
“Aku tetap tak akan ikut Tiff eonni”.
“Ayolah Yongie”.
Berkali-kali Tiffany merayu, hingga 2 jam lamanya. Akhirnya Yoona mengangguk dengan terpaksa.
###
Para gadis itu sedang sibuk berdandan. Mereka asyik berpatut di hadapan cermin. Dan sesekali saling menanyakan pendapat masing-masing. Kecuali Yoona yang tampil seadanya. Celana jeans, kaos coklat muda ditutup dengan blazer tua. Tak lupa dengan sepatu cats hitam dan rambut terurainya.
Yuri dan Seohyun yang melihat Yoona saling bergeleng dan mendecakkan lidah.
“Yaa! Eonni, lihatlah penampilanmu mala mini. Kau ingin jalan santai atau apa huh? Itu sangat jelek”, sungut Seohyun diikuti anggukan oleh yang lain.
“Sudahlah jangan cerewet, aku sedang malas berdandan”, jawab Yoona dengan cuek.
“Aniyo, kau akan mempermalukan kami dihadapan sahabat Eunhyuk oppa!”, balas Yuri.
Akhirnya Tiffany dan Yuri menyeret Yoona untuk duduk di meja rias. Seohyun memilihkan gaun berwarna hijau tosca dengan panjang lengan ¾ dan panjang gaun 5 cm diatas lutut lalu dipadukan dengan lagging senada dengan warna kulit. Membuat Yoona nampak begitu anggun dan mempesona.
“Nah seperti ini kan terlihat cantik”, ujar ketiganya.
Sementara Yoona menarik nafas panjang lalu tersenyum begitu melihat hasil dari sahabat-sahabatnya.
Selang beberapa menit kemudian terdengar bunyi klakson mobil untuk menjemput mereka.
Begitu sampai di sebuah bistro, mereka tercengang karena keadaan bistro itu sepi. Hanya ada mereka berempat dan bistro itu terkesan romantic.
“Hallo nona cantik”, ucap seseorang.
Keempat gadis itu pun memandang kearah suara. Di meja pojok dekat jendela, terlihat Kyuhyun duduk mengenakan kemeja kotak berwarna putih merah.
“Oppa? Kemana yang lain?”.
Seohyun berjalan menuju meja calon kekasihnya. Begitu juga yang lain, mereka ikut dibelakang Seohyun.
“Mollayo, yang aku tahu dari Eunhyuk hyung, aku kemari untuk menahanmu dan Yuri disini. Karena Siwon Hyung sedang ada diperjalanan. Lalu Tiffany dan Yoona harus melangkah kelantai atas”.
“Mwo? Ya sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan?”.
Yoona membesarkan volume suaranya sambil meremas bagian ujung roknya menahan emosi.
“Sabar. Sudahlah kita turuti saja Yoong”, Ucap Tiffany.
Ia segera mengelus bahu Yoona dan menarik gadis yang sedang badmood itu untuk melangkah bersama menuju lantai 2.
Keadaan dilantai 2, cukup remang hanya ada sinar lilin di beberapa meja dan sinar rembulan dari jendela tanpa tirai. Eunhyuk yang duduk menghadap tangga, tersenyum melihat kedatangan kekasih dan sahabatnya. Tiffany membalas senyuman kekasihnya dengan lambain tangan juga smirk smile-nya yang khas. Berbeda dengan Tiffany, Yoona justru terlihat mengerutkan kening ketika melihat Eunhyuk tidak datang dengan sendiri. Dan seperti dugaannya, bahwa sahabat Eunhyuk itu adalah namja. Apa yang ia takutkan mungkin saja akan terjadi. Ia takut, walaupun Donghae sedang berada jauh darinya tapi tidak menutup kemungkinan ia tahu ia bertemu atau bisa dibilang melakukan double date dengan seorang namja. Dan akhirnya menimbulkan kesalahpahaman yang akan memperkeruh keadaan hubungannya dan Donghae.
Ketika Yoona ingin melangkah begitu saja tanpa memandang wajah sahabat Eunhyuk. Ia tersentak ketika merasakan tangan kekar memeluknya erat dari belakang. Dengan lancang orang itu meletakan wajahnya di bahu Yoona. Namun dari deru nafas yang Yoona rasakan juga dari bau parfum orang itu membuat Yoona ingin menumpahkan air matanya sekarang juga. “Oppa”, kata itu keluar begitu saja dari mulut mungilnya. Walau pelan tapi masih cukup keras untuk mereka dengar bersama.
“Hae oppa, sudah lepas dulu. Jika kalian ingin menyelesaikan masalah kalian, sebaiknya nanti saja. Tahan dulu emosi kalian hingga selesai makan malam”, ucap Tiffany sambil mengerling kearah Eunhyuk.
###
Taman itu nampak sepi, bulan bersinar begitu terang dengan sebagian awan tipis yang menutupi bentuk bulatnya. Gadis itu kekeh untuk berdiri membelakangi kekasihnya yang duduk sambil menunduk seolah ingin menenggelamkan wajahnya di waktu itu juga.
“Mianhe, mianhe”.
Lelaki itu mencoba membuka pembicaraan dengan sendu.
“Sekarang alasan apa yang ingin kau pakai? Atau tidak ada alasan sama sekali. Katakan saja jika kau sudah lelah dengan hubungan kita”.
“Mianhe, bukan seperti itu Yoong, aku benar-benar dibuat sibuk dengan pekerjaan di perusahaan baru keluarga kita”.
“Oh, begitu sibuknya kah hingga kau tak bisa membalas pesanku? Bahkan untuk mengangkat telfonku. Tak bisakah kau meluangkan waktu hanya 1 menit saja untuk kekasihmu?”.
“bukan begitu Yoong, kupikir jika aku bekerja dengan sungguh-sungguh dan lembur setiap hari, pekerjaanku akan cepat selesai dan kita cepat bertemu”.
Donghae mulai terisak. Komitmennya sebagai namja yang tak boleh menangis dihadapan wanita yang ia cintai pun runtuh seketika. Ia merasa sangat bersalah kepadakan gadis yang berdiri membelakanginya.
“Berapa kali aku katakana padamu oppa, jangan pernah memaksa menyelesaikan pekerjaan dengan cara memaksa tenagamu bekerja terlalu keras hingga tak ingat istirahat. Kau tahu, aku selalu merasa sakit jika ka uterus seperti ini”.
Yoona berjalan mendekat kearah Donghae dan berlutut mensejajarkan dirinya dengan pria yang sedang menangis itu.
“Sekali lagi aku ucapkan maaf kepadamu Yoona-ah. Aku berjanji demi kau, aku akan mulai merubah kebiasaan buruku. Dan sesibuk apapun aku akan mencoba membalas pesanmu”.
Yoona mulai tersenyum dan menghambur memeluk Donghae. Donghaepun membalas pelukan dari gadisnya.
“Setidaknya aku akan mencoba membalas pesanmu dengan singkat hanya 1 kali balasan”, lanjut donghae yang berhasil mendapat jitakan dari Yoona.
“Ya! Kau tak boleh membalas pesanku hanya sekali. Minimal harus dua kali dan dua kali telfon!”.
“hahahahah… baiklah My Princess. Sekarang kau kuantar pulang ke apartementmu”.
Merekapun saling menautkan jari jemari menuju mobil Donghae.
Keesokan harinya, Yoona bersama dengan Yuri, Tiffany dan Seohyun pergi ke kampus bersama menjalankan aktifitas mereka sebagai mahasiswi demi gelar MBA yang akan mereka raih 4 bulan lagi.
Hari ini cukup melelahkan untuk mereka karena selam 8 jam setengah harus mendengar ceramah dari sang dosen tanpa henti.
Ketika pulang, merekapun naik mobil yang bersama. Kali ini mereka menggunakan mobil Tiffany. Ketika Yoona hendak menutup pintu mobil, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan berhenti tepat di samping mobil mereka. Perlahan kaca kursi pengemudi itupun terbuka memperlihatkan wajah sang pemilik mobil.
“Oppa”, pekik Yoona.
“Yoona, turunlah. Biar aku saja yang mengantarmu pulang”.
Yoona melirik eonni-eonninya juga Seohyun untuk meminta persetujuan. Terlihat bahwa mereka mengangguk dan tersenyum tanda jika mereka member ijin. Yoona pun pindah ke mobil Donghae dan duduk dikursi sebelah Donghae menyetir.
Mobil itu terus melaju. Yoona terheran karena Donghae melajukan mobilnya buka ke jalan menuju apartement Yoona melainkan menuju menara Eiffel.
“Kenapa kita kesini”, ucap Yoona yang terlihat binggung saat mobil berhenti tak jauh dari menara Eiffel.
“Ikut saja. Kau pasti tak akan menyesal”.
Dengan pasrah Yoona mengikuti langkah Donghae menuju jembatan sungai tak jauh dari menara Eiffel. Donghae yang menyadari Yoona melangkah jauh dibelakangnya, segera menarik lengan Yoona untuk berjalan menyamakan langkah dengannya.
Sesampai di tengah jembatan. Mereka sama-sama terdiam sibuk dengan fikiran masing-masing hinggga tercipta suasana canggung diantara keduanya.
“Sekarang, eumb apa yang kau rasakan sekarang?”.
“Tentu binggung. Karena oppa bersikap begitu aneh hari ini”.
Donghae tersenyum lalu memandang Yoona yang sedang menutup mata mebiarkan udara sejuk menerpa wajahnya dan membuat scarfnya seakan akan terbang.
“Jika aku merubah rasa binggung itu menjadi haru bagaimana?”.
“Binggung menjadi haru? Hai kau sedang melucu oppa”.
“Aniyo, aku serius. Apa kau begitu tak percaya”.
“Ne. aku sedikit merasakan ragu”.
Donghae mendesah kecil sebelum menjawab tantangan Yoona dengan kata,”Baiklah akan kutunjukkan padamu”.
Dia mulai berlutut dihadapan Yoona, membiarkan Yoona yang clingukkan merasa risih atas perlakuannya yang mulai menarik perhatian orang sekitar.
Donghae terus menjalankan aksinya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna coklat emas yang berbahan bludru. Perlahan lahan ia membuka kotak itu lalu memandang Yoona.
“Yoona, would you marry me?”.
Dengan pasti Donghae mengucap kalimat itu. Sementara Yoona hanya membelalakan mata menatap kesungguhan dari Donghae yang mulai menyentuh tangannya dengan lembut.
“Ne, aku mau oppa”, balas Yoona.
Donghae sangat terkejut menengar jawabang dari Yoona. Ia segera berdiri dan memeluk Yoona erat.
END~
Akhirnya END juga. Makasih readers yang udah membaca, walaupun kalian tak meningglkan sebuah komen atau apapun untuk FF saya. Tapi tak apalah.
Sekali lagi saya ucapkan trimakasih. Dan maaf kalau banyak typo. FF ini saya tulis sambil ngantuk. Hahahahahaa..

Autumn Moment

Published Desember 14, 2012 by pyrossoneff

Cast : Lee Donghae

Im Yoona

Other cast..

Genre : romance

Ratting : PG14

Sore itu mentari membulat dengan sempurna, walau begitu tak menutup kemungkinan untuk hujan turun. Sungguh hal yang tak biasa diawal musim gugur seperti ini turun hujan lebat disebagian pusat kota.

Disebuah kedai teh, nampak empat gadis kota metropolitan sedang duduk menghabiskan waktu bersama setelah lama mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing.

Diantara keempatnya nampak Yoona yang hanya diam mendengarkan celotehan teman-temannya. Sesekali ia tersenyum malas menanggapi obrolan teman-temannya yang terdengar membosankan.

“Kalian tahu? Baru semalam Hyukjae oppa melamarku”, ucap gadis bermata  indah bernama Tiffany.

Ia berbicara sambil melebarkan senyum kehadapan teman-temannya dan sedikit memamerkan permata cantik yang terlihat sangat pas di jari manisnya.

“Benarkah, ah seangnya kau akan segera menyandang nama Ny. Lee”, timpal Yuri.

“Bukan hanya itu, aku jamin kau juga bisa hidup bahagia eonni, karena suamimu kan meneger bagian marketing di Hyundai”, sela Seohyun.

Berbeda dengan ketiga temannya yang sedang tertawa lebar, Yoona justru terlihat menghela napas panjang. “Haah”, helaan itu keluar begitu saja dari pernafasannya. Seakan ia merasakan kejenuhan yang amat mendalam mendengerkan celotehan mereka. Jika ia tak ingat mereka adalah teman dari Junior High School, ia pasti memilih menjauh dari obrolan yang teramat tak penting itu.

Seakan situasi sangat memahami perasaannya, tak berselang lama, ponsel merah jambu yang sedari tadi ia genggam pun bergetar. Melihat dari nama yang muncul dari layar ponselnya, memang bukan orang yang ia harapkan untuk menelfon tapi untuk menjaga sopan santun ia pun mengangkatnya.

“Yeobseyo appa?”

“…”

“Aku ? aku sedang berada di kedai daerah Gwangju ayah”.

“…”

“ah, tapi disini masih hujan. Tapi baiklah akan segera kuantar. Tunggu sekitar 20 menit lagi aku datang”.

Setelah menutup telfon dari sang ayah Yoona mengambil tas dan berdiri dengan canggung. Ia membungkukan badan kearah temannya sebelum melenggang pergi. Teman-temannya hanya membalas dengan senyuman dan ucapan “Hati-hati Yoona-ah” dari Yuri. Kemudian mereka pun mengganti obrolan dengan gossip.

***

Tak perlu waktu lama untuk Yoona sampai di kantor ayahnya yang berada di distrik Gwangsan-gu yang masih berada didaerah Gwangju.

Hujan masih turun walau tak sederas di pusat kota. Yoona yang lupa membawa payung memaksa menerobos rintikan hujan dan membuat bajunya basah.

“Appa ! ini dokumen yang kau tinggalkan dimobilku”.

Yoona berteriak didepan pintu kerja ayahnya, ia tak menghiraukan sopan santun yang sedari kecil diajarkan oleh wanita berkelas nan berpendidikan yang 20 tahun ini ia panggil dengan sebutan eomma.

Dan ketika membuka pintu ruangan ayahnya, ia terkejut karena bukan ayahnya yang ia dapatkan ataupun sekretaris Lee Jun Hyuk yang sangat ia kagumi melainkan seorang pemuda yang kira-kira usianya 2 atau 3 tahun dibawah sekretaris Lee.

“ Nona Im? Kenapa anda basah kuyup seperti ini?”.

Suara Sekretaris Lee membuat Yoona tersadar dari ketercengangannya. Ia pun mengerjap-ngerjapkan mata melihat sosok lelaki tadi tersenyum kearahnya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menyambar handuk yang terletak di sebuah tiyang baju pojok ruangan. Dengan lembut ia mengusap-usap kepala dan pundak Yoona agar tak kedinginan. Hal itu membuat sekretaris Lee yang sedikit mengagumi Yoona pun ikut terdiam kaku.

“Sekretaris Lee, bisakah kau meminta coklat hangat untuk putri tuan Im?”.

Lee Jun Hyuk hanya mengangguk dan pergi meninggalkan mereka, tak lupa iapun menutup pintu ruangan.

“dangsin-eun nugu ya?”, ucap Yoona dengan nada bergetar.

Lelaki itupun meletakkan handuk ditangan Yoona dan melangkah sedikit kebelakang menjauh dari Yoona.

“Mianhamnida, naneun Lee Donghae Imnida”.

“abeoji eodieseo?”.

“aah ya, Tuan Lee sedang ada urusan diluar sebentar. Aku diminta untuk menunggunya juga menunggu dokumen yang putrinya bawakan kemari”.

Yoona pun melangkah canggung memberikan dokumen yang sedari tadi ia pegang. Disaat bersamaan, Tuan Im sedang membuka pintu ruangan. Ia terkejut melihat keadaan putrinya yang setengah basah.

“Yoona-ah neo gwaenchanha?”.

Ia segera memegang pundak putrinya. Terlihat hidung Yoona mulai memerah karena ia tak tahan dingin.

“Sebaiknya kau segera pulang agar ibumu tak khawatir dan memarahiku. Biar aku pinta Jun Hyuk mengantarkanmu”.

Tuan Im melirik Jun Hyuk yang sedang meletakkan gelas coklat hangat diatas meja.

“Bagaimana jika Yoona aku yang mengantar ahjussi, lagipula dokumen ini sudah kupegang biar aku pelajari nanti malam dan kita bahas besok di rumah anda. Hitung-hitung aku menghapal jalan kerumah anda agar tidak salah jalan”.

Donghae menawarkan diri seraya tersenyum kearah Yoona.

“Apakah putriku tak akan merepotkanmu? Baiklah hati-hati. Yoona kau ikut mobil Donghae saja, biar mobilmu nanti aku suruh orang mengantarkannya”.

Yoona hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Donghae.

Hening, tak ada suara dalam mobil itu. Baik Donghae dan Yoona memilih diam, mereka bingung untuk memulai obrolan. Tapi selama perjalanan Yoona terlihat sesekali mencuri pandang kearah Donghae yang sedang focus menyetir.

Pria ini terlihat begitu tampan jika dilihat-lihat. Rahangnya yang tegas, model rambutnya yang update layaknya gaya boyband, style nya yang santai penuh kewibawaan, sikapnya yang tenang membuat ia seperti layaknya cassanova.

“Apakah aku sebegitu menariknya hingga kau terus-terusan menatapku nona cantik?”.

Ucapan dari mulut Donghae membuat semburat merah dipipi Yoona terlihat jelas. Ia hanya mampu menundukkan kepala karena malu, sang pemilik raga yang sedari tadi ia perhatikan menyadari akan pandangannya.

“eumb sudahlah kau tak perlu malu”.

“ma.. malu? Untuk apa aku malu?”.

Yoona pura-pura merajuk membuat beberapa kerutan didahi manisnya dan sedikit mengembung dibagian pipinya.

“Kau sungguh terlihat manis jika sedang seperti ini Nona Im”.

“Donghae-ssi berhentilah menggodaku !”.

“Aku? Aku berkata jujur karena sebenarnya aku tak bisa menggoda gadis secantik dirimu”, ucap Donghae sambil terkikik.

“aish~ kau ini”.

Yoona pun mulai menggelitiki lengan Donghae, dan membuat Donghae mengglinjang. Kemudian merekapun kembali terdiam. Tiba-tiba, “Kruk Kruyuk”. Terdengar jelas perut Yoona mulai berbunyi. 1, 2, 3 detik hingga terdengar tawa dari keduanya.

“Jadi dari tadi kau menahan lapar?”

“memangnya gadis sepertiku dilarang lapar?”

“baiklah, mungkin tidak akan berbahaya jika kita mampir untuk makan sebentar”.

***

Dari makan bersama waktu itu, acara makan bersama pun terus berlanjut. Seperti saat ini, Yoona sedang berkutat dihadapan cermin. Ia begitu bingung memilih beberapa gaun yang kemarin ia beli bersama Krystal adiknya. Memang dia dan Donghae sudah biasa makan malam diluar tapi malam ini terasa beda untuknya.

“Aduh lihatlah eonni, eomma dia terliahat begitu mengenaskan. Padahal 2 jam lagi Donghae oppa akan menjemputnya tapi ia tak kunjung selesai juga memilih gaun”, cibir Krystal sambil memeluk Ny. Im yang sedang menjadi juri untuk Yoona memilih gaun.

“sudahlah Krys, berhenti menggoda eonnimu dan cepat bantu dia”.

“Aniyo, bukankah dia gadis jurusan designer, harusnya dia lebih paham daripada aku yang mengambil jurusan marketing”.

“aish~ adik macam apa kau, berani bergembira dihadapan eonnimu yang sedang gugup?”.

“Ya baiklah, kenapa kau tak mencoba mengenakan gaun ini? itu terlihat cocok dengan kepribadianmu yang setengah tomboy dan cuek”.

Krystal menyerahkan gaun berwarna putih 5 cm dibawah lutut dan tanpa lengan itu. Ada hiasan bunga sakura dibagian bawah.

“oh neomu kyeopta”,ucap Ny. Im.

Yoona mengembangkan senyumnya dihadapan adik dan ibunya lalu bergegas untuk berdandan.

10 menit sebelum jam dimana Donghae dan Yoona berjanji, terdengar suara klakson di pelataran rumah kediaman Im. Itu adalah mobil Donghae.

Yoona pun turun ke lantai bawah dan melihat Donghae sedang mengobrol dengan ayahnya.

“Abeoji, berhentilah mengganggu Donghae oppa. Malam ini dia datang untukku bukan berbisnis denganmu”.

Yoona mulai menggapit lengan Donghae seraya menandakan lelaki itu untuk berdiri.

“Aigoo~ kau menyebutnya oppa? Apakah kalian sudah menjadi sepasang kekasih”.

Cletukkan Tn. Im membuat Yoona mempoutkan bibir indahnya lalu secara perlahan mengendorkan gapitan tangannya di lengan kekar Donghae.

***

Makan malam indah yang sudah sejak kemarin Yoona bayangkan terasa semu baginya. Sejak cletukan dari ayahnya keluar, Yoona tak mengajak Donghae bicara. Sementara lelaki dihadpannya yang terlihat sedang focus dengan menu dihadapannya itu juga tak kunjung mengajaknya berbicara.

Hingga tak terasa, makanan keduanya pun habis. Donghae terlihat membersihkan bibirnya dengan tissue makan lalu membenarkan cara duduknya.

“Ehem”. Donghae berdeham seakan meminta Yoona untuk memperhatikannya. Tapi Yoona malah asyik bermain dengan sedotan dalam gelas jus cherry-nya. Membuat Donghae geram dan menggenggam tangan mungil Yoona yang mulai gemetar.

“Yoong, bisakah kau memperhatikanku?”.

Gadis itu masih terdiam dan mengangkat alis kanannya. Ia mencoba melepas tangannya yang mulai gemetar tapi tenaganya masih kalah jauh dengan Donghae.

“Kata ahjussi –ayah Yoona- kau menolak kembali ke Perancis untuk melanjutkan semester baru?”.

“Itu tak ada sangkut pautnya denganmu. Jadi kau tak perlu membantu appa untuk membujukku”.

“tapi jika ketidak inginanmu pergi karena aku, aku merasa harus bertanggung jawab”.

“Sudahlah Donghae-ssi, jangan terlalu besar kepala. Kata siapa aku tak ingin pergi karena kau? Aku hanya belum siap meninggalkan ke tiga sahabatku”.

“Sahabat? Bukankah mereka sudah kembali ke Perancis 3 hari yang lalu? Dan kemana panggilan oppa mu untukku”.

“Oppa? Kau fikir siapa hingga aku harus memanggilmu oppa?!”.

“Jadi selama ini kau tak menganggapku sebagai namja chingu?”

Yoona terdiam dan membulatkan mata menatap Donghae.

“Ciuman itu, aku menganggapnya sebagai cara untuk mengutarakan perasaanku padamu. Aku bukanlah lelaki romantis yang bisa mengatakan aku mencintaimu dengan memberikanmu bunga ditengah kita mendayungi danau seperti kebanyakan moment di drama televisi”.

Flashbak~

Gadis itu berjalan mengitari danau buatan dan melihat betapa indahnya daun-daun maple berjatuhan. Setelah beberapa jam mengitari Taman Danau Ilsan ia memilih duduk di kursi panjang yang menghadap danau. Tiba-tiba ada tangan besar nan halus yang menutupi matanya. Tak salah, tangan itu adalah milik Donghae, lelaki itu sedang menjahili Yoona.

“Oppa berhentilah bermain-main”.

“ah rupanya kau tahu ini aku?”.

Donghae pun berpindah posisi dari berdiri dibelakang Yoona menjadi duduk disampingnya. Kemudian ia menyerahkan salah satu es krim yang ia bawa untuk Yoona.

“Es krim rasa papermint? Wah ini kesukaanku. Gomawo”.

Gadis itu terlalu bahagia hingga tak sadar mengecup singkat pipi Donghae. Ini serasa special. Tapi 3 tahun menempuh pendidikan di Perancis, kecupan pipi hanya mereka anggap sebagai rasa terima kasih semata. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening hingga suapan terakhir es krim mereka habis.

Disaat Donghae menoleh kearah Yoona ia terkikik melihat sisa es krim di bibir mungil gadis yang ia cintai. Ya memang sudah sejak pertemuan pertama itu, Donghae sudah jatuh cinta kepada putri rekan bisnisnya.

“Kenapa kau tertawa oppa?”.

“Kau makan seperti balita Yoongie”.

Yoona yang sadar jika mulutnya blepotan segera mengeluarkan tissue dalam tasnya, namun segera ditahan oleh Donghae.

“Biar aku saja yang membersihkan dengan caraku sendiri Nona Im”.

Perlahan-lahan wajah keduanya mulai mendekat hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas dari keduanya. Dan sesuatu yang kenyal dan hangat menempel tepat dibibir Yoona. Dari bibir yang semula hanya menempel itu semakin lama berubah menjadi lumatan-lumatan lembut yang tak disertai dengan nafsu melainkan timbul dari rasa sayang. Inilah first kiss untuk keduanya.

Flashback end~

Yoona semakin menundukkan wajahnya, yang kemudian diangkat oleh Donghae.

“Hanya tinggal 3 semester, kau disana itu tidak lama. Kumohon jangan kecewakan orang tuamu juga aku. Jika kau terus seperti ini, kau akan membuatku terus merasa bersalah dan perkerjaanku akan berantakan”.

“Aku takut kehilanganmu, sangat takut hingga tak mampu jauh darimu dan oppa tahu itu semua karena aku sanagat mencintaimu oppa”.

“Nado saranghaeyo Yoona”.

Waktu bergulir dengan sendirinya tanpa ada yang mampu menghentikan. Tak terasa musim gugur pun akan segera berakhir. Daun maple itu semakin runtuh satu per satu. Sebuah mobil mini coper berwarna ungu berdiri tak jauh dari lapangan bandara Internasional Incheon. Walau jarak lapangaan dan tempat itu dibatasi oleh ilalang dan pagar, itu tak menyurutkan matanya untuk memandang. Sang pemilik mobil duduk  didepan mobil sambil tangannya menggenggam secangkir kopi hangat. Ia tersenyum begitu melihat pesawat yang ditumpangi sang kekasih lepas landas hingga melayang diudara.

Ia pun kembali melajukan mobil sambil mendengarkan rekaman sang kekasih didalam mobil.

“Oppa karena bujukkanmu akhirnya aku memutuskan pergi ke Perancis menyusul Tiffany, Yuri dan Seohyun. Alangkah terkejutnya aku mengetahuimu ditugaskan di perusahaan baru hasil kerjasama kita. Pasti kau dan ayah sengaja menyembunyikan kenyataan bahwa kau pindah ke Jeju-do? Tapi tak apalah selama kau mau setia. Ingat jangan macam-macam dengan gadis pantai. Simpan hatimu baik-baik seperti aku menyimpan hati ini hanya untukmu. Ingat hanya Im Yoona. Saranghae and anyeong oppa ikanku”.

Donghae semakin geli mendengar suara yang akan membuatnya gila karena rindu hingga 1,4 tahun ke depan. Ia pun semakin melajukan mobilnya dan membuat daun maple ditanah berterbangan.

The END ~

Huwaaa gimana FF ini?? masih terasa abal-abal kah???

Mohon di baca dan pendapatnya.

Nantika seri berikutnya

Marry U

Published Desember 1, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

Casts : Lee Donghae

Im Yoona

Ratting : PG16+

Note : “ hay author comeback again, mianhe author ngilang lama, habis banyak tugas dari sekolahan. Pas kemarin mau ng post ff, tapi semua FF ku kedelete. Jadi bikin lagi deh. Huh. Ya udah met baca FF baruku ini..”

Marry U

Gambar

===#===

“Cinta bukan permainan hati melainkan perasaan. Dalam cinta, hatilah yang bermain. Dalam keharmonisan suatu pernikahan, tidak hanya membutuhkan cinta, tatapi kita juga butuh komunikasi lebih dari sekedar sahabat”

Bagiku, dia lebih dari sekedar kumpulan warna dalam hidupku, mengaguminya mengajarkanku berbagai hal yang sebelumnya tak pernah kumengerti. Pertemuan dewasa inilah awal kubuka lembaran cinta bersamanya. Tanpa ia ketahui sedikitpun tentang perasaan ini.

===#===

Begitu deras hujan mengguyur kota Seoul, banjir yang terjadi di selatan kota, menyebabkan adanya peralihan jalan yang membawa dampak besar yaitu kemacetan. Terkadang hal ini sungguh menguji emosi. Seperti mini coper berwarna kuning itu yang mencoba mendesak. Sang pengemudi tak menyadari jika dari arah berlawanan telah melaju sebuah truk. Hiingga … “Jedaar!!!”. Kecelakaan itupun terjadi. Hampir tak ada yang selamat dalam kecelakaan itu kecuali satu orang. Dia gadis yang beruntung, mungkin dia adalah gadis titisan bidadari yang Tuhan kirim ke bumi. Disaat kedua orang tuanya meninggal ditempat dengan keadaan terbakar, dia hanya luka ringan dilutut kanannya serta beberapa goresan dipunggung, tentu luka punggung itu pasti akan membekas. Tapi itu tak akan bermasalah karena ini adalah Korea. Luka kulit separah apapun jika sudah dioperasi plastic pasti akan hilang tanpa bekas.

Ayahku yang seorang dokter ahli bedah dengan sigap membantu gadis itu. Sebenarnya orang tuaku sangat shock atas peristiwa itu, karena orang tua gadis itu adalah putri sahabat ayahku sejak mereka berusia 7th.

>>9tahun kemudian<<

Rumah bergaya eropa di tahun 70’an itu masih berdiri kokoh. Beberapa bulan setelah operasi berhasil, ayahku meninggal karena gangguan jantung. Ibu memutuskan pindah ke Mokpo. Tentu saja dengan gadis yang dulu kupikir penyebab kematian ayah. Aku memilih tak ikut dengan mereka dan masih tinggal bersama dengan paman Choi dan putranya.

Setelah 9 tahun kini kuputuskan untuk kembali kerumah ini. beberapa langkah dari bibir gerbang rumah, aku menghentikan langkahku.

“Donghae-ah !”.

Aku menoleh dan aku sangat terkejut, gugup juga bahagia. Wanita paruh baya yang memakai handbook itu tersenyum sambil menggeret sebuah koper. Aku sangat merindukannya. Dialah ibuku.

“Eommeoni.. itukah kau?”, aku berlari menghambur kepelukannya.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar jika ada orang lain bersembunyi dibelakang eomma. Aku tak melihat wajahnya begitu jelas karena dia menunduk. Topi coklat besarnya sangat menghalangi pandanganku.

“Eommeoni nugu?” acungku pada wanita itu sehingga dia mengangkat wajahnya.

===#===

Mwoya? dangsin-i geunyeowa gyeolhon hago sip-eo?” (apa? kau ingin menikahkan ku dengan nya?).

Ucapku tak percaya. Sungguh eomma telah klewat batas. Ku akui dia cantik tapi buatku ini terlalu mendesak.

Eomeoni, dasi gyeoljeong-eul saeng-gag hasigi balabnida, ne?”.( ibu, aku mohon pikirkan lagi keputusan anda, ya?)

Gadis itu semakin cantik saat beragyo seperti ini, dia mengerutkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya.

“ keputusanku sudah bulat. Ayah Lee dan keluarga Im pasti akan sangat setuju. Donghae-ah kau anak yang berbakti pasti mau mengabulkan permintaanku ini kan?”. *Banyangkan, ibunya Hae-ppa itu ibunya Baek Seung Jo di Playfull kiss*

Skak-matt untukku. Mana mungkin aku bisa menolak permintaan eomma jika dia sudah merengek seperti ini.

“Ne eomeoni”, ucapku lesu.

Hari demi hari terus bergulir untuk berganti bulan. Aku dan gadis pilihan eomma –Im Yoona- kini sudah menikah. Hari ini akan ada rapat penting dikantor, hingga mengharuskan ku berangkat pagi. Mobil A5 hitam mulai keluar dari garasi dan melaju ke jalanan yang masih sepi. Kulirik kaca spion di belakang sana kulihat Yoona terjatuh dengan kotak makanan dipelukannya.

Pukul 19.30 kst.

“Ini sudah malam kau tak ingin pulang Donghae-ah”, ujar Eunhyuk sahabatku.

“hmb.. ini tanggung tinggal proses edit lalu selesai, kau pulanglah dulu”.

“Baiklah, Hae ini tugas sekretarismu si Jessica, jadi jangan hanya mengerjakan tugas sekretarismu yang centil itu kau lupa rumah”.

“Ne, arasseo Hyuk”.

Menyebalkan sekali si monyet itu. Apa hanya karena punya sekretaris, kita jadi menelantarkan tugas dengan mudah. Dasar monyet tak tau tahu tanggung jawab.

Akupun melanjutkan pekerjaanku dan pulang setelah 2 jam berlalu. Saat aku pulang, rumah begitu sepi dan lampu belum ada yang dimatikan. Kulihat Yoona tertidur di sofa ruang tv. Akupun mengangkat tubuh mungilnya ke kamar kami.

Sinar matahari pagi yag datang melalui celah-celah tirai jendela memaksaku mengerjapkan mata untuk membiasakan diri. Aku mencium bau sesuatu, hingga langkah ini membawaku ke lantai 1, kulihat Yoona dengan rambut digelung memakai celemek sedang berkutat dengan masakannya. Tak sadar seutas senyum simpul tersungging dibibirku. Senyum itu memudar ketika dia tersenyum kepadaku.

“Donghae-ssi kau sudah bangun? Kau ingin sarapan dulu atau mandi dulu? Aku buatkan omlete dan orange milk favoritmu”.

Aku berjalan ke meja makan dan menarik salah satu bangku.

“Kau yakin aku tak akan masuk rumah sakit karena masakanmu?”.

Dia tak menjawab pertanyaanku kulihat dia mempoutkan bibir indahnya dan membuatnya semakin cantik dimataku.

“Ku rasa tidak apa-apa, ayolah makan kumohon Tn. Lee”.

Aku melirik jam sesaat sebelum mengambil garpu ternyata 15 menit lagi akan ada tamu penting di kantor, jika aku sarapan pasti akan telat. Jadi aku memilih mandi dan langsung berangkat tanpa menyentuh masakan Yoona.

Thank you. I hope our cooperation work well Mr. Takuyasi”.

Belum sempat Tn. Takuyasi beranjak dari tempat duduk, pintu ruangan sudah terbuka. Ku lihat nampak ekspresi terkejut terlukis diwajah Yoona.

“Ah.. mianheyo mianheyo. Kupikir ini jam istirahat makan siang”, ucap Yoona sambil mengusap tengkuk dan menyembunyikan Sesutu dibalik punggungnya.

Mr. Lee, who she is?”.

Aku terperanga mendengar pertanyaan Mr. Takuyasi client ku dari Jepang. Aku menatap Yoona yang sedang menunduk. Tiba-tiba Eunhyuk menyikut lenganku dan membuatku kembali kedalam realita kehidupan. Akupun melangkah kearah Yoona yang masih terpaku. Segera kurangkul dia. Dan dengan lantang aku berkata,”She is my Wife”.

Aku tersenyum kearahnya. Kulihat semburat merah dipipinya. Sepertinya dia sangat terkejut dengan ucapanku.

“You’re married? Well sometime you must invite your wife to dinner with us. Bye Mr. Lee and Mrs. Lee”.

===#===

Aku menatap langit, mala mini benar-benar gelap tanpa satu pun bintang di langit sana. Aku merasakan ada sepasang mata yang sedang mengamatiku hingga aku tergerak untuk melihat orang itu. Yoona melangkah menjauhiku, tapi secepat mungkin aku menarik lengannya hingga ia terhenti.

“Aku hanya ingin minta maaf soal tadi. Aku begitu mengkhawatirkanmu karena semenjak kita menikah kau tak pernah menyempatkan diri untuk sarapan”.

Lagi-lagi seulas senyum tersungging dibibirku. Jantungku berdegup lebih kencang mendengar ia mengkhawatirkanku. Namun sekali lagi tak ada keberanian dalam diri ini untuk menunjukkannya. Hanya elusan di puncak kepalanya.

“tidurlah, jangan berjalan-jalan ditengah malam”, ucapku berjalan meninggalkannya.

Tak terasa sudah satu tahun kami menikah. Hari ini tidak ada kerjaan dikantor dan membuatku seharian duduk bersila di depan tv. Hari ini Yoona pun tak ada jadwal di kampus.

Triing..

Bel rumah kami berbunyi. Yoona yang masih menggunakan celemek berlari kearah pintu.

“Eomeoni !!”, teriak Yoona.

Aku terperanjat dan ikut menghampiri Yoona yang sedang membuka pintu.

“ Aigoo putri eomma, ada apa dengan penampilanmu sayang?”.

Eoma mengelus kepala Yoona lalu menjitak kepalaku.

“Yak babo kenapa kau hanya diam? Bawa tasku ini”, ucap eomma berlenggang pergi merangkul Yoona.

“Yak eomma sebenarnya siapa anakmu Yoona atau aku?”.

Aku mempoutkan bibir seraya menekuk tanganku bersilang didepan dada. Aku melirik mereka. Yoona sedikit terkik melihat tingkahku. Sementara eomma tak menganggapku  malah berjalan kearah dapur. Aku dan Yoona pun mengikuti wanita yang melahirkan dan membesarkanku itu.

“Kau membuat kimchi ini sendiri? Sementara Donghae hanya menonton televisi tanpa membantu? Yak Lee Donghae suami macam apa kau?”.

Sekali lagi eomma memukul lenganku.

“Ini bukan salah Donghae eomma, kumohon hentikan”.

Ucapan Yoona membuat eomma berhenti. Aku pun meringis kesakitan.

Keesokan harinya..

Aku sedang sibuk dengan pekerjaannku. Padahal ini hampir jam 8 malam. Tiba-tiba ponsel yang sedari tadi kutaruh begitu saj itupun berbunyi.

From : Eomma

Hae-ah aku menemui masalah dan ini sedikit rumit bisakah kau datang ke taman dekat kota. Dan jangan beri tahu Yoona, aku tak ingin dia cemas

Aku menggerutu, disaat aku sedang sibuk seperti ini justru eomma mengganguku. Tanpa piker panjang aku mengambil jasku dan segera berlari kemobil. Aku mengendarai dengan gusar.

Tak jauh dari tempatku aku melihat sosok wanita dengan rambut panjang terurai mengenakan gaun berwarna putih panjang dengan pita hitam mengitari pinggangnya.

“Im Yoona”, kata itu lah yang muncul dari mulutku dan membuat dia menoleh.

“Donghae-ssi, di dimana eomeoni?”.

Aku terdiam, rasanya aku tak bisa berpikir jernih memandang paras cantiknya. Lamunanku menghilang ketika sesosok pria mendekatiku ia menggenggam sebuket bungan matahari dan surat di tangan kanannya. Ia memberikan itu kepadaku.

Donghae nikmati candle light dinner dengan istrimu.

Buatlah malam 1th penrnikahan kalian dengan bahagia.

From : eomma ^.^

Aku tak menyadari sejak kapan jarak kami sedekat ini. selesai membaca surat dari eomma aku berdeham untuk menghilangkan rasa canggung.

“Mianhe. Seandainya aku tahu rencana eomma seperti ini dari awal aku pasti tak akan datang”.

Yoona menaikkan gaunnya dan berjalan melewatiku. Aku menahan tangannya dan menariknya agar posisi kami berhadapan. Aku memandangi setiap inchi dari diri istriku seperti keinginan yang satu tahun ku harapkan.

“Waeyo? Ada apa denganmu Donghae-ssi?”.

Aku sadar ia mulai tegang dari cara berbicaranya ia pun seperti menahan rasa takut.

“Bisakah kau memanggilku oppa atau yeobo Yong?”

“Mwo? U.. untuk apa? Bukankah”.

Kuletakan jari telunjukku tepat dibibirnya tanda agar dia diam.

“Mianhe aku tak bisa menjadi pria yang dapat membahagiakanmu. Bahkan aku terlalu pengecut untuk memelukmu dan mengucapkan aku mencintaimu Yoong”.

Matanya mulai berkaca-kaca, tanpa dikomando air bening itu menetes dari sudut matanya. Segera kurengkuh ia dalam dekapku.

“Aku akan menunggumu hingga mencintaiku. Mulai mala mini berjanjilah padaku kau mau memulai semua dari awal, kita jalani hidup ini dengan cinta tak seperti hari kemarin”, lanjutku.

“Aku selalu berfikir kau membenciku itu sebabnya kau selalu menolak masakanku dan selalu bersikap angkuh dihadapanku. Dan membuat perasaanku benar-benar diuji dengan radsa bimbang. Tapi mulai malam ini dan seterusnya aku yakin bahwa aku juga mencintaimu oppa. Donghae oppa saranghaeyo”.

Aku melepaskan pelukan erat kami dan tertawa bersamanya lalu, aku mendekat kearah wajahnya dan first kiss kami pun terjadi.

END ^.^

Akhirnya bagaimana readers?? FF kacau tapi biarlah, yang penting author gembira hahaha. See you