Arsip

All posts for the month Oktober, 2012

Without Tears

Published Oktober 20, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
Im Seoloung
Lee Donghae
Other cast
Genre : Angst, romance
Ratting : PG 13
Note~ buat yang nunggu Loving you chap 2, sabar ya. Filenya aku simpen di lappy kakakku. Jadi belum sempet buat publish. Eh ini malah ngpost Judul FF baru. Moga aja crita dengan cast Yoonhae mulu ini ga bikin bosen readers.. Ok silahkan baca

*****
Without Tears

Sunyi, seperti tak ada semangat kehidupan lagi didunia ini. Dunia yang sangat menyakitkan bagiku. Tentu tak semua hal yang Tuhan ciptakan untuk makhluknya adalah hal yang menyakitkan, dibalik semuanya pasti terdapat kebahagian. Setidaknya kebahagian itu aku miliki walau hambar jika dirasakan. Tapi aku tak menyesal dengan apa yang Tuhan hadiahkan untuk menemaniku di bumi ini.

Sebuket bunga lili aku genggam dengan erat. Menatap hal didepanku ini membuat seluruh persendianku terasa mati. Perlahan aku meletakkan bunga ini diatas pusara. Ya inilah pusara mendiang ibuku. Wanita yang sangat aku kagumi, aku sayangi bahkan aku anggap dia adalah ibu sekaligus sahabat terbaik yang aku miliki.

Menatapnya membuat rasa sedih dan emosi ku jatuh bersamaan bulir-bulir airmata. Seakan dunia tak ingin aku bersedih sendiri, ia kirimkan rintikan hujan meredam suara isakan setiap tangisku.

Tiba-tiba seseorang memberikan sebuah payung kepadaku. Sebuah payung cukup besar bermotif teddy bear. Sebuah kado terakhir yang eomma berikan padaku.

“bangunlah.. Kumohon jangan biarkan dirimu sakit”.

Kutoleh sumber suara yang sangat aku sukai. Dialah Donghae, Lee Donghae. Salah satu manusia yang Tuhan ciptakan yang mau ikut mewarnai setiap detik dari hembusan nafasku. Selain dia, aku masih memiliki dua chingu yang setia dari lima tahun yang lalu. Mereka adalah Yuri dan SooYoung.

*****

Aku berjalan memasuki taman menuju pintu rumahku. Samar-samar aku melihat soeorang namja paruh baya dengan warna rambutnya yang mulai memudar. Wajah tegangnya berubah seketika melihat aku berjalan dan diapun tersenyum kearah Donghae oppa yang sedang memapahku.

Sedari tadi aku belum bicara tentang diriku sendiri. Aku adalah Im Yoona, gadis 17 tahun yang memiliki namjachingu terhebat seperti Donghae oppa.

Pria yang sedari tadi berdiri diambang pintu itulah nae abeoji. Im Seoloung.

“Kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?? Kenapa kau selalu membuat cemas appa? Kenapa harus merepotkan Donghae oppamu?”, cecar appa. Aku melihat wajahnya sekilas yang sedang mengeluarkan nafas berat.

“sudahlah abeojim biarkan yeojachinguku ini istirahat dulu. Yoong, berjanji pada ayahmu bahwa kau tak kan membuatnya cemas. Dan aku pamit kembali ke kampus dulu. Nanti malam aku usahakan datang lagi”.

Aku tersenyum menatap punggung lebar kekasihku itu dan mengucap maaf pada ayah sebelum beranjak pergi ke kamarku.

Sejujurnya sikap mereka kepadaku itu sangat membuatku risih. Jika mereka berfikir aku senang atas sikap mereka, itu salah. Justru itu membuatku jengkel. Dan merasa seperti orang tidak berguna.

*****
Bel sekolah berbunyi. Aku mengikuti langkah Yuri dan SooYoung menuju kantin. Aku sedikit tertawa melihat tingkah kesal SooYoung yang sedang bergulat dengan mesin minuman kantin yang bandel. Akhirnya setelah 7menit menunggu 3 botol soda keluar dari mesin minuman itu.

Wajah gembira SooYoung berubah menjadi suram ketika datang ke meja kami.

“Yong ada apa dengan hidungmu??”.

“Aku?? Memangnya ada apa dengan hidungku?”, aku menjawab sambil menyentuh ujung hidungku. Dan aku merasa ada sesuatu yang mengalir kental dari hidungku. Aku langsung berlari ketoilet.

Aku terduduk dipojok toilet menahan rasa pusing yang amat menusuk di kepala ku dan semua yang kulihat berubah jadi gelap.

*****

Aku terbangun dari tidur panjangku. Perlahan kubiasakan mataku menangkap cahaya. Terlihat ayahku yang tertidur disofa. Dan kulihat pula Donghae oppa tidur dikursi sambil menggenggam tanganku erat kepalanya bersandar dengan ujung kasurku. Dirasa dari bau obat yang menyengat aku yakin bahwa sekarang aku berada di rumah sakit.

Tiba-tiba terdengar suara decitan dengan hati-hati pintu ruang inapku terbuka. Kulihat mereka -Yuri&SooYoung- datang membawa sebuket bunga lili dan sebuket bunga matahari.

Sejenak sikap mereka mengingatkanku dengan kejadian 3 tahun lalu. Satu minggu sebelum eomma pergi. Dia meminta appa membawakan buket bunga lili favoritnya dan buket bunga matahari untukku.

Kenangan itu membuatku semakin takut. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa suara ibu semakin dekat denganku. Batin kami serasa bergabung menjadi satu.

“Yoong”.
Lagi-lagi suara dari Donghae oppa selalu membuatku seperti kembali dari suatu tempat yang jauh. Dan aku tak sadar jika cairan bening ini telah tumpah membasahi pipiku.

“Uljima saeng”, ucap Yuri. Ia menyeka air mataku dengan ujung ibu jarinya.

Sejenak kehadiran mereka membawaku terhanyut kembali kepada diriku sendiri. Im Yoona gadis yang ceria dan bawel.

*****
Sebulan sudah berlalu. Tepat tiga hari yang lalu aku keluar dari rumah sakit. Sungguh aku tak mengerti sebenarnya penyakit apa yang kuderita. Kemarin bukanlah yang pertama melainkan ketiga kalinya aku dirawat. Dan aku berada disana tidaklah sebentar. Melainkan berbulan-bulan.

Seharian berada dikamar sungguh membuatku merasa jenuh. Tanpa sepengetahuan ayah aku keluar dari kamar menuju ruang tamu.

“Sebenarnya bagaimana perkembangan putriku?”.

“Ini tidak buruk. Tapi akan lebih baik jika tuan mengatakan yang sebenarnya”.

langkahku terhenti ketika mendengar suara ayahku dengan sesorang yang berbicara diruang tamu.

” Aku tak sanggup melihat dia bersedih. Aku juga takut kalau dia menjauh dari Donghae karena sebenarnya Donghae juga sudah tahu”.

“Tapi akan lebih menyakitkan jika nona mengetahui hal ini dari orang lain”.

Entah dapat kekuatan darimana. mendengar pembicaraan mereka membuatku semakin ingin tahu apa yang terjadi. Tanpa dikomando kakiku terus melangkah kea rah sumber suara. Kudapati benar-benar ayahku yang sedang bicara dengan dokter Han.

“ Ada apa ini? appa waeyo?”.

Mereka terdiam. Bahkan aku melihat appa memberi isyarat kepada Dokter Han untuk segera pergi. Benar saja dia segera pergi setelah membungkuk padaku.

“Katakan padaku, sebenarnya ada apa denganku? Apa yang appa dan Donghae oppa ketahui?!”.

Aku mulai terisak, rasanya sakit mengetahui seseorang yang kita sayangi berani menutupi sebuah kenyataan yang seharusnya kita ketahui. Ayah masih terdiam melihatku terisak. Tubuhku terasa lemas, perlahan-lahan aku seperti kehilangan nyawaku. Aku seperti ingin terjatuh jika saja tangan itu tak menopangku. Hangat pelukan yang selalu ia berikan padaku berhasil meredam emosiku, namun tak mampu menahan air mata yang semakin deras mengalir.

“Jangan begini, kumohon hentikan. Aku yakin kau akan baik-baik saja, semua tak akan pernah berhenti. Percayalah padaku my love”.

Perkataannya sungguh membuat hatiku bergetar. Dia berbicara seolah-olah dia yakin aku akan selalu bersamanya. Tapi entah kenapa hatiku berkata bahwa dia tidak boleh terlalu mencintaiku tapi aku tak ingin dia melepasku dan pergi untuk gadis lain.

****

Hari demi hari telah berganti menjadi minggu, minggu demi minggu telah kulewati. Ini sudah 7 bulan lamanya. Aku semakin sering merasa lelah, tubuhku lebih sering berkringat. Bahkan tanpa sepengetahuan appa dan yang lain, akhir-akhir ini aku sering mengeluarkan darah pada hidungku juga disetiap batukku. Bahkan sudah 3 bulan ini appa merekomendasikan aku untuk ikut home schooling.

Hari ini cuaca mendung, aku, Yuri dan SooYoung sedang berkumpul disebuah kafe favoritku. Sudah kesembilan dalam bulan ini aku mengajak mereka kemari. Disini suasana tenang, sejuk dan makanannya juga enak.

“Wah Yoong, 1 bulan lagi kau dan Donghae oppa merayakan 3th anniversary. Apa yang ingin kau lakukan??”, ucap SooYoung memecah keheningan. Kulihat Yuri ikut mengangguk.

“Pergi, aku ingin memintanya menemaniku ke Jeju seminggu sebelum hari itu”.

Entah kenapa, jawabanku membuat Yuri menitihkan air mata. Dengan lembut dia mengusap punggungku. Aku semakin tak mengerti sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku.

“Hai, kenapa kau menangis eon?”.

“Aniyo, kau harus janji di perayaan keempat yang kami buat kau harus hadir”.

“Ada apa denganmu? Jangan marah hanya karena tahun ini aku tak membeiarkan kalian ikut”.

Disela-sela obrolan kami, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menutup mataku. Segera kutebak bahwa itu Donghae oppa, ternyata benar. Dia pun duduk di sebelahku menggeser posisi Yuri eonni.

“ Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya sangat seru”.

“Ambillah cuti oppa, aku ingin kita pergi ke Jeju aku ingin melihat kebun bunga disana”.

“ Kenapa harus mendadak?”, tanya Donghae oppa.

“ Tidak mendadak, aku hanya ingin menghabiskan waktu hanya denganmu”.

“ Menghabiskan waktu?”.

“Ne”.

“Baiklah kita berangkat minggu depan”.

*****

Aku sudah siap menunggu namjachinguku yang sedang mengobrol dengan appaku didalam kamar. Selagi aku menunggu mereka, aku memutuskan melihat-lihat sebuah kamar yang berisi barang-barang kesayangan eomma. Kamar ini aku yang meminta appa membuatnya karena aku tak mau barang eomma diletakkan digudang. Tiba-tiba sebuah surat yang ditaruh di atas meja kamar sangat menarik perhatianku.

“Yoong, sedang apa kau disini? Ayo berangkat Donghae menunggumu diluar”.

“Ne appa, tunggu sebentar”.

Sepanjang perjalanan aku terdiam menatap ratusan meter ladang bunga matahari. Hingga tak terasa mobil sport hitam yang kunaiki sudah berhenti di sebuah villa milik ayahku.

“Sampai kapan kau memilih melamun nyonya Lee, kita sudah sampai”.

“Yak !! ikan pervert aku masih noona Im belum nyonya Lee”.

Aku mengembungkan pipi mencoba menggodanya dengan berpura-pura marah. Padahal sejujurnya aku sangat menyukai panggilan Nyonya Lee darinya untukku.

“Yak chagi, jangan marah dong. Aku kan benar nanti jika kau sudah kunikahi kau kan berubah jadi Nyonya Lee”.

“aku tidak akan menikah denganmu Lee pervert!”, ucapku sambil berlari kedalam villa. Ternyata dia mengejarku. Akupun berlari untuk menghindarinya. Namun tak lama akupun terbatuk. Lagi-lagi ini bukan batuk biasa. Ada darah yang ikut keluar. Donghae oppa segera berhenti mengejarku. Ia mendekat dan menunjukkan wajah cemasnya.

“Kau baik-baik saja? Obat yang abeojim bawakan kau taruh dimana? Biar kuambilkan air untuk membantumu minum obat itu”.

Ia berjalan mendekati kotak obatku namun segera kucegah. Kugenggam erat lengannya sambil tersenyum manis.

“Tidak usah tuan Lee. Ini hanya perlu kau bersihkan dengan tissue seperti ini”.

Aku mengajarkannya mengelap sisa darah disekitar bibirku. Sesaat suasana berubah jadi hening, menyebabkan kecanggungan diantara kami. Aku tertunduk sambil menahan isak tangis. Dia mengangkat daguku, lalu

Chu~

Aku kaget ternyata dia malah menciumku. Aku hanya membalas ciumannya sebentar tak lebih dari 3 menit.

“ Jangan bodoh, minum obatmu lalu istirahat”, ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Aku pun mengangguk dan tersenyum melihat tingkahnya yang lucu.

Keesokan harinya.

Aku berjalan kearah pantai. Tak ada Donghae oppa yang menemaniku. Sungguh sebenarnya aku kecewa kepada dia dan appa termasuk kedua sahabatku yang selama ini menyembunyikan penyakitku. Aku tahu dari surat yang kutemukan kemarin. Disana tertulis jelas aku mengidap leukemia akut. Kalian tahu bagaimana rasa hatiku saat itu?. Itu jauh lebih menyakitkan dari sekedar terkena sengatan petir. Aku ingin sekali membentak Tuhan jika bisa. Dia terlalu kejam menghadiahkanku sebuah penyakit yang sama membuat eomma meninggalkanku. Meninggalkan gadis 13 tahun yang masih membutuhkan perhatian seorang eomma, seorang gadis yang mulai menginjak usia dewasa. Tapi semua itu aku urungkan. Jika diteliti lebih dalam pasti tujuan mereka baik. Mereka hanya tak ingin melihatku bersedih. Akupun memilih diam tak memberitahu mereka jika aku sudah tau semuanya. Aku mencoba tersenyum seperti yang mereka inginkan.

Aku melangkah semakin jauh spertinya aku berdiri sangat dekat dengan bibir pantai. Lalu seseorang menarikku hingga aku terjatuh dipangkuannya.

“Yak apa yang kau lakukan?!”, teriaknya.

Dialah namjachingu yang sangat setia mencintaiku.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih banyak atas segalanya kau adalah malaikatku Lee Donghae. Maafkan aku membiarkanmu kesulitan dan merasa lelah berdiri disampingku. Terima kasih kau sudah memberiku harapan yang besar hingga aku bisa bertahan sampai hari ini”, aku menangis dipelukannya. Aku melarangnya menghapus darah yang tak hentinya keluar dihidungku.

“Uljima, maaf aku tak bisa jujur Yoong, bertahanlah aku mencintaimu. Uljima”.

“aku menangis bahagia bodoh!!. Aku sangat senang mengetahuimu hanya tersenyum untukku diwaktu yang lama. Walau duniaku sudah berakhir percayalah aku akan selalu bersamamu. Selama ini aku tak bisa mengatakan apapun untukmu, tapi sekarang aku bisa memberitahumu bahwa cintaku hanyalah untukmu. Sampaikan pada abeojim bahwa ibu dan aku harus pergi dahulu karena kami menyayanginya”.

Aku tak kuat rasanya detak jantungku melemah disaat aku masih tersenyum. Hanya sebuah jeritan yang terdengar seperti doa seseorang kepada Tuhan. Dia meminta Tuhan agar aku diperbolehkan menemaninya didunia. Hanya suara isak yang kudengar sebelum pandanganku berubah menjadi cahaya hitam

*****

Aku tersenyum. Kulihat semua orang yang pernah kucintai sedang menangis diatas sebuah pusara. Dan entah sejak kapan eomma sudah berdiri sambil memeluk pundakku erat.

“Biarkan mereka sementara ini larut dalam kesedihan. Kau sudah tak ada hubungan dengan mereka. Biar sang waktu yang menghapus kenanganmu dengan mereka. Sekarang pulanglah”, ucap eomma ikut tersenyum.

“ne eomma”.

Kami berjalan beriringan meninggalkan mereka.

*END*

Akhirnya selesai, mian ceritanya jelek. Terima kasih untuk yang sudah mau membaca ff gak karuan bikinan saya. *Bow. maaf kata-katanya masih hancur

I Never Imagined (Drable ver.)

Published Oktober 18, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros
Cast : Im Yoona
         Lee Donghae
         Yoon Seung Ah
Genre : Angst.
Ratting : G
Note : ini FF baru author. Sebelumnya author ucapin trima kasihh atas komen yang readers tinggalin. Buat Loving Yoh chap 2, sabar ya.. Dan silahkan nikmati ff baru ini !

image

==_==
I Never Imagined

Beratus lembar tissue berserakan memenuhi sebuah ruangan. Ruang yang sunyi, gelap dan sangat berantakan. Samar-samar, terdengar isak tangis yang berasal dari sudut ruangan.

-I Never Imagined-

Detik detik membawa jatuhnya embun ke permukaan tanah yang coklat, kicau burung gelatik menyambut pagi yang cerah berawan.

Seperti biasa, seorang gadis sedang sibuk mempersiapkan buku yang akan ia bawa.

Dialah Im Yoona, pemilik rumah bergaya minimalis bercat biru. Mahasiswi tingkat 4 itu terlihat sedikit panik mempersiapkan buku yang akan dibawa.

Pukul 07.00. Deru mobil membawa kebisingan didepan rumah gadis cantik itu. Tak butuh lama sang pemilik rumah pun keluar rumah dan masuk kedalam mobil.

“Trima kasih sudah mau menjemputku oppa”, ucapnya dengan menggigit roti nanas yang ia jadikan bekal.

“Ini sebagai hadiah karena kemarin aku tak bisa mengantarmu datang ke pesta Seohyun”, jawab si pengemudi mobil.

” Jika kemarin tak bisa, bisakah besok malam kita dinner diluar?”, tanya Yoona.

Hening tak ada jawaban dari lawan bicaranya hingga gadis itu sedikit mengguncang bahunya.

” Yak!! Hentikan Im Yoona !”, jawabnya.

Yoona tersentak mendengar bentakan dari seseorong yang sudah menemani hari-harinya selama lebih dari empat tahun ini.

“oppa, Donghae oppa,, ka kau membentakku?”.

Ciit…
Gesekan yang timbul dari roda dan jalanan itu memekakan telinga. Namjachingu Yoona yang disebut Donghae itu mengerem mobilnya secara mendadak.

“Maaf. Maafkan oppa Yoong,, aku….”.
Bicaranya dipotong oleh Yoona sebelum dia selesai bicara.

“Kupikir kau butuh waktu sendiri. Aku turun disini saja. Jangan hubungi aku jika kau masih meredam emosi”.

-I Never Imagined-

Aku sudah tak bisa untuk menangis
Aku sudah tak bisa berkata
Kau buat hatiku membeku
Hidup tanpa membuatku merasakan nestapa…..

Satu minggu berlalu dengan cepatnya. Donghae sama sekali belum menghubungi Yoona. Sudah puluhan pesan yang gadis itu kirimkan namun tak pernah terjawab.

Langit begitu gelap. Seperti melarang orang-orang beranjam dari peraduannya, matahari yang biasa hadir membawa terik cahayanya, siang ini sama sekali tak menampakkan diri.

Yoona bertekad datang ke kantor tempat Donghae mengabdikan diri sebagai meneger pemasaran.

Sepanjang perjalanan menuju ruang Donghae, sudah lebih dari tiga kali dia mendengar anak buah Donghae sedang menggunjing Donghae.

Hatinya semakin terpuruk mendengar bisikan dari seorang OB kantor itu.

“Kudengar Tn. Kang itu adalah pegawai yang disiplin, dia tak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Tapi hanya karena tak sengaja ia membuat Nona Yoon tersinggung, Lee sajangnim jadi memecatnya. Sebenarnya apa hubungan mereka berdua??”, bisik salah satu OB.

-I Never Imagined-

Disalah satu ruangan yang ada di sebuah gedung perkantoran megah terdengar suara gemuruh seperti perdebatan beberapa anak manusia yang bisa dibilang cukup dewasa.

“Sampai kapan kau akan menyembunyikan ku?? Apakah menurutmu dia lebih cantik dariku atau kau hanya memanfaatkan kepolosan gadis 21 tahun itu?!”, ucap seorang yeoja.

“Diamlah! Aku tak mungkin semudah itu mengakhiri hubungan ini. Aku mencintainya”, teriak sang namja.

“Bukankah kau bilang sayang padaku?? Aku tak akan sudi melepasmu untuk gadis jalang sepertinya. Kau hanya boleh bersamaku Lee DongHae!”,jawab sang yeoja.

Braak!!!
Yoona menggebrak pintu dengan kasar. Donghae yang sadar jika ada Yoona langsung berlari mengahampiri gadis namun, ditahan oleh Yoon Seung Ah.

“Kau disini gadis jalang?? Apakah ingin melihat ini?”, ucap Seung Ah sambil menarik tengkuk Donghae.

Dia mencium bibir Donghae dengan kasar dan diselimuti penuh nafsu.

Donghae mencoba menolak ciuman yang membuat gadis yang ia cintai itu terluka, tapi Seung Ah menggigit bibir bawah Donghae, membuat namja itu kalah.

Yoona berlari keluar gedung sambil mengusap setiap gulir airmatanya.

Tiba-tiba hujan turun begitu deras, lalu  seseorang dengan kasar menahan tangan kirinya membuat langkahnya terhenti.

Ia tercekat ketika mengetahui Donghae yang menahannya.

” maafkan aku Yong, jebal mianhe”.

“hhentikan, hentikan sampai disini oppa. Aku sadar aku bukan gadis yang baik untukmu. Bahkan empat tahun ini kita lewati bersama tanpa sebuah ciuman. Aku menyerah oppa. Lupakanlah kenangan kita”.

Gadis itu berlari menerjang derasnya hujan yang mengalir. Ia tak menghiraukan Donghae yang terus meneriaki namanya.

Malam mulai menjelang. Gadis igu masih bersedih tak menghiraukan keadaan rumah yang gelap. Ia membuang ratusan tissue untuk menyeka air matanya. Masih dengan keadaan basah karena hujan, ia duduk di tingkatan tangga rumah sambil menangis.
*END
Terima kasih buat yang udah mau baca, maaf ceritanya gak bagus. Don’t forget untuk tinggalkan jejak

Author NEW

Published Oktober 16, 2012 by pyrossoneff

Hai readers, aku ucapin trima kasih buat good readers yang udah ninggalin jejak di wp ini. Yang silent readers aku ucapin trima kasih juga udah mau mampir.
jika wp ini sudah banyak pengunjungnya. Author bakalan membuka pencarian author baru. Yang minat koment dulu ya.. Kalau banyak nanti aku kasih persyaratannya.
Gomawo ^^

Loving You

Published Oktober 14, 2012 by pyrossoneff

Author : MinGi_Pyros

Cast : Im Yoona

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Im Seolung

Genre : romance, AU, Married Life

Ratting : PG 13

Note : hai,, aku bikin FF super Gaje  lagi nieh… buat ngilangin stress karna ulangan dan tugas di sekolah. Hehehe.. bingung mau ngomong apa lagi, mungkin ini akan jadi chapter atau twoshoot-threeshot, tergantung jadwal dan mood yah. SELAMAT READING, DON’T FORGET TO RCL,, !!!!

Baca selengkapnya →